Swedia: Israel Harus Berhenti Mengadu Domba Uni Eropa

Written By Juhernaidi on Sabtu, 21 Mei 2011 | 9:48:00 AM

Menteri Luar Negeri Swiss, Carl Bildt, mengusung sebuah kursi dalam sebuah sidang Uni Eropa di Brussels pada 17 November 2009. (Berita SuaraMedia)
BERN  – Menteri Luar Negeri Swiss, Carl Bildt, pada hari Kamis lalu mengatakan bahwa Israel harus berhenti melontarkan kritikan terhadap Swedia pasca inisiatif Swedia agar Uni Eropa mengakui Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina merdeka.
Bildt menambahkan, Israel harus berhenti melakukan politik adu domba terhadap 27 negara Eropa. Ia mengatakan bahwa blok Eropa tersebut tetap memiliki satu pendapat mengenai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Beberapa waktu yang lalu, Uni Eropa mengadopsi resolusi baru mengenai status Yerusalem. Hal tersebut langsung memantik reaksi keras dari Israel, yang mencaplok sisi timur  dari kota tersebut dalam perang enam hari yang berlangsung pada tahun 1967 lalu.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, pernyataan Uni Eropa mengenai status kota Yerusalem jauh lebih lunak jika dibandingkan dengan draf awal yang diajukan oleh Swedia. Israel menganggap resolusi tersebut sebagai sebuah bukti "kegagalan" negara Skandinavia tersebut dalam posisinya sebagai presiden bergilir Uni Eropa.

"Dalam beberapa bulan terakhir, Swedia belum melakukan apa-apa untuk memperbaiki proses perdamaian Timur Tengah," kata seorang staf Kementerian Luar Negeri Israel. "Satu-satunya hal yang "menyelamatkan" Uni Eropa adalah, sebagian anggotanya yang bertanggungjawab dan moderat tidak mendukung draf yang diajukan Swedia, yang terlihat mirip dengan posisi Fatah dalam konferensi Betlehem.

Minggu lalu, Swedia mempresentasikan sebuah draf dokumen yang mendukung pembagian Yerusalem dan menyebut Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina merdeka.

"Proses perdamaian di Timur Tengah tidak sama dengan perabot rumah tangga buatan IKEA," kata seorang staf Kementerian Luar Negeri, merujuk kepada jaringan produsen furnitur asal Swedia. "(Proses perdamaian Timur Tengah) membutuhkan lebih dari sekedar martil dan sekrup, diperlukan pemahaman mengenai kendala dan sensitivitas dari kedua kubu, dan Swedia telah gagal dalam hal itu."

Seorang staf senior kementerian mengatakan bahwa Uni Eropa telah "terselamatkan" karena tindakan sekmerusak hubungan Israel dengan Uni Eropelompok negara, karena jika keputusan berbeda yang diambil, maka hal itu akan a, dan akan menghalangi Uni Eropa untuk menjadi mitra penting dalam proses perdamaian Timur Tengah.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel mengeluarkan tanggapan resmi terhadap pernyataan Uni Eropa tersebut. Pihak kementerian mengatakan, "Uni Eropa mengabaikan "penghalang utama" untuk mencapai sebuah resolusi antara Israel dan Palestina, yaitu penolakan Palestina untuk kembali duduk di meja perundingan."

Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, menyampaikan ucapan terima kasih terhadap Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini, atas upaya Italia yang mengecam upaya Swedia untuk menyebut Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina.

Sementara itu, ketua dewan urusan luar negeri Mesir, Abdul Rauf El Ridi, mengatakan bahwa keputusan Uni Eropa yang menyebut Yerusalem sebagai ibukota dua negara adalah hal yang penting.

Ridi mengatakan, "Keputusan ini adalah sebuah langkah positif yang harus dilanjutkan karena sejalan dengan tujuan perdamaian. Komunitas internasional harus mendukung upaya Eropa ini, ada kesamaan suara antara Eropa dan Amerika, khususnya mengenai seruan pemerintah AS untuk mendapatkan sebuah solusi dua negara."
Ia mengatakan bahwa Mesir memuji upaya pemerintah Swedia, yang menjabat sebagai presiden bergilir Uni Eropa. "Swedia telah melakukan upaya-upaya besar yang memungkinkan inisiatif tercapainya resolusi yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina merdeka."

Simulasi Jangka Sorong