
Uskup Besar tersebut juga menambahkan bahwa "trah politik" terlalu
menjaga jarak terhadap apa yang menjadi kekhawatiran banyak orang, yang
masih sangat religius. Dalam wawancara yang dilakukannya menjelang
perayaan Natal, dia menyerukan kepada para menteri untuk lebih terbuka
dan bersedia berbicara mengenai keyakinan mereka sendiri.
Kepada The Daily Telegraph, Dr. Williams mengatakan,
"Yang menjadi masalah dengan banyaknya inisiatif pemerintah mengenai
keyakinan Krsiten adalah, mereka menganggap hal itu sebagai masalah.
Bahwa keyakinan adalah sebuah hal yang eksentrik, dipraktikkan oleh
orang-orang aneh, orang asing, dan kaum minoritas."
"Akibatnya adalah denormalisasi keyakinan, meningkatkan persepsi
bahwa keyakinan bukan merupakan bagian dari aliran darah kita. Dan
itulah yang terjadi dalam berbagai aspek di negara ini."
Komentar tersebut berpotensi kembali menghidupkan perseteruan publik
antara Gereja Inggris dan Partai Buruh mengenai perlakuan pemerintahn
terhadap kelompok-kelompok keagamaan. Seorang anggota kabinet Inggris
baru-baru ini dipaksa untuk menyangkal bahwa ada "konspirasi sekuler"
untuk membungkam mereka.
Klaim Uskup Besar – bahwa keyakinan hanya dipandang sebagai sesuatu
untuk kaum minoritas – tersebut dinilai mirip dengan sejumlah laporan
yang didukung oleh gereja, yang menuding bahwa pemerintah Inggris telah
berlaku "munafik" terhadap para pemeluk Kristen dan "mencurahkan fokus
secara intens" terhadap umat Muslim.
Ketika ditanya apakah para pemimpin politik seharusnya bersikap
terbuka terhadap keyakinan agama mereka, Uskup B esar tersebut menjawab:
"Saya rasa hal itu tidak akan menyakiti siapapun. Saya rasa, hal itu
seolah mengatakan, Inilah sumber motivasi saya, saya berkecimpung dalam
kancah politik karena inilah yang saya yakini. Dan pendirian religius
termasuk di dalamnya."
Meskipun ada pengaruh dari Gereja Inggris dan posisinya sebagai agama
yang berposisi mapan di negara tersebut, dalam beberapa tahun terakhir,
ada klaim yang berulang-ulang dilontarkan yang menuding Partai Buruh
telah berupaya menjauhkan keyakinan dari ranah publik.
Rasa takut terhadap semakin banyaknya tindak kekerasan membuat
pemerintah mengucurka lebih dari £50 juta dalam proyek-proyek yang
ditujukan untuk mencegah radikalisasi di dalam tempat-tempat ibadah.
Uskup Besar tersebut mengklaim bahwa pemerintah Inggris hanya
memandang agama sebagai masalah didukung oleh Pendeta Stephen Lowe,
mantan Uskup Urban Life. Dia berkata: "Agama dipandang sebagai masalah
karena hubungan antara gerakan radikal Islam dan terorisme yang telah
menodai seluruh agama."
"Yang tampaknya terlupakan adalah kontribusi agama dalam berbagai
kegiatan sosial. Cukup jelas bahwa di dalam tubuh pemerintahan dan
partai oposisi, ada orang-orang yang memiliki keyakinan. Masalahnya, ada
hubungan antara hal yang mereka pandang sebagai keyakinan pribadi
diperbolehkan untuk meminggirkan pentingnya kontribusi komunitas
keagamaan terhadap kehidupan di negara ini."
Dalam wawancara tersebut, Uskup Besar itu mengajukan sebuah "ombudsman supermarket" untuk melindungi ekonomi pedesaan Inggris
Bagai mana menurut anda...................?