Saif
al-Arab Gaddafi, putra bungsu dari pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dan
tiga cucu Gaddafi telah tewas dalam serangan udara NATO.
"Rumah Saif al-Arab Gaddafi diserang malam ini dengan kekuatan penuh.
Pemimpin dengan istrinya ada di rumah dengan teman lain dan
keluarganya," kata juru bicara pemerintah Libya Ibrahim Mussa kepada
wartawan pada konferensi pers di Tripoli pada hari Minggu pagi ini
(1/5), AFP melaporkan.
"Serangan mengakibatkan kematian Saif al-Arab, 29 tahun, dan tiga cucu pemimpin Libya," kata Ibrahim.
"Pemimpin sendiri (Gaddafi) dalam kondisi yang baik, ia tidak
terluka. Istrinya juga dalam kondisi yang baik, (tetapi) orang lain yang
mengalami luka-luka akibat serangan itu," tambahnya.
"Ini adalah operasi langsung yang ditujukan untuk membunuh pemimpin negara ini," katanya.
Dalam serangan tersebut, tiga ledakan besar menghantam markas Gaddafi di Tripoli pada Sabtu malam.
Serangan tembakan anti-pesawat terdengar setelah dua serangan pertama
di Bab al-Aziziya. Serangan udara itu diikuti oleh serangan serupa dari
arah yang sama, AFP melaporkan.
Serangan datang setelah pemerintah Libya menuduh NATO melakukan
pemboman terhadap anak-anak penyandang cacat di Tripoli sebelumnya pada
hari Sabtu.
Sementara itu, 13 ledakan kuat mengguncang kota pelabuhan Libya
Misratah Sabtu malam pada saat pesawat tempur NATO menyerang sasaran di
kota yang dikuasai oposisi.
Sebelumnya pada hari yang sama, Gaddafi mengatakan dia tidak akan
mengundurkan diri, tapi ia siap untuk gencatan senjata dan negosiasi,
asalkan NATO menghentikan serangan udara.
Menolak tawaran itu, NATO mengumumkan bahwa mereka hanya akan
mempertimbangkan gencatan senjata setelah pasukan Gaddafi berhenti
menyerang warga sipil.