
Organisasi tersebut memeriksa 118 buku diktat yang saat ini
dipergunakan di sekolah-sekolah Palestina, 71 di antaranya untuk para
siswa dari kelas 1 hingga kelas 12, sementara 25 di antaranya diajarkan
di berbagai sekolah keagamaan di Tepi Barat dan dikeluarkan Kementerian
Agama Palestina.
IMPACT-SE juga memeriksa 22 buah panduan guru yang dikeluarkan
Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina. Meski semua buku
diktat yang ditinjau disetujui pemerintah Palestina, buku-buku itu juga
dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar di Gaza.
"Meski tema lingkungan dan energi terbarui diajarkan kepada
murid-murid Palestina, IMPACT-SE menemukan bahwa buku-buku diktat yang
diajarkan ‘menyalahkan’ Israel atas segala permasalahan lingkungan,"
demikian dituliskan situs berita Israel, Jpost.
"Secara umum, ada penyangkalan total eksistensi Israel, dan jika ada,
biasanya amat negatif," kata Eldad Pardo, seorang anggota jajaran dewan
IMPACT-SE dan kepala kelompok peneliti buku diktat Palestina, seperti
dikutip Jpost.
"Bagi generasi yang akan datang, tidak ada pendidikan mengenai kerja
sama dan tidak ada informasi mengenai banyak kerja sama yang pernah
dilakukan Israel dan Palestina dalam bidang lingkungan dan berbagai
bidang lain," klaim Pardo.
Dalam buku-buku geografi, umumnya Israel tidak digambarkan di peta
Timur Tengah. Buku-buku tersebut menggantikannya dengan Palestina, yang
memang merupakan lokasi asli sebelum dicaplok Israel yang diciptakan
dengan bantuan Barat. Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jaffa ditunjukkan
dalam peta Palestina, namun tidak ada kota-kota Yahudi seperti Tel Aviv,
Ramat Gan, Kibbutzim, dan Moshavim.
Salah satu buku diktat Palestina yang dibahas IMPACT-SE, History of Ancient Civilization,
terbitan 2009 dan dipergunakan untuk mengajar murid kelas lima,
menyebutkan bahwa kawasan Masyriq (timur Mediterania) terdiri dari
Palestina, Yordania, Libanon, dan Syria. Tidak ada nama Israel.
"Buku diktat lain di antaranya berisi peta Kota Tua Yerusalem yang
tidak menyebutkan mengenai lokasi Yahudi. Semetara itu, dalam contoh
lain, sebuah buku diktat mencetak stempel pos Mandat Inggris, namun
menghapus tulisan Ibrani ‘Palestina: Tanah Israel’ yang ada di stempel
aslinya," demikian dilansir Jpost.
Sejumlah buku diktat menyebutkan bahwa orang-orang Kanaan adalah
orang-orang berbahasa Arab yang tanahnya dirampas Yahudi dan menyebutkan
bahwa kaum Yahudi datang dari Eropa untuk mencuri tanah Palestina yang
dijajah Inggris pada 1917.
"Pardo, seorang profesor di Hebrew University, Yerusalem, juga
menyebutkan bahwa buku-buku diktat Palestina ‘menghapuskan klaim’ Yahudi
atas sejumlah situs suci, seperti Tembok Barat dan Makam Rachel. Pardo
menyebutkan, National Education, buku diktat untuk murid kelas tujuh
yang diterbitkan pada 2010, menyebut Tembok Barat dengan nama Tembok
Al-Buraq, dam Makam Rachel disebut Masjid Al-Bilal," demikian dilansir Jpost.
Seperti diwartakan Jpost, IMPACT-SE juga menemukan bahwa
buku-buku diktat Palestina berisi banyak referensi mengenai martir,
perlawanan, dan pengungsi yang kembali ke kota-kota Palestina yang
dicaplok Israel, serta sering "menyetankan" Israel dan Yahudi.
"Sebuah foto pemakaman seorang yang syahid disertakan dalam edisi
tahun 2008 dari buku murid kelas tujuh, namun dihapus dari edisi 2010,
mungkin karena tekanan asing terhadap pemerintah Palestina," kata Pardo.
Buku-buku teks lain juga menyebutkan mengenai tingkatan syahid yang
merupakan yang tertinggi. Juga disitir sebuah hadits mengenai kaum
Yahudi, seperti yang juga terdapat dalam piagam Hamas.
Yohanan Manor, ketua IMPACT-SE, mengatakan bahwa salah satu buku
sejarah Palestina mencetak dua peta yang menyebutkan Israel, meski
namanya dicetak kecil. Manor mengatakan, IMPACT-SE akan mengirimkan
hasil temuannya kepada Lamis al-Alami, menteri pendidikan Palestina