JAKARTA - Duta Besar Somalia Mohamud Olow Barow
mengungkapkan, pada umumnya aksi penyanderaan kapal yang dilakukan
perompak Somalia tidak menimbulkan korban jiwa. Para perompak hanya
mengancam demi mendapatkan uang tebusan. Pernyataan ini disampaikannya
terkait ditawannya 20 warga negara Indonesia yang menjadi anak buah
kapal MV Sinar Kudus sejak 16 Maret lalu.
"99 persen tidak ada korban jatuh. Mereka mengancam itu hal biasa.
Enggak ada korban," ujarnya saat jumpa pers di Kedutaan Besar Somalia,
Jakarta.
Kendati demikian, keselamatan anak buah kapal MV Sinar Kudus yang
disandera para perompak Somalia merupakan hal yang harus diutamakan. Ia
berharap 20 anak buah kapal MV Sinar Kudus itu segera dapat dibebaskan.
Pemerintah Somalia, lanjut Barow, siap membantu Indonesia dalam
menyelamatkan 20 warga negaranya.
Seperti diketahui, 20 anak buah kapal MV Sinar Kudus disandera
kawanan perompak Somalia sejak sekitar bulan lalu di kawasan Laut Arab.
Kini, para anak buah kapal yang membawa bijih nikel ke Belanda tersebut
kekurangan logistik dan air bersih.
Pemerintah mengatakan, pihaknya terus berupaya membebaskan 20 anak
buah kapal yang disandera itu. Dubes Somalia mengatakan, pihaknya
mempersilakan jika pemerintah memilih menggunakan aksi militer.
Berdasarkan resolusi PBB, sejak tahun 2008, negara mana pun
diperbolehkan memasuki wilayah laut Somalia menggunakan aksi militer
dalam melawan para perompak.
"Somalia kasih izin siapa pun negara yang ingin melawan. Kita bisa
konsultasi, kami bisa kasih informasi intelijen, kami bisa kasih
masukan-masukan, kami siap," kata Barow.
Ia juga menambahkan, aksi para perompak Somalia merupakan aksi
kriminal internasional. Negara mana pun yang menangkap para perompak
Somalia dapat menghukum kawanan itu di negaranya.
Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan
Keamanan, Djoko Suyanto, mengatakan pemerintah belum memutuskan apakah
akan melakukan operasi militer untuk menyelamatkan sandera perompakan
kapal MV Sinar Kudus di perairan somalia.
Djoko menjelaskan,
tanpa izin dari pemerintah Somalia, Indonesia bisa melakukan operasi
militer. "Tapi apakah itu jadi opsi satu-satunya," kata Djoko di Kantor
Presiden.
Menurut Djoko, perlu hati-hati dalam upaya
penyelamatan tersebut. "Banyak kasus karena tindakan seperti itu awak
kapal malah dibunuh," ujar Djoko.
Karena itu, dia melanjutkan, pemerintah melihat secara komprehensif, mana yang paling baik bagi keselamatan ABK.
Djoko menambahkan, penyelamatan terhadap 20 ABK yang tertahan tidaklah
mudah. "Memerlukan waktu, karena tempatnya bukan di Klender tapi di
Somalia sana," kata Djoko
Dalam operasi penyelamatan, Indonesia
pun tidak melibatkan negara-negara lain. Namun, Djoko tidak menampik
adanya bantuan dari negara lain. "Tetapi ada agen-agen dari negara
Inggris, Singapura ada juga Amerika," ujar Djoko.
Djoko tidak
menargetkan berapa lama upaya penyelamatan tersebut. "Tidak ada yang
bisa menentukan, kalau sampai 6 bulan 7 bulan itu tergantung bagaimana
intensitas kita berkomunkasi," ucapnya.
Adapun yang menjadi
kendala saat ini antara lain pihak pembajak yang tidak setiap saat
menghubungi. "Kemudian berapa angkanya kadang-kadang suka berubah."