
China telah mengumumkan rencana untuk
membangun laboratorium ruang angkasa yang dilakukan oleh crew sendiri
pada tahun 2020. Berita ini muncul dan memanas di kaki Charlie Bolden,
administrator NASA, yang bulan lalu berkunjung ke China setelah gagal
menghasilkan suatu rencana kerjasama ruang angkasa dengan AS.
Beberapa anggota parlemen AS, termasuk Frank Wolf dan John Culberson,
anggota kongres, menentang keterlibatan China lebih dekat dalam proyek
ruang angkasa.
Para kritikus mempertanyakan proyek-proyek ruang
angkasa China yang tampaknya dijalankan oleh militer di mana teknologi
ruang angkasa banyak memiliki aplikasi di bidang kemiliteran.
Sementara itu China telah memperluas kemampuannya ketika pada tanggal
27 Oktober lalu resmi mengumumkan proyek untuk mengembangkan stasiun
ruang angkasa pada tahun 2020.
Stasiun ini memiliki aplikasi
penelitian, termasuk riset untuk astronot. China secara teratur menanam
investasi dalam penerbangan antariksa manusia "membuatnya sangat jelas
mereka akan menempatkan manusia di ruang angkasa dan akan berada di sana
untuk waktu yang lama," kata Dean Cheng, analis dari Heritage
Foundation di Washington DC.
Stasiun luar angkasa tersebut akan
terdiri dari sebuah modul inti dan dua modul. Total berat stasiun luar
angkasa tersebut diperkirakan sekira 60 ton. China juga berencana untuk
mengembangkan sebuah pesawat kargo luar angkasa yang akan membawa suplai
ke stasiun tersebut. Demikian seperti yang dikutip dariMashable, Rabu
(27/4/2011).
Dengan berat total 60 ton, stasiun luar angkasa
China tentunya sangat kecil jika dibandingkan dengan International Space
Station yang memiliki berat 419 ton. Lalu, stasiun luar angkasa milik
Rusia, MIR, memiliki berat 137 ton.
Stasiun dan modul
laboratorium akan mengorbit mengelilingi Bumi. Seorang jurubicara China
mengatakan proyek ini akan mengembangkan pencapaian proyek sebelumnya
dan menggunakan pesawat ruang angkasa Shenzhou dan Roket peluncur Long
March F.
"Punya China ini adalah satu-satunya stasiun luar
angkasa dengan banyak modul, yang biasanya membutuhkan banyak teknologi
rumit, dibandingkan stasiun luar angkasa dengan satu modul," ujar Pang
Zhihao, peneliti dan editor di majalah Space International.
Nama
dan logo untuk stasiun luar angkasa tersebut akan dipilih oleh
masyarakat China. Mereka diundang untuk mengirimkan saran nama dan logo
ke www.cmse.gov.cn atau
kongjianzhan@vip.qq.com. Hasilnya akan diumumkan pada akhir September.
"Setelah
pembangunan stasiun ruang angkasa maka tahap ke ketiga program luar
angkasa berawak menjadi lengkap," meningkatkan kemajuan teknologi China,
inovasi, daya saing komprehensif dan prestise bangsa, kata jurubicara
tersebut.
China sendiri juga memiliki program luar angkasa yang
padat, dengan rencana akan meluncurkan modul angkasa Tiangong-1 dan
pesawat tanpa awak Shenzhou VIII tahun ini dan dua penerbangan lagi
untuk tahun depan.
Tiangong-1 atau Istana Surga, akan berubah
menjadi laboratorium berawak setelah dockings eksperimental dengan
pesawat ruang angkasa Shenzhou-8, Shenzhou-9 dan Shenzhou-10 yang
masing-masing membawa dua hingga tiga kru.