Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Masjid Tertua di Bulukumba Berumur 400 Tahun

Written By Juhernaidi on Senin, 13 Agustus 2012 | 2:36:00 PM

Mesjid Nurul Hilal Dato Tiro merupakan masjid tertua di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dibangun pada 1605 Masehi.
Masjid tersebut adalah peninggalan Al Maulana Khatib Bungsu atau Dato Tiro yang merupakan seorang ulama penyebar agama Islam.

Masjid yang terletak di Kecamatan Bonto Tiro atau sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Bulukumba itu ternyata memiliki keunikan tersendiri.
Di antaranya memiliki kubah berbentuk menyerupai rumah adat Jawa yang terdiri dari tiga tingkat sementara arsitektur dinding jendela diambil dari rumah khas Sulawesi Selatan.

Sedangkan di luar mesjid terdapat sebuah menara setinggi dua puluh meter.
"Di dalam masjid ini juga terdapat empat buah tiang, serta sejumlah tulisan kaligrafi yang berada di sudut dinding masjid tersebut," cerita seorang tokoh masyarakat, Muhammad Bakri Ahmad, Minggu (12/8/2012).

Selain itu, lanjut Bakri keunikan sisi lain masjid yang telah direnovasi hingga lima kali itu juga terdapat kolam hila-hila tepat di samping masjid. Konon kabarnya mata air yang keluar dari dasar kolam tersebut awalnya berasal saat Dato Tiro membuat garis menggunakan tongkatnya hingga mengeluarkan air yang berkelok-kelok seperti ular.

"Tidak hanya permandian hila-hila yang menjadi tempat wisata masyarakat saat ini, makam Dato Tiro yang terletak kurang lebih 100 meter dari masjid, juga menjadi tempat wisata bagi pengunjung," jelasnya.

Bakri menjelaskan perobahan dan perbaikan masjid yang menjadi tempat ibadah masyarakat Bonto Tiro itu mulai direnovasi sejak tahun 1625 Masehi dan yang terakhir pada tahun 1998 Masehi, hingga perubahan arah kiblat.

Sementara penggantian nama dari mesjid Hila-hila menjadi mesjid Nurul Hilal Dato Tiro dilakukan pada tahun 1997.
2:36:00 PM | 0 komentar

Jurus andalan untuk Lailatul Qadar

Written By Juhernaidi on Sabtu, 11 Agustus 2012 | 3:33:00 PM

Banyak hadits menunjukkan lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hadits yang tak kalah banyaknya justru menegaskan lailatul qadar terjadi pada malam genap dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kini kita akan mengkaji hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan secara keseluruhan, baik malam yang ganjil maupun malam yang genap.
Hadits-hadits tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أَيْقَظَنِي بَعْضُ أَهْلِي فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْغَوَابِرِ
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Diperlihatkan kepadaku lailatul qadar dalam mimpi, namun sebagian istriku terlanjur membangunkanku dari tidurku sehingga aku terlupakan dari mengingat waktunya. Maka hendaklah kalian mencari lailatul qadar pada sepuluh malam yang terakhir." (HR. Muslim no. 1992, Ahmad no. 7546, dan Ad-Darimi no. 1716 )
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan RAmadhan, yaitu pada Sembilan malam yang terakhir, atau tujuh malam yang terakhir, atau lima malam yang terakhir." (HR. Bukhari no. 2021, Abu Daud no. 1173, dan Ahmad no. 1948)
Hadits ini menunjukkan bahwa lailatul qadar bisa terjadi pada malam genap maupun malam ganjil, karena bulan Ramadhan terkadang dua puluh Sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari.
عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَهُ مَتَى هَاجَرْتَ قَالَ خَرَجْنَا مِنْ الْيَمَنِ مُهَاجِرِينَ فَقَدِمْنَا الْجُحْفَةَ فَأَقْبَلَ رَاكِبٌ فَقُلْتُ لَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ : دَفَنَّا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ خَمْسٍ قُلْتُ هَلْ سَمِعْتَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ شَيْئًا قَالَ نَعَمْ أَخْبَرَنِي بِلالٌ مُؤَذِّنُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي السَّبْعِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ
Dari Abul Khair bahwasanya ia bertanya kepada Ash-Shunabihi, "Kapan engkau berhijrah?" Ash-Shunabihi menjawab, "Kami keluar dari Yaman dan berangkat hijrah menuju Madinah. Saat kami tiba di Juhfah, tiba-tiba seorang pengendara datang, maka aku katakana kepadanya ‘Tolong berilah kabar!' Ia menjawab, "Kami telah memakamkan Nabi SAW lima hari yang lalu." Aku bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendengar suatu hadits tentang lailatul qadar?" Ia menjawab, "Ya. Bilal muadzin Nabi SAW memberitahukan kepadaku bahwa ia terjadi pada tujuh malam dari sepuluh malam terakhir Ramadhan." (HR. Bukhari no. 4470)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.
Dari Ibnu Umar RA bahwasanya beberapa orang sahabat Nabi SAW bermimpi bahwa lailatul qadar terjadi pada tujuh malam terakhir. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Aku melihat mimpi kalian saling bersesuaian bahwa lailatul qadar terjadi pada tujuh malam terakhir. Maka barangsiapa mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir!" (HR. Bukhari no. 2015, Muslim no. 1985, dan Ahmad no. 4270)
عن ابْن عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
Dari Ibnu Umar RA berkata: "Rasulullah SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam yang terakhir! Jika salah seorang di antara kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia terkalahkan dari mencarinya pada tujuh malam terakhir!" (HR. Muslim no. 1989)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ
Dari Abu Hurairah RA berkata: "Kami sedang mengingat-ingat lailatul qadar di sisi Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, "Siapakah di antara kalian yang ingat bahwa waktunya adalah saat bulan terbit laksana setengah piring?" (HR. Muslim no. 2001)
Al-Qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahsubi berkata, "Hadits ini mengisyaratkan bahwa lailatul qadar terjadi di akhir bulan, karena bulan  dalam bentuk seperti itu hanyalah terbit di akhir-akhir bulan."
Kesimpulan
Dari keseluruhan hadits tentang lailatul qadar, para ulama menyimpulkan sebagai berikut:
Dari keseluruhan hadits tentang lailatul qadar, para ulama menyimpulkan sebagai berikut:
  1. Lailatul qadar kemungkinan besar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan
  2. Lailatul qadar adalah malam yang berpindah-pindah waktunya setiap tahun. Boleh jadi pada tahun kemarin terjadi pada malam ke-21 Ramadhan, lalu tahun ini terjadi pada malam ke-22, dan tahun mendatang pada malam ke-23, dan sebagainya. Hadits Abu Sa'id Al-Khudri riwayat Muslim mengisahkan lailatul qadar terjadi pada malam ke-21. Hadits Abdullah bin Unais Al-Juhani riwayat Muslim mengisahkan lailatul qadar terjadi pada malam ke-23. Hadits Ibnu Abbas riwayat Ahmad, Al-Baihaqi, dan lain-lain mengisahkan lailatul qadar terjadi pada malam ke-24. Dan seterusnya. Pendapat berpindah-pindahnya lailatul qadar pada setiap tahun dipegangi oleh imam Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur. Pendapat ini juga diikuti oleh para ulama madzhab Hanafi dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/313 dan Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzab, 6/459)    
  3. Dari sepuluh malam yang terakhir, malam yang paling kuat kemungkinannya adalah malam-malam ganjil; 21, 23, 25, 27 atau 29. Berdasar hadits-hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Carilah dengan sungguh-sungguh lailatul qadar pada malam yang ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2017, Muslim no. 1998, Tirmidzi no. 722, dan Ahmad no. 23100)
Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu pada Sembilan malam yang terakhir, atau tujuh malam yang terakhir, atau lima malam yang terakhir." (HR. Bukhari no. 2021, Abu Daud no. 1173, dan Ahmad no. 1948)
4. Hikmah disembunyikannya pengetahuan tentang kepastian waktu terjadinya lailatul qadar adalah agar kaum muslimin bersemangat dalam mencarinya dengan menghidupkan seluruh bulan Ramadhan, terlebih lagi sepuluh malam terakhir, dengan amal-amal kebajikan. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/313)
Amalan dan Doa Andalan Lailatul Qadar
Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk giat berdoa, dzikir, istighfar, shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur'an, sedekah, dan amal kebajikan lainnya. Semua doa yang berasal dari Al-Qur'an dan hadits shahih layak untuk dibaca. Meski demikian, Rasulullah SAW juga mengajarkan sebuah doa khusus untuk sering dibaca.
عَنْ عَائشةَ رَضيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قُلتُ: «يا رَسولَ الله، أَرأَيتَ إنْ عَلِمْتُ أيَّ ليلَةٍ ليلَةَ القدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قولي: اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ كَريمٌ تُحبُّ العَفوَ فَاعْفُ عنِّي»  
Dari Aisyah RA bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui pada malam apa lailatul qadar itu terjadi, apa yang harus aku baca pada malam tersebut?" (Dalam riwayat Ibnu Majah dengan lafal: "Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan lailatul qadar, doa apa ang mesti aku baca?") Beliau SAW menjawab, "Bacalah doa berikut ini:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ كَريمٌ تُحبُّ العَفوَ فَاعْفُ عنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku!" (HR. Tirmidzi no. 3513, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10708,  Ibnu Majah no. 3850, Ahmad,6/171 dan Al-Hakim,1/712. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih. Al-Hakim dan Al-Albani menshahihkan hadits ini)
Wallahu a'lam bish shawab
Ramadhan & Lailatul Qadar #4
Oleh:
 Muhib al-Majdi
3:33:00 PM | 0 komentar

Awas, malam genap juga Lailatul Qadar!

Dalam makalah sebelum ini, kita telah mengkaji hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk mencari lailatu qadar pada malam-malam ganjil dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa lailatul qadar pada zaman Nabi SAW pernah atau sangat mungkin terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Dalam makalah kali ini, kita akan mengjaji hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk mencari lailalatul qadar pada malam-malam genap dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.Jangan kaget! Sangat mungkin lailatul qadar terjadi pada malam-malam yang genap dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Lailatul qadar sangat mungkin terjadi pada malam ke-22, 24, 26, 28, atau 30 Ramadhan. Dengan begitu, kita tidak boleh memburunya pada malam-malam ganjil belaka. Kesungguhan dalam melaksanakan shalat tarawih, witir, tadarus Al-Qur'an, doa, dzikir, istighfar, dan amal-amal shalih lainnya di malam yang genap tetap harus dijaga. Berikut ini dalil-dalil yang menegaskan hal ini.
Hadits Pertama
عَنْ مُعَاوِيَةَ بنِ أَبي سُفيانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  : «التَمِسُوا لَيْلَةَ القَدْرِ في آخِرِ لَيْلَةٍ»
Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan!" (HR. Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam kitab Ash-Shalat dan Ibnu Khuzaimah no. 2189. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1471 dan Shahih Jami' Shaghir no. 1238)
Dalam kitab shahihnya, imam Ibnu Khuzaimah menempatkan hadits ini di bawah judul ‘Bab perintah mencari lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan, karena boleh jadi pada sebagian tahun lailatul qadar terjadi pada malam tersebut'.
Sebagaimana kita ketahui bersama, Ramadhan terkadang terdiri dari 29 hari dan terkadang 30 hari. Dengan demikian, hari terakhir terkadang adalah hari ke-30. Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk mencari lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan. Sehingga, terkadang lailatul qadar terjadi pada malamke-30 Ramadhan.
Hadits Kedua
عَنْ عُيَيْنَةَ بنِ عَبدِالرَّحمنِ قَالَ: حَدَّثَني أَبي قَالَ: «ذُكِرَتْ لَيْلَةُ القَدْرِ عِنْدَ أَبي بَكْرَةَ فَقالَ: مَا أَنا مُلْتَمِسُهَا لِشَيءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم  إِلا في الْعَشْرِ الأَواخِرِ فَإِني سَمِعْتُهُ يَقولُ: التَمِسُوهَا في تِسْعٍ يَبْقينَ، أَو في سَبْعٍ يَبْقينَ، أَو في خَمْسٍ يَبْقينَ أَو في ثَلاثٍ، أَو آخِرِ لَيْلَةٍ، قَالَ: وكَانَ أَبُو بَكْرَةَ يُصَلِّي في العِشْرينَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاتِهِ في سَائِرِ السَّنَةِ فَإِذَا دَخَلَ العَشْرُ اجْتَهَدَ»
Dari Uyainah bin Abdurrahman berkata: Ayahku (Abdurrahman bin Jausyan Al-Ghathafani--edt) bercerita, "Disebutkan kepada Abu Bakrah RA tentang lailatul qadar, maka ia berkata: "Aku tidak akan mencarinya kecuali pada waktu yang aku dengar penjelasannya dari Rasulullah SAW, yaitu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Aku mendengar beliau SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada sembilan malam yang tersisa, atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir!" Pada dua puluh malam pertama bulan Ramadhan, shalat malam Abu Bakrah adalah seperti shalat malamnya pada waktu lain sepanjang tahun. Namun pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, ia lebih bersungguh-sungguh lagi dalam beribadah. (HR. Ath-Thayalisi no. 881, Ahmad,5/39, At-Tirmidzi no. 794, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 3403, Al-Bazzar no. 3681, dan Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin no. 1119. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih)
Hadits ketiga
Al-Qur'an pertama kali diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul qadar. Nabi SAW menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada malam genap, yaitu malam ke-24 Ramadhan.
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَع رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيم فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَالإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Watsilah bin Al-Asqa' RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadhan, Injil diturunkan pada malam ketiga belas Ramadhan, dan Al-Qur'an diturunkan pada malam kedua puluh empat Ramadhan." (HR. Ahmad no. 16370, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)
Hadits keempat
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ يَلْتَمِسُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَبْلَ أَنْ تُبَانَ لَهُ ، فَلَمَّا انْقَضَيْنَ أَمَرَ بِالْبِنَاءِ فَقُوِّضَ ، ثُمَّ أُبِينَتْ لَهُ أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَأَمَرَ بِالْبِنَاءِ فَأُعِيدَ ، ثُمَّ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهَا كَانَتْ أُبِينَتْ لِي لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَإِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِهَا فَجَاءَ رَجُلانِ يَحْتَقَّانِ مَعَهُمَا الشَّيْطَانُ فَنُسِّيتُهَا ، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ الْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ .
قَالَ قُلْتُ : يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكُمْ أَعْلَمُ بِالْعَدَدِ مِنَّا ، قَالَ : أَجَلْ نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنْكُمْ ، قَالَ قُلْتُ : مَا التَّاسِعَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ ؟
قَالَ : إِذَا مَضَتْ وَاحِدَةٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا ثِنْتَيْنِ وَعِشْرِينَ وَهِيَ التَّاسِعَةُ فَإِذَا مَضَتْ ثَلاثٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا السَّابِعَةُ فَإِذَا مَضَى خَمْسٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا الْخَامِسَةُ )) .
Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Rasulullah SAW melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar sebelum dijelaskan kepada beliau berdasar wahyu. Ketika sepuluh hari pertengahan Ramadhan telah selesai, beliau SAW memerintahkan agar tenda beliau dibongkar, maka tenda itu dibongkar. Lalu dijelaskan kepada beliau (berdasar wahyu) bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam yang terakhir, maka beliau memerintahkan untuk ditegakkan tenda kembali.
Beliau lantas menemui para sahabat dan bersabda, "Wahai orang-orang, sungguh telah dijelaskan kepadaku lailatul qadar dan aku keluar dari tenda untuk memberitahukannya kepada kalian. Namun ada dua orang yang bertengkar disertai oleh setan, sehingga aku terlupakan dari lailatul qadar. Maka carilah lailatl qadar pada sepuluh malam yang terakhir! Carilah ia pada malam ke-9 atau ke-7 atau ke-5!"
Abu Nadhrah (tabi'in perawi hadits) bertanya kepada Abu Sa'id Al-Khudri RA: "Wahai Abu Sa'id, kalian (generasi sahabat) lebih mengetahui bilangan daripada kami (generasi tabi'in)."
Abu Sa'id menjawab, "Tentu saja, kami lebih mengetahuinya daripada kalian."
Abu Nadhrah bertanya, "Apakah maksud malam ke-9, ke-7, dank e-5 itu?"
Abu Sa'id menjawab, "Jika malam ke-21 telah terjadi, maka malam berikutnya adalah malam ke-22. Itulah maksud dari malam ke-9. Jika malam ke-23 telah terjadi (maka malam berikutnya adalah malam ke-24—edt), itulah maksud dari malam ke-7. Jika malam ke-25 telah terjadi (maka malam berikutnya adalah malam ke-25—edt), ituah maksud dari malam ke-5." (HR. Muslim no. 1996 dan Ahmad no. 10654)
Inilah penafsiran dari Abu Sa'id Al-Khudri RA bahwa lailatul qadar terjadi pada malam-malam genap. Abu Sa'id Al-Khudri juga merupakan perawi hadits yang menjelaskan lailatul qadar terjadi pada malam ke-21 sebagaimana telah dijelaskan dalam makalah sebelumnya. Hal ini menguatkan kemungkinan bahwa lailatul qadar bisa saja terjadi pada malam genap.
Hadits kelima
(( عن ابْن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ هِيَ فِي تِسْعٍ يَمْضِينَ أَوْ فِي سَبْعٍ يَبْقَيْنَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ ؛ وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : الْتَمِسُوا فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ ))
Dari Ibnu Abbas RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam yang terakhir, yaitu setelah sembilan malam berlalu atau pada tujuh malam yang tersisa." Dari Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: "Carilah lailatul qadar pada malam kedua puluh empat!" (HR. Bukhari no. 2024, Abu Daud no. 1173, dan Ahmad no. 1948)
Hadits keenam
عَنْ بِلالٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ
Dari Bilal RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Lailatul qadar adalah malam kedua puluh empat." (HR. Ahmad no. 2765 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, 1/360. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 3/176, menyatakan hadits ini hasan)
Hadits ketujuh 
(( عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى إِذَا كَانَ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ قَامَ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَادَ أَنْ يَذْهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ، فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي تَلِيهَا لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ لَيْلَةُ سِتٍّ وَعِشْرِينَ قَامَ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَادَ أَنْ يَذْهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ ، قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ قَالَ لا إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي تَلِيهَا لَمْ يَقُمْ بِنَا ، فَلَمَّا أَنْ كَانَتْ لَيْلَةُ ثَمَانٍ وَعِشْرِينَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْلَهُ وَاجْتَمَعَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَادَ يَفُوتُنَا الْفَلاحُ ، قَالَ قُلْتُ : وَمَا الْفَلاحُ ؟ قَالَ : السُّحُورُ ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا يَا ابْنَ أَخِي شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ ))
Dari Jubair bin Nufair dari Abu Dzar Al-Ghifari RA berkata: "Kami melakukan shaum Ramadhan bersama Rasulullah SAW. Sejak awal Ramadhan beliau belum pernah melakukan shalat malam (tarawih dan witir) berjama'ah dengan kami. Pada malam kedua puluh empat, Rasulullah SAW mengimami kami shalat malam sampai hampir sepertiga malam pertama berlalu. Pada malam berikutnya, beliau SAW tidak melakukan shalat malam bersama kami. Pada malam kedua puluh enam, beliau SAW melakukan shalat malam berjama'ah dengan kami sehingga hampir setengah malam berlalu.
Aku (Abu Dzar RA) bertanya, "Wahai Rasulullah, apa tidak sebaiknya Anda menghabiskan sisa malam ini dengan shalat malam bersama kami?"
Beliau SAW menjawab, "Tidak perlu. Jika seseorang telah melakukan shalat malam bersama imam sampai imam selesai, maka dicatat baginya telah shalat semalam suntuk."
Pada malam berikutnya, beliau tidak melakukan shalat malam bersama kami. PAda malam kedua puluh delapan, beliau SAW mengumpulkan seluruh keluarganya dan orang-orang juga berkumpul. Maka pada malam itu beliau kembali melakukan shalat malam (semalam suntuk—edt) sampai kami hampir kehilangan waktu kemenangan."
Jubair bin Nufair bertanya, "Apakah waktu kemenangan itu?"
Abu Dzar menjawab, "Yaitu makan sahur. Wahai anak saudaraku, setelah itu sampai akhir bulan Ramadhan, beliau tidak melakukan shalat malam bersama kami lagi."
(HR. Ahmad no. 20450. Sanadnya shahih)
Hadits ini diriwayatkan dengan lafal yang lebih ringkas oleh An-Nasai dan lainnya sebagai berikut,
(( صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ نَحْوٌ مِنْ ثُلُثِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ كَانَتْ سَادِسَةٌ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا ، فَلَمَّا كَانَتْ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ نَحْوٌ مِنْ شَطْرِ اللَّيْلِ ، قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ ، قَالَ : إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ، قَالَ ثُمَّ كَانَتْ الرَّابِعَةُ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا ، فَلَمَّا بَقِيَ ثُلاثٌ مِنْ الشَّهْرِ أَرْسَلَ إِلَى بَنَاتِهِ وَنِسَائِهِ وَحَشَدَ النَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلاحُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ ))
"Kami melakukan shaum Ramadhan bersama Rasulullah SAW. Selama itu, beliau SAW tidak mengimami kami shalat malam. Sampai  akhirnya tersisa tujuh hari, maka beliau mengimami kami shalat malam sehingga berlalu waktu sepertiga malam. Lalu tersisa enam hari, namun beliau tidak mengimami kami shalat malam. Ketika malam kelima dari malam yang terakhir, beliau mengimami kami shalat sehingga berlalu setengah waktu malam. Kami berkata: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya Anda mengimami kami semalam suntuk pada malam ini?" Beliau menjawab, "Jika seseorang melakukan shalat malam bersama imam sampai imam selesai, maka telah dicatat baginya shalat satu malam suntuk."
Lalu datanglah malam keempat dari malam yang terakhir, beliau tidak mengimami kami shalat malam. Ketika tiba tiga malam terakhir, beliau menyuruh anak-anak perempuan dan istri-istri beliau (untuk berkumpul shalat malam). Beliau juga mengerahkan masyarakat (untuk shalat malam). Maka beliau mengimami kami shalat malam sampai kami khawatir luput dari kemenangan (makan sahur). Setelah itu sampai akhir bulan, beliau tidak mengimami shalat malam lagi." (HR. An-Nasai no. 1347, At-Tirmidzi no. 734, Abu Daud no. 1167, Ibnu Majah no. 1317, dan Ad-Darimi no. 1713. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai)
Kesungguhan Rasulullah SAW mengimami shalat tarawih dan witir sampai sepertiga malam (pada malam ke-24), setengah malam (pada malam ke-26), dan semalam suntuk (pada malam ke-28) dengan mengumpulkan anak, istri, dan masyarakat ini merupakan sebuah isyarat bahwa pada malam-malam tersebut sangat mungkin terjadi lailatul qadar.
Jadi, tidak ada alasan untuk bersantai dan libur dari melakukan amal shalih di malam-malam genap. Siapa tahu, lailatul qadar mala mini justru terjadi di malam genap yang kita remehkan?
Wallahu a'lam bish-shawab 
Ramadhan & Lailatul Qadar #3
Oleh:
 Muhib al-Majdi
3:30:00 PM | 0 komentar

Memburu Lailatul Qadar pada Malam Ganjil

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya bulan yang mulia ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari mendapatkannya, niscaya telah terhalang dari mendapatkan seluruh kebaikan. Dan tiada orang yang terhalang dari mendapatkannya, kecuali orang-orang yang merugi." (HR. Ibnu Majah no. 1634 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani)
Pertanyaan seputar lailatul qadar yang paling menarik dan sering ditanyakan orang adalah pada malam keberapakah ia terjadi? Al-Qur'an tidak memberikan jawaban lugas selain penegasan bahwa lailatul qadar terjadi di bulan Ramadhan. Untuk Jika kita harus mengumpulkan hadits-hadits Nabi SAW dan mengkajinya secara cermat agar sampai kepada jawaban yang cukup memuaskan.
Hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar pada dasarnya bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori;
  1. Hadits-hadits yang memerintahkan mencari lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
  2. Hadits-hadits yang memerintahkan mencari lailatul qadar pada malam-malam yang genap dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
  3. Hadits-hadits yang memerintahkan mencari lailatul qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan; malam yang ganjil maupun malam yang genap.
Mari kita cermati masing-masing kategori di atas. Kita akan memulai dengan hadits-hadits perintah mencari lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Lailatul Qadar adalah malam ke-21
Imam Asy-Syafi'I cenderung memegangi pendapat ini, bahkan sekelompok ulama madzhab Syafi'I memastikan lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh satu. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/310) Dalil yang menguatkannya adalah hadits berikut ini.
(( عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ عَلَى سُدَّتِهَا حَصِيرٌ ، قَالَ : فَأَخَذَ الْحَصِيرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِي نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ فَدَنَوْا مِنْهُ فَقَالَ : إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ، ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ ، قَالَ : وَإِنِّي أُريْتُهَا لَيْلَةَ وِتْرٍ وَإِنِّي أَسْجُدُ صَبِيحَتَهَا فِي طِينٍ وَمَاءٍ ، فَأَصْبَحَ مِنْ لَيْلَةِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَقَدْ قَامَ إِلَى الصُّبْحِ فَمَطَرَتْ السَّمَاءُ ، فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ ، فَأَبْصَرْتُ الطِّينَ وَالْمَاءَ ، فَخَرَجَ حِينَ فَرَغَ مِنْ صَلاةِ الصُّبْحِ وَجَبِينُهُ وَرَوْثَةُ أَنْفِهِ فِيهِمَا الطِّينُ وَالْمَاءُ ، وَإِذَا هِيَ لَيْلَةُ إِحْـدَى وَعِشْرِينَ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ))
Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Rasulullah SAW melakukan I'tikaf pada sepuluh  hari pertama bulan Ramadhan. Beliau SAW kemudian melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan (kedua) bulan Ramadhan, dalam sebuah tenda Turki dengan beralaskan selembar tikar. Beliau lalu menarik tikar tersebut dan menyingkirkannya ke pinggir tenda. Beliau mengeluarkan kepalanya dari dalam tenda dan berbicara kepada orang-orang, maka mereka mendekat kepada beliau.
Beliau lalu bersabda, "Sesungguhnya aku pernah beri'tikaf pada sepuluh hari pertama dalam bulan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar ini. Aku kemudian melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan (kedua) dalam bulan Ramadhan. Aku lalu didatangi (malaikat dalam mimpiku) dan dikatakan kepadaku sesungguhnya lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.Barangsiapa di antara kalian hendak melakukan I'tikaf, maka hendaklah ia beri'tikaf." Maka para shahabat beri'tikaf bersama beliau.
Beliau SAW bersabda, "Sesungguhnya ditunjukkan kepadaku (dalam mimpiku) bahwa lailatul qadar terjadi pada malam yang ganjil dan keesokan paginya aku sujud di atas lumpur dan air." Pagi itu beliau berada pada malam kedua puluh satu Ramadhan. Beliau berdiri melakukan shalat Subuh, tiba-tiba langit menurunkan hujan, sehingga masjid terkena curahan hujan. Aku bias melihat lumpur dan air. Selesai shalat Subuh, aku melihat lumpur dan air menempel pada dahi dan batang hidung beliau SAW. Rupanya lailatul qadar (tahun tersebut—edt) terjadi pada malam kedua puluh satu dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2018, Muslim no. 1194, An-Nasai no. 1339, Abu Daud no. 1174, dan Ahmad no. 10757, dengan lafal Muslim)
Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki dalam At-Tamhid Syarh Muwatha' Malik, imam An-Nawawi Asy-Syafi'i  dalam Syarh Shahih Muslim, al-HAfizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi'I dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, imam Muhammad Hayat As-Sindi dalam Hasyiyah ‘ala Sunan An-Nasai, imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, dan imam Ali Mulla Al-Qari Al-Hanafi dalam Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih menjelaskan bahwa di antara pelajaran yang bisa disimpulkan dari hadits di atas adalah lailatul qadar terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan di antara malam ganjil yang diduga kuat menjadi waktu terjadinya lailatul qadar adalah malam kedua puluh satu.
Lailatul qadar adalah malam ke-23
Pendapat ini dipegangi oleh sahabat Ibnu Abbas, Bilal bin Rabah, Aisyah, dan Abdullah bin Unais Al-Juhani. Pendapat ini juga diikuti oleh imam Sa'id bin Musayyib. Pendapat ini didukung oleh hadits berikut ini.
(( عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا ، وَأَرَانِي صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ ، قَالَ : فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْصَرَفَ وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّينِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ ؛ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ يَقُولُ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ ))
Dari Abdullah bin Unais Al-Juhani RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Diperlihatkan kepadaku (dalam mimpi) lailatul qadar namun aku kemudian terlupa. Aku juga masih ingat dalam mimpiku aku sujud di waktu shalat Subuh di atas lumpur dan air." Abdullah bin Unais berkata: "Pada malam kedua puluh tiga, hujan turun kepada kami. Rasulullah SAW mengimami kami shalat Subuh. Usai shalat, bekas lumpur dan air membekas pada dahi dan batang hidung beliau SAW."  Abdullah bin Unais berkata: "Malam itu adalah malam kedua puluh tiga." (HR. Muslim no. 1997 dan Ahmad no. 15467)
وعَنْ ابنِ عَباسٍ رَضيَ الله عَنْهُما قَالَ: «أُتِيْتُ وأَنا نَائِمٌ في رَمَضَانَ فَقيلَ لي: إِنَّ الَّليلةَ لَيْلَةُ القَدْرِ، قَالَ: فَقُمْتُ وَأَنا نَاعِسٌ فَتَعَلَّقْتُ بِبَعْضِ أَطْنَابِ فُسْطَاطِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم  فَأَتَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم  فَإِذَا هُوَ يُصَلي، قَالَ: فَنَظَرْتُ في تِلْكَ الَّليْلَةِ فَإِذا هِيَ لَيْلَةُ ثَلاثٍ وعِشرينَ»
Dari Ibnu Abbas RA berkata, "Dalam mimpiku pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku didatangi (oleh malaikat) yang berkata: ‘Malam ini adalah lailatul qadar'. Aku pun terbangun sambil terkantuk-kantuk, sehingga aku berpegangan pada tiang tenda Rasulullah SAW. Aku mendatangi Rasulullah SAW yang saat itu tengah mengerjakan shalat. Aku menghitung malam itu, ternyata adalah malam kedua puluh tiga."(HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan Ath-Thabarani. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 3/76, menulis: "Seluruh perawi Ahmad adalah para perawi Shahih Bukhari)
Lailatul qadar adalah malam ke-25
Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud Al-Qur'an diturunkan setelah lewat malam ke-24 bulan Ramadhan adalah lailatul qadar terjadi pada malam ke-25 Ramadhan. Pendapat ini didukung oleh hadits-hadits berikut.
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَع رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيم فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَالإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ
Dari Watsilah bin Al-Asqa' RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadhan, Injil diturunkan pada malam ketiga belas Ramadhan, dan Al-Qur'an diturunkan pada malam kedua puluh empat Ramadhan." (HR. Ahmad no. 16370, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 1497)
(( عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ؟ فَقَالَ : هِيَ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ أَوْ فِي الْخَامِسَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ ))
Dari Mu'adz bin Jabal RA bahwasanya Rasulullah SAW ditanya tentang lailatul qadar, maka beliau SAW bersabda, "Yaitu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, atau pada malam dua puluh lima, atau malam dua puluh tiga." (HR. Ahmad no. 20132 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam  Shahih Jami' Ash-Shaghir no. 5471)
Lailatul qadar adalah malam ke-27
Sahabat Ibnu Mas'ud, Ubay bin Ka'ab, Anas bin Malik, Zirr bin Hubaisy, dan lain-lain berpendapat lailatul qadar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan. Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama dengan dasar hadits-hadits berikut.
(( عن معاوية رضي الله عنه قال : قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِلْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ )) ‌
Dari Mu'awiyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Carilah lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh!" (HR. Thabarani dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 1240)
(( عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ : لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ ))
Dari Mu'awiyah RA dari Nabi SAW bersabda tentang lailatul qadar, "Lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh!" (HR. Abu Daud no. 1178 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 5474)
عَنْ زِرِّ بنِ حُبَيْشٍ رَحِمَه اللُه تَعَالى قَالَ: «سَأَلْتُ أُبيَّ بنَ كَعْبٍ رضى الله عنه فَقُلْتُ: إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يقولُ: مَنْ يَقُم الحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ القَدْرِ، فقالَ: رَحِمَهُ الله أَرَادَ أَنْ لا يَتَّكِلَ النَّاسُ، أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّها في رَمَضَانَ وأَنها في العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وأَنها لَيْلَةُ سَبْعٍ وعِشْرينَ، ثُم حَلَفَ لا يَسْتَثْنِي أنَها لَيْلَةُ سَبْعٍ وعِشْرينَ، فقلتُ: بِأَيِّ شَيءٍ تَقُولُ ذَلكَ يَا أَبَا المنْذِرِ، قَالَ: بالعَلامَةِ أو بالآيَةِ الَّتي أَخْبَرنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  أَنَّها تَطْلُعُ يَوْمَئذٍ لا شُعَاعَ لها» 
Dari Zirr bin Hubaisy berkata: "Aku berkata kepada Ubay bin Ka'ab RA, ‘Sesungguhnya saudara Anda, Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa barangsiapa melakukan shalat malam sepanjang tahun niscaya ia akan mendapatkan lailatul qadar'. Maka Ubay bin Ka'ab berkomentar: "Dia ingin agar masyarakat tidak mengandalkan (pencarian lailatul qadar pada satu malam tertentu saja). Dia sendiri sebenarnya mengetahui bahwa lailatul qadar terjadi di bulan Ramadhan, yaitu pada sepuluh malam terakhir, lebih tepatnya pada malam kedua puluh tujuh." Ubay bin Ka'ab lalu bersumpah bahwa lailatul qadar pasti terjadi pada malam kedua puluh tujuh. Aku (Zirr bin Hubaisy bertanya) kepadanya, "Wahai Abu Mundzir, atas dasar apa Anda berkata begitu?" Ubay bin Ka'ab menjawab, "Dengan pertanda yang telah Rasulullah SAW beritahukan kepada kami, yaitu pada keesokan harinya matahari terbit namun sinarnya tidak panas membakar." (HR. Muslim no. 1999, Tirmidzi no. 3274, Abu Daud no. 1170 dan Ahmad no. 20247)
Dalam riwayat Ahmad dengan lafal,
«أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ غَدَاةَ إِذْ كَأَنَّها طَسْتٌ لَيْسَ لَها شُعَاعٌ»
"Matahari terbit pada keesokan harinya seperti mangkuk, sinarnya tidak panas." (HR. Ahmad no. 20247 dan dishahihkan Ibnu Hibban no. 3790)
وعَنْ عَبْدِالله بنِ عَبّاسٍ رَضيَ الله عَنْهُما أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم  فَقَالَ: «يا نَبيَّ الله، إِنّي شَيْخٌ كَبيرٌ عَلِيلٌ يَشُقُّ عَلَيَّ القِيَامُ، فَأْمُرْني بِلَيْلَةٍ لَعَلَّ الله يُوَفِّقُني فيهَا لَيْلَةَ القَدْر، قالَ: عَلَيْكَ بالسَّابِعَةِ»
Dari Abdullah bin Abbas RA bahwasanya ada seorang sahabat datang kepada Nabi SAW sembari mengadu, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku adalah orang tua renta yang sakit-sakitan dan merasa berat untuk shalat malam. Maka perintahkanlah aku melakukan shalat pada satu malam tertentu, semoga Allah mengaruniakan lailatul qadar kepadaku pada malam tersebut." Maka Nabi SAW bersabda, "Jika begitu shalat malamlah pada malam kedua puluh tujuh!" (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabarani. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid berkata: "Seluruh perawi Ahmad adalah perawi shahih Bukhari." Syaikh Ahmad Syakir juga menshahihkan sanadnya)
(( عن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا ))
Dari Ibnu Umar berkata: "Seorang sahabat bermimpi bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh. Maka Nabi SAW bersabda, "Aku melihat mimpi-mimpi kalian bersesuaian bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia pada malam yang ganjil darinya!" (HR. Muslim no. 1987 dan Ahmad no. 4442)
Lailatul qadar adalah malam ke-29
Pendapat ini didasarkan kepada hadits berikut.
(( عن عُبَادَة بْنُ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يُخْبِرُ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلاحَى رَجُلانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ، فَقَالَ : إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ ، الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ ))
Dari Ubadah bin Shamit RA bahwasanya RAsulullah SAW keluar untuk memberitahukan lailatul qadar, namun ada dua orang dari kaum muslimin yang bertengkar. Maka beliau SAW bersabda, "Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian lailatul qadar. Namun si fulan dan si fulan justru cekcok, sehingga pengetahuan tentang lailatul qadar telah diangkat dariku. Boleh jadi hal itu lebih baik bagi kalian. Maka carilah lailatul qadar pada malam dua puluh tujuh, dua puluh sembilan, dan dua puluh lima." (HR. Bukhari no. 49, Malik no. 615 dan Ad-Darimi no. 1715)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Ramadhan & Lailatul Qadar #2
Oleh:
 Muhib al-Majdi
3:27:00 PM | 0 komentar

Rahasia penamaan dan keutamaan Lailatul Qadar

Allah SWT menurunkan Al-Qur'an pada lailatul qadri (malam yang agung), yaitu lailah mubarakah (malam yang dibekahi). Itulah malam yang nilai ibadah pada saat itu lebih utama dari ibadah selama 1000 bulan, yaitu setara dengan ibadah selama 83 tahun 4 bulan. Itulah malam yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Karena besarnya kemuliaan dan keutamaan ibadah di dalamnya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencari dan meraih lailatul qadar. Allah SWT berfirman,
(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ).
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 1-5)
(حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ )
Haa Miim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, (QS. Ad-Dukhan (44): 1-5)
Sebab Dinamakan Lailatul Qadar
Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab malam tersebut disebut lailatul qadar. Imam Ath-Thabari, Al-Qurthubi, An-Nawawi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asy-Syaukani, Ash-Shan'ani, dan lain-lain menyebutkan sebagian pendapat tersebut sebagai berikut:
  1. Pada malam tersebut dicatat dan ditakdirkan segala takdir tahunan untuk seluruh hamba selama satu tahun penuh, baik yang berkaitan dengan umur, rizki, baik dan buruknya perbuatan, maupun bahagia dan sengsaranya nasib mereka. Sesuai dengan firman Allah, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami." (QS. Ad-Dukhan (44): 4-5). Sahabat Ibnu Abbas berkata: "Dicatat dalam ummul kitab (di Lauh Mahfuzh—edt) apa yang akan terjadi selama satu tahun tersebut baik berupa kebaikan, keburukan, rizki, maupun usia. Bahkan siapa yang akan menunaikan haji. Dicatat: Fulan A melaksanakan haji, fulan B melaksanakan haji." Imam Mujahid bin Jabr, Qatadah bin Di'amah, dan Hasan Al-BAshri berkata, "Pada waktu lailatul qadar di bulan Ramadhan ditetapkan seluruh umur, perbuatan, kelahiran, dan rizki, dan segala hal yang akan terjadi selama setahun tersebut."
  2. Lailatul qadar diambil dari kata dasar al-qadru yang artinya agung dan mulia. Dalam bahasa Arab dikatakan Fulaan Dzu Qadr, artinya fulan memiliki keagungan dan kemuliaan. Malam tersebut disebut lailatul qadar karena ia memiliki keagungan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh malam-malam yang lain. Demikian dikatakan oleh imam Al-Baghawi.
  3. Dinamakan lailatul qadar karena amal ibadah pada waktu tersebut memiliki keagungan dan keistimewaan tersendiri. Sebagaimana difirmankan oleh Allah, "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr (97): 3). Imam Mujahid berkata, "Maknanya adalah amal ibadah, shaum (di siang harinya), dan shalat malam pada waktu itu lebih baik dari amal serupa selama seribu bulan." Imam Amru bin Qais Al-Malai berkata, "Amal perbuatan pada waktu itu lebih baik dari amal perbuatan serupa selama seribu bulan."
  4. Dinamakan lailatul qadar karena pada malam tersebut dimuliakan oleh Allah dengan diturunkannya Al-Qur'an pertama kali. Demikian pendapat imam Al-Izz bin Abdis Salam, berdasar firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al-Qadr (97): 1)
  5. Dinamakan lailatul qadar karena pada malam tersebut Allah memberikan keputusan dan perincian segala perkara hamba-Nya. Demikian dikatakan oleh imam Mujahid dan An-Nawawi.
(Tafsir Ath-Thabari, 24/533 dst, Tafsir Ibnu Katsir, 4/568 dst, Tafsir Al-Baghawi, 7/227 dst, Tafsir Asy-Syaukani, 5/593 dst dan Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 8/213)
Keutamaan Lailatul Qadar
Lailatul qadar memiliki banyak keutamaan atas seluruh malam yang lain dalam satu tahun.
  1. Pada malam tersebut untuk pertama kalinya Al-Qur'an diturunkan. Firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al-Qadr (97): 1)
  2. Amal kebaikan pada malam itu lebih utama dari amal kebaikan serupa yang dikerjakan dalam waktu yang lain selama seribu bulan. Firman Allah, "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr (97): 3)
  3. Para malaikat dipimpin oleh malaikat Jibril turun ke dunia dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Firman Allah, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr (97): 4). Tentang makna ayat ini, imam Al-Baghawi menulis: "Para malaikat beserta malaikat Jibril turun pada malam lailatul qadar dengan izin Rabb mereka, yaitu dengan membawa seluruh perkara kebaikan dan keberkahan." Imam Ibnu Katsir menulis, "Para malaikat banyak turun pada malam tersebut karena banyak kebaikan dan keberkahannya. Sesungguhnya para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat. Hal itu seperti saat mereka turun saat pembacaan Al-Qur'an, mengelilingi  majlis ilmu dan menaungi dengan sayap-sayap mereka orang yang menuntut ilmu secara sungguh-sungguh."
  4. Malam itu dipenuhi dengan keselamatan dan salam peghormatan sampai terbitnya fajar. Firman Allah, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 5). Imam Abu Muzhaffar As-Sam'ani dan Ibnu Al-Jauzi menerangkan bahwa ayat ini memiliki dua pengertian. Pertama, seluruh malam itu penuh dengan keselamatan, sehingga tidak ada satu penyakit pun yang turun, tidak ada satu perbuatan dukun dan setan pun yang terjadi. Kedua, seluruh malam itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Pada malam itu para malaikat mengucapkan salam keselamatan dan penghormatan kepada setiap mukmin yang beramal kebajikan.
  5. Shalat tarawih dan witir yang dikerjakan atas landasan iman dan ikhlash mencari ridha Allah SWT semata pada malam itu dapat menggugurkan dosa-dosa kecil yang telah lampau. Berdasar hadits,
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))
    Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melakukan shalat malam (tarawih dan witir) pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala di sisi-Nya, maka dosa-dosa kecilnya yang telah lampau akan diampuni." (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
  6. Pada malam tersebut Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk menyalin dari Lauh Mahfuzh ke dalam buku takdir tahunan catatan segala rizki, umur, perbuatan, nasib, dan hal yang akan terjadi selama satu tahun penuh. Firman Allah, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami." (QS. Ad-Dukhan (44): 4-5). Ibnu Abbas berkata, "Pada malam tersebut Allah menjelaskan segala perkara yang akan terjadi di dunia sampai setahun berikutnya, baik berupa kehidupan, kematian, maupun rizki."Pendapat serupa dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, Hasan Al-Bashri, Abu Abdurrahman As-Sulami, dan lain-lain.
(Tafsir Ath-Thabari, 22/8-9, Tafsir Ibnu Katsir, 4/568, Tafsir Al-Baghawi, 8/491, Tafsir Al-Qurthubi, 16/126, Tafsir Abu Muzhafar As-Sam'ani, 6/262, Tafsir Ibnul Jauzi, 8/287 dan Tafsir Asy-Syaukani, 5/)
Saudaraku seislam dan seiman…
Lailatul qadar adalah sumber kebaikan dan keberkahan yang agung. Ia adalah malam yang begitu mulia. Ia harus menjadi 'buruan utama' setiap muslim di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Amat merugilah kita bila tidak mendapat karunia agung ini, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW,
(( أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ... لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ))
"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian shaum dalam bulan ini…Dalam bulan ini, Allah memiliki sat malam yang lebih baik dariada seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari kebaikan malam tersebut, niscaya ia telah terhalang dari kebaikan yang agung." (HR. An-Nasai no. 2079 dan Ahmad no. 6851. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 55)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Ramadhan & Lailatul Qadar #1
Oleh:
 Muhib al-Majdi
3:24:00 PM | 0 komentar

Kupas tuntas tanda-tanda Lailatul Qadar

Di tengah masyarakat berkembang banyak dongeng antah berantah dan khurafat mengenai tanda-tanda lailatul qadar. Ada yang menyatakan, pada malam tersebut semua benda bersujud. Ada yang mengatakan, tanda adalah semua benda bersinar terang, walau benda mati dan tempat gelap sekalipun. Sebagian lagi bercerita, pada malam itu semua anjing khusyu' dan tidak menggonggong. Syahdan, konon katanya, dan hikayat-hikayat lain yang ngelantur seputar lailatul qadar cukup banyak.
Sayangnya, dongeng-dongeng tersebut membekas di hati banyak orang, sehingga mereka jadikan sebagai tolok ukur dapat-tidaknya lailatul qadar. Menurut anggapan mereka, jika tidak menemukan gejala-gejala luar biasa seperti itu, berarti tidak mendapatkan lailatul qadar. Tak heran apabila banyak di antara mereka beranggapan, siapa mendapatkan lailatul qadar akan menjadi orang sakti mandraguna, lancar rejekinya, mudah jodohnya, moncer karirnya, dan seterusnya.
Lailatul qadar adalah malam agung yang waktu Wnya sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT. Hikmahnya, manusia berlomba-lomba mengisi seluruh malam Ramadhan dengan amal-amal kebajikan. Bagaimana pun juga, lailatul qadar adalah karunia agung untuk hamba-hamba Allah yang terpilih. Pilihan Allah SWT tentu menyapa orang-orang yang bertakwa dan senantiasa berbuat ihsan. Meski waktu Wnya dirahasiakan, Allah SWT dan Rasul-Nya SAW telah menjelaskan pertanda-pertanda yang bisa mengarahkan umat Islam untuk menggapai lailatul qadar. Tanda-tanda lailatul qadar sebagaimana dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah sebagai berikut.
Pertama
Banyaknya para malaikat yang turun ke dunia pada malam tersebut sampai datangnya waktu shubuh. Mereka dipimpin oleh malaikat Jibril. Pertanda ini merupakan peristiwa ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia.
Kedua
Keselamatan turun menyelimuti hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada-Nya, sampai datangnya waktu subuh. Para malaikat turun dengan membawa kebaikan, keberkahan, dan ketenangan. Oleh karenanya, pada malam tersebut orang-orang mukmin merasakan ketenangan hati, kekhusyu'an, dan kelezatan ibadah; melebihi ketenangan, kekhusyu'an, dan kelezatan  ibadah di malam-malam yang lain.
Kedua pertanda ini dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya,
تَنَزَّلُ المَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الفَجْرِ(5)
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 4-5)
Juga dijelaskan oleh Nabi SAW dalam sebuah hadits,
عَنْ أَبي هُرَيرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم  قَالَ في لَيْلَةِ القَدْرِ: «إِنَّها لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وعِشْرينَ، إِنَّ المَلائِكَةَ تِلْكَ الَّليلَةَ في الأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الحَصَى»
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda tentang lailatul qadar, "Ia adalah malam kedua puluh tujuh atau kedua puluh Sembilan. Sesungguhnya malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah kerikil turun ke bumi pada malam tersebut." (HR. Ath-Thayalisi no. 2545, Ahmad no. 10316, dan Ibnu Khuzaiman no. 2194. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid, 3/175-176, menulis: Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath. Semua perawinya tsiqah." Dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 2205)
Ketiga
Malam itu langit cerah dan tidak berawan. Suasana tampak terang benderang seakan-akan muncul bulan yang menyinari bintang-bintang. Angin bertiup tenang. Suhu uhara sedang, tidak terlalu panas dan terlalu dingin. Hal ini bersifat relativ, suhu udara setiap daerah tentu berbeda. Maksud dari suhu udara sedang, tidak panas dan tidak dingin adalah bila dibandingkan dengan malam-malam sebelum dan sesudahnya.
Keempat
Udara Matahari terbit pada keesokan harinya seperti mangkuk yang putih cemerlang, tiada noda bintik sedikit pun padanya, dan sinarnya tidak terik membakar. Para ulama menjelaskan rahasianya adalah begitu banyaknya malaikat yang turun ke bumi pada malam tersebut. Ketika fajar waktu Subuh terbit, maka para malaikat naik kembali ke langit. Maka bentangan sayap-sayap mereka atau cahaya terang mereka menutupi sinar matahari. (Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 8/65, Ikmalul Mu'alim Syarh Shahih Muslim, 4/148, Al-Mufhim ‘ala Maa Asykala min Shahih Muslim, 2/391, dan Faidhul Qadir Syarh Jami' Shaghir, 5/396)
Kelima
Keesokan paginya, matahari terbit tanpa disertai oleh kemunculan setan. Setiap hari sepanjang tahun, matahari terbit di antara dua tanduk setan. Namun khusus pagi lailatul qadar, setan tidak kuasa untuk menyertai terbitnya matahari. Sebagaimana diriwayatkan oleh Amru bin Abasah As-Sulami RA berkata, "Wahai Nabiyullah! Beritahukanlah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya. Ajarkan pula shalat kepadaku!" Maka beliau SAW bersabda, "Lakukanlah shalat Subuh! Lalu janganlah melakukan shalat sampai matahari terbit hingga naik meninggi. Karena pada waktu terbit, matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud kepada matahari…" (HR. Muslim no. 832)
Pertanda ketiga, keempat, dan kelima ini disebutkan dalam hadits-hadits berikut,
عَنْ زِرِّ بنِ حُبَيْشٍ رَحِمَه اللُه تَعَالى قَالَ: «سَأَلْتُ أُبيَّ بنَ كَعْبٍ رضى الله عنه فَقُلْتُ: إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يقولُ: مَنْ يَقُم الحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ القَدْرِ، فقالَ: رَحِمَهُ الله أَرَادَ أَنْ لا يَتَّكِلَ النَّاسُ، أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّها في رَمَضَانَ وأَنها في العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وأَنها لَيْلَةُ سَبْعٍ وعِشْرينَ، ثُم حَلَفَ لا يَسْتَثْنِي أنَها لَيْلَةُ سَبْعٍ وعِشْرينَ، فقلتُ: بِأَيِّ شَيءٍ تَقُولُ ذَلكَ يَا أَبَا المنْذِرِ، قَالَ: بالعَلامَةِ أو بالآيَةِ الَّتي أَخْبَرنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  أَنَّها تَطْلُعُ يَوْمَئذٍ لا شُعَاعَ لها» 
Dari Zirr bin Hubaisy berkata: "Aku berkata kepada Ubay bin Ka'ab RA, ‘Sesungguhnya saudara Anda, Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa barangsiapa melakukan shalat malam sepanjang tahun niscaya ia akan mendapatkan lailatul qadar'. Maka Ubay bin Ka'ab berkomentar: "Dia ingin agar masyarakat tidak mengandalkan (pencarian lailatul qadar pada satu malam tertentu saja). Dia sendiri sebenarnya mengetahui bahwa lailatul qadar terjadi di bulan Ramadhan, yaitu pada sepuluh malam terakhir, lebih tepatnya pada malam kedua puluh tujuh." Ubay bin Ka'ab lalu bersumpah bahwa lailatul qadar pasti terjadi pada malam kedua puluh tujuh. Aku (Zirr bin Hubaisy bertanya) kepadanya, "Wahai Abu Mundzir, atas dasar apa Anda berkata begitu?" Ubay bin Ka'ab menjawab, "Dengan pertanda yang telah Rasulullah SAW beritahukan kepada kami, yaitu pada keesokan harinya matahari terbit namun sinarnya tidak panas membakar." (HR. Muslim no. 1999, Tirmidzi no. 3274, Abu Daud no. 1170 dan Ahmad no. 20247)
Dalam riwayat lain dengan lafal,
«وَأَمَارَتُها أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ في صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لا شُعَاعَ لها كَأَنهَا طَسْت»
"Tandanya adalah matahari terbit pada keesokan harinya putih cemerlang, sinarnya tidak panas seperti mangkuk." (HR. Ahmad no. 20247 dan Ibnu Hibban no. 3790)
وعَنْ ابنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم  قَالَ: «إِنَّ لَيْلَةَ القَدْرِ في النِّصْفِ مِنَ السَّبْع الأَوَاخِرِ من رَمَضَانَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ غَدَاةَ إِذْ صَافِيَةً لَيْسِ لها شُعَاعٌ، قَالَ ابنُ مَسْعُودٍ: فَنَظَرْتُ إِلَيها فَوَجَدْتُها كَما قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  »
Dari Abdullah bin Mas'ud RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya lailatul qadar itu terjadi pada pertengahan dari tujuh malam terakhir Ramadhan. Pada keesokan harinya matahari terbit dengan bening, namun sinarnya tidak panas membakar." (HR. Ahmad, 1/406 dan Ibnu Abi Syaibah, 2/250. Dinyatakan shahih oleh syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Ahmad no. 3857)
 عَنْ عُبَادَةَ بنِ الصَّامِتِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم  قَالَ: «إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ القَدْرِ أَنَّها صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَراً سَاطِعاً، سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لا بَرْدَ فيهَا وَلا حَرَّ، وَلا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى به فيهَا حَتى يُصْبِحَ، وإِنَّ أَمَارَتَها أَنَّ الشَّمْسَ صَبيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَويَةً لَيسَ لها شُعَاعٌ مِثْلَ القَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ»
Dari Ubadah bin Shamit RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya tanda lailatul qadar adalah ia sebuah malam yang cerah bening dan bersinar terang, seakan-akan ada bulan yang terbit. Ia adalah malam yang tenang, tidak dingin dan tidak panas. Pada malam itu sampai datangnya waktu shubuh, panah bintang (komet) tidak halal untuk muncul. Tanda yang lain adalah matahari pada keesokan paginya terbit sempurna namun sinarnya tidak terik membakar, bagaikan bulan pada malam purnama, pada hari itu tidak halal bagi setan untuk muncul bersama matahari." (HR. Ahmad, 5/324, Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin no. 1119, dan Adh-Dhiya' Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 342. Imam Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid,3/175, menulis: Seluruh perawinya tsiqah)

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  : «إِنِّي كُنْتُ أُريتُ لَيْلَةَ القَدْرِ ثُم نَسيتُهَا وَهِيَ في العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَهِيَ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لا حَارَّةٌ ولا بَارِدَةٌ، كَأَنَّ فيهَا قَمَراً يَفْضَحُ كَوَاكِبَهَا لا يَخْرُجُ شَيْطَانُها حَتى يَخْرُجَ فَجْرُهَا»
Dari Jabir RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku lailatul qadar, kemudian aku terlupakan darinya. Ia terjadi pada sepuluh malam yang terakhir. Pertandanya, ia adalah malam yang cerah nan terang, tidak panas dan tidak dingin, seakan-akan ada rembulan yang menyinari bintang-bintang, setan pada malam itu tidak akan keluar sampai waktu fajar tiba." (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2190 dan Ibnu Hibban no. 3688. Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani)

عنْ ابنِ عَباسٍ رَضيَ اللهُ عَنْهُما عَنْ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم  في لَيْلَةِ القَدْرِ: «لَيْلَةٌ طَلْقَةٌ لا حَارَّةٌ ولا بَارِدَةٌ تُصْبِحَ الشَّمْسُ يَوْمَهَا حَمْرَاءُ ضَعِيفَة»
Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Nabi SAW bersabda tentang lailatul qadar, "Ia adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, dan keesokan paginya matahari terbit merah terang namun sinarnya lemah (tidak terik membakar)." (HR. Ath-Thayalisi no. 349, Ibnu Khuzaimah no. 2192, dan Al-Bazzar no. 1034. Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani)
Keenam
Malam harinya turun hujan deras, sehingga tanah becek dan berlumpur. Pertanda ini dijelaskan dalam hadits-hadits berikut.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata: "Rasulullah SAW melakukan I'tikaf pada sepuluh  hari pertama bulan Ramadhan. Beliau SAW kemudian melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan (kedua) bulan Ramadhan, dalam sebuah tenda Turki dengan beralaskan selembar tikar. Beliau lalu menarik tikar tersebut dan menyingkirkannya ke pinggir tenda. Beliau mengeluarkan kepalanya dari dalam tenda dan berbicara kepada orang-orang, maka mereka mendekat kepada beliau.
Beliau lalu bersabda, "Sesungguhnya aku pernah beri'tikaf pada sepuluh hari pertama dalam bulan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar ini. Aku kemudian melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan (kedua) dalam bulan Ramadhan. Aku lalu didatangi (malaikat dalam mimpiku) dan dikatakan kepadaku sesungguhnya lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.Barangsiapa di antara kalian hendak melakukan I'tikaf, maka hendaklah ia beri'tikaf." Maka para shahabat beri'tikaf bersama beliau.
Beliau SAW bersabda, "Sesungguhnya ditunjukkan kepadaku (dalam mimpiku) bahwa lailatul qadar terjadi pada malam yang ganjil dan keesokan paginya aku sujud di atas lumpur dan air." Pagi itu beliau berada pada malam kedua puluh satu Ramadhan. Beliau berdiri melakukan shalat Subuh, tiba-tiba langit menurunkan hujan, sehingga masjid terkena curahan hujan. Aku bias melihat lumpur dan air. Selesai shalat Subuh, aku melihat lumpur dan air menempel pada dahi dan batang hidung beliau SAW. Rupanya lailatul qadar (tahun tersebut—edt) terjadi pada malam kedua puluh satu dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2018, Muslim no. 1194, An-Nasai no. 1339, Abu Daud no. 1174, dan Ahmad no. 10757, dengan lafal Muslim)
Dari Abdullah bin Unais Al-Juhani RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Diperlihatkan kepadaku (dalam mimpi) lailatul qadar namun aku kemudian terlupa. Aku juga masih ingat dalam mimpiku aku sujud di waktu shalat Subuh di atas lumpur dan air." Abdullah bin Unais berkata: "Pada malam kedua puluh tiga, hujan turun kepada kami. Rasulullah SAW mengimami kami shalat Subuh. Usai shalat, bekas lumpur dan air membekas pada dahi dan batang hidung beliau SAW." Abdullah bin Unais berkata: "Malam itu adalah malam kedua puluh tiga."  
(HR. Muslim no. 1997 dan Ahmad no. 15467)
Inilah tanda-tanda lailatul qadar yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits yang shahih.
Catatan Penting:
  1. Para ulama menjelaskan bahwa sebagian besar pertanda lailatul qadar baru diketahui oleh kaum muslimin pada keesokan harinya, atau setelah berlalunya lailatul qadar. Hal itu membawa hikmah yang besar. Orang yang taat beribadah dan mendapatkan lailatul qadar akan bersyukur kepada Allah SWT. Adapun orang yang malas beribadah sehingga tidak mendapatkannya akan menyesali kelalaiannya dan bertekad untuk mencarinya dengan sungguh-sungguh pada bulan Ramadhan tahun berikutnya.
  2. Pertanda-pertanda tersebut terjadi di zaman Rasulullah SAW, dan menurut pendapat yang kuat juga terjadi pada masa sepeninggal beliau.
  3. Di antara tanda seorang muslim mendapatkan lailatul qadar adalah ia menjadi orang yang bertakwa setelah selesainya bulan Ramadhan. Keilmuan, keimanan, amal shalih, dan ketakwaannya meningkat setelah lulus dari madrasah Ramadhan. Ia menjadi Rabbani (hamba yang taat kepada Allah selama dua belas bulan dalam setahun), bukan Ramadhani (hamba yang hanya kenal Allah di bulan Ramadhan semata, sementara sebelas bulan lainnya ia malas beribadah).
  4. Mari berlomba-lomba dalam ibadah di akhir bulan Ramadhan ini, semoga Allah mengaruniakan lailatul qadar kepada kita semua. Amien.
Wallahu a'lam bish-shawab ..
Ramadhan & Lailatul Qadar #5
Oleh: Muhib al-Majdi
3:20:00 PM | 0 komentar

Keistimewaan Ramadhan

Written By Juhernaidi on Kamis, 09 Agustus 2012 | 5:30:00 PM

Ada beberapa keistimewaan di bulan Ramadhan ini yang perlu kita ketahui dan kita pahami. Keistimewaan bulan Ramadhan yang pertama adalah diwajibkannya kita berpuasa. Di dalam surat Al Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman tentang diwajibkannya berpuasa bagi orang-orang yang beriman. Kalau kita memang orang yang beriman, maka kita akan melaksanakan puasa.
Orang yang beriman adalah orang-orang yang yakin akan keputusan Allah, akan kekuasaan Allah. Orang yang beriman adalah orang-orang yang percaya akan perintah Allah. Ketika dia diperintahkan oleh Allah SWT untuk berpuasa, dia berpuasa. Itulah orang yang beriman. Oleh karena itu, kalau kita memang orang yang beriman kita melaksanakan puasa dengan penuh keikhlasan. Tidak merasa ada rasa haus, tidak ada rasa lapar, tidak ada rasa yang macam-macam. Karena apa? Karena kita berpuasa karena Allah. Kita orang yang beriman.
Orang yang beriman ketika melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, dia akan bisa menahan amarahnya. Orang yang beriman ketika di bulan Ramadhan, dia bisa menahan makan, menahan minum. Artinya tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami-istri. Artinya dia mematuhi perintah Allah. Oleh karena itu, kita orang beriman tidak hanya di bulan Ramadhan ini saja kita melaksanakan perintah Allah. Tetapi bagaimana nanti selesai bulan Ramadhan pun, kita termasuk orang yang selalu melaksanakan perintah Allah.
Itulah karenanya di dalam surat Al Baqarah ayat 183, di ujung ayat tentang perintah berpuasa, ada kata-kata, la’allakum tattakun. Mudah-mudahan engkau menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang beriman pasti nantinya akan menjadi orang yang bertaqwa, kalau dia berpuasa dengan penuh keikhlasan. Dia bisa menahan marahnya tadi, menahan makan, menahan minum, dan sebagainya. Karena dia menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa di dalam Al Quran dikatakan, “Inna akromakum ‘indallahi atkokum.” Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi-Ku, kata Allah, adalah orang yang bertaqwa.
Jadi, orang yang berpuasa itu adalah orang yang paling mulia di sisi Allah. Kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT, maka kita melaksanakan puasa ini. Kita tidak mengharapkan kemuliaan dari orang lain. Kita tidak mengharapkan kemuliaan dari siapa pun. Kita tidak mengharapkan kemuliaan entah dari manusia mana pun, entah dari pimpinan dan sebagainya. Tetapi kita melaksanakan puasa karena mengharapkan kemuliaan dari Allah SWT. Orang yang mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT sudah pasti makhluk lain akan memuliakan orang tersebut. Artinya orang yang beriman pun akan mendapatkan kemuliaan karena dia telah melaksanakan puasa.
Karena kita orang beriman, marilah kita melaksanakan puasa selama satu bulan penuh, karena kita melaksanakan perintah Allah. Orang yang beriman karena kita ingin menjadi orang yang bertaqwa. Sebagaimana nabi bersabda di dalam sebuah haditsnya: ittakillaha haitsu ma kunta. Bertaqwalah engkau kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Jadi tidak hanya kita bertaqwa kepada Allah di bulan Ramadhan, tetapi selesai Ramadhan kita tetap bertaqwa kepada Allah.
Apa itu takwa? Takwa itu menurut Abu Hurairah RA adalah dia bisa berhati-hati dalam hidup ini. Dia terkena duri ketika dia berjalan. Dia tidak terkena paku ketika dia berjalan karena dia berhati-hati ketika berjalan. Karena itulah dia termasuk orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Kita jangan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini. Jangan kita abaikan dengan datangnya bulan Ramadhan ini. Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan ini adalah dengan adanya kita melaksanakan puasa. Oleh karena itu, kita berharap agar di bulan Ramadhan ini kita mendapatkan berkah dari Allah SWT.
5:30:00 PM | 0 komentar

Ramadhan Bulan Doa

Written By Juhernaidi on Rabu, 08 Agustus 2012 | 5:31:00 AM

Assalamu’alaikum Wr Wb
Doa adalah sarana komunikasi seorang insan kepada Allah sebagai Khaliq yang telah menciptakan, menjamin kehidupan, rezeki, dan juga masa depannya. Namun demikian, Allah lah yang mempunyai hak prerogatif mutlak untuk menentukan adab-adab berdoa. Termasuk juga menentukan pada momentum tempat mana sebuah doa dikabulkan Allah. Momen-momen diijabah doa di antaranya saat hujan turun, saat khatib duduk di antara dua khutbah, bahkan termasuk pada peristiwa-peristiwa tertentu Allah akan mengijabah doa seorang hamba.
Demikian halnya terkait dengan tempat. Ada tempat yang mustajab untuk seorang insan berdoa kepada Allah, seperti di Raudah Masjid Nabawi, di depan multajam antara hajar aswad dan pintu Ka’bah, bahkan termasuk di bawah talang emas di atas Ka’bah. Berdoa di tempat itu diijabah oleh Allah.
Mustajabnya doa, ada pula terkait dengan momentum dan tempat, seperti momentum wukuf di Arafah. Doa-doa yang dipanjatkan saat itu, diijabah oleh Allah. Namun, pernahkah terpikir oleh kita. Ada momentum yang tidak bergantung kepada peristiwa, tempat, waktu, melainkan semuanya Allah gabung menjadi satu. Satu bulan penuh bahkan dalam kurun satu kali dua puluh empat jam selama sebulan doa diijabah oleh Allah kapan dan di manapun seorang hamba berada.
Momentum itu adalah bulan Ramadhan. Sebulan penuh Allah membuka pintunya lebar-lebar untuk mengijabah doa seorang hamba. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Ku, katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa hamba-hambaKu ketika ia berdoa kepada Ku. Maka penuhilah persyaratan-persyaratan dari Ku. Tetaplah beriman kepada Ku agar kalian senantiasa memperoleh kebenaran.”
Doa akan dikabulkan oleh Allah khususnya di bulan Ramadhan yang sarat dengan pintu-pintu pengabulan dari Allah. Berdasarkan ayat di atas, tentu dengan sebuah catatan bahwa doa yang sudah kita sampaikan kepada Allah tadi diiringi dengan perasaan yakin. Yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita. Keyakinan ini telah Allah tanamkan dalam aturan saum yakni terkait dengan niat. Bukankah saat niat berdoa ketika bulan Ramadhan tiba malam harinya kita mengucapkan doa niat puasa diakhiri dengan Lillahi ta’ala.
Bila niat ini kuat, maka Allah pun akan menghantarkan kekuatan kita melaksanakan ibadah shaum sampai sore nanti. Demikian pun doa, dengan keyakinan yang penuh Allah akan mengijabah doa kita. Tentu saja tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Wassalamu’alaikum Wr Wb
5:31:00 AM | 0 komentar

Membangun Citra Positif

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Tiada bulan yang mampu menggerakkan manusia untuk beribadah secara masif sebagaimana bulan Ramadhan. Tidak ada bulan yang mampu merubah perilaku manusia secara revolusioner, selain bulan Ramadhan. Tidak ada bulan yang setiap harinya menghadirkan keutamaan-keutamaan yang besar bagi hamba-hamba Allah yang beriman, selain bulan Ramadhan.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW, ”Jika datang bulan Ramadhan akan dibukakan pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka. Setan dibelenggu.” Pada bulan Ramadhan, orang-orang yang semula gemar melakukan keburukan dan kemungkaran, mereka rela dengan merubah perilakunya menjadi orang yang senantiasa gemar melakukan kebaikan-kebaikan.
Yang semula malas ke masjid, kini rajin datang memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah. Yang semula enggan menyentuh Al – Quran, kini mereka gemar membuka dan membaca Al – Quran bahkan mengkhatamkannya dalam waktu satu bulan. Mereka yang enggan hadir di majelis ta’lim, kini mereka gemar meramaikannya bahkan berlomba untuk duduk di bagian barisan paling depan dalam forum majelis ta’lim. Mereka yang semula bermalas-malasan beribadah kini berlomba-lomba seakan-akan ingin memimpin pasukan kaum abidun, orang-orang yang beribadah di jalan Allah SWT.
Ramadhan hadir memberikan aura yang penuh dengan kebaikan-kebaikan. Ketenangan, kedamaian, kemaafan mewarnai sikap dan perilaku manusia. Bahkan manusia seakan-akan terpicu untuk menampilkan eksistensi dirinya yang sejati sebagai makhluk suci, pengusung nilai-nilai kebajikan, cinta kasih, dan juga berbagai macam rahmat kasih sayang sesama manusia. Dengan bulan Ramadhan, manusia mampu menampilkan citra positif dirinya sebagai penghuni surga yang berjalan di muka bumi. Hal ini selaras dengan apa yang disabdakan Rasulallah saw, “Hendaknya engkau menjadikan orang yang mampu membangun citra positif dalam kehidupan. Sesungguhnya citra positif akan menghantar kepada kebaikan. Sesungguhnya kebaikan menghantar seseorang masuk pada jannah. Jika seseorang senantiasa menampilkan citra positif dirinya sehingga ia kan dicatat di sisi Allah swt sebagai orang yang mampu membangun dan menampilkan citra positif.”
Saya Sukeri Abdillah berzakat di Dompet Dhuafa.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
5:25:00 AM | 0 komentar

Ini Tayangan-tayangan Komedi Ramadhan yang Melanggar

Acara komedi Ramadhan 'Waktunya Kita Sahur' di Trans TV Pelanggaran tayangan Ramadhan pada televisi didominasi acara komedi yang disiarkan pada saat sahur dan menjelang berbuka puasa, karena kebanyakan para pemerannya melecehkan dan memperolok kelompok masyarakat atau orang tertentu.
"Komisi Penyiaran Indonesia sudah memberikan sanksi teguran kepada enam tayangan khusus Ramadhan dan satu tayangan musik," ujar Komisioner KPI Nina Mutmainnah di Jakarta, Senin (6/8).
Ketujuh acara yang mendapatkan sanksi teguran adalah 'Waktunya Kita Sahur' (Trans TV), 'Kampung Sahur Bejo' (RCTI), 'Sahur Bersama Srimulat' (Indosiar), 'Ngabuburit' (Trans TV), 'Sabarr Tingkat 2' (SCTV), 'John Lenong' (Trans7) dan 'Inbox' (SCTV).
Menurut Nina, pada umumnya terdapat empat bentuk pelanggaran yang dilakukan program-program komedi Ramadhan. Pertama, pelanggaran atas perlindungan kepada orang dan atau kelompok masyarakat tertentu dengan melecehkan kondisi fisik tertentu atau orientasi seks dan identitas gender tertentu.
Kedua, pelanggaran atas pelindungan anak, dimana tayangan-tayangan Ramadhan yang disajikan saat "prime time" (waktu keluarga), seringkali mengabaikan segi edukasi bagi anak-anak. Selanjutnya, pelanggaran atas norma kesopanan dan kesusilaan, dan norma kesopanan dinilai paling banyak pelanggarannya dibandingkan kesusilaan.
Bentuk pelanggaran terakhir adalah pelanggaran ketentuan penggolongan program siaran, yaitu program klasifikasi R atau Remaja dan klasifikasi lainnya. Nina mengatakan, hingga saat ini, baru satu stasiun tv yang memberikan respon terhadap teguran KPI, namun belum terjadi banyak perubahan dari tayangan-tayangan tersebut.
Menurut Nina, dalam tayangan televisi pada momen Ramadhan ataupun bukan, seyogianya siaran televisi perlu memerhatikan Undang-Undang Penyiaran yang berlaku, sebagai pedoman dan wujud tanggung jawab kepada masyarakat.
"KPI Pusat meminta semua stasiun tv untuk terus memperbaiki siarannya sesuai dengan semangat Ramadhan dan secara umum mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) 2012," kata Nina.

Sumber:REPUBLIKA.CO.ID
12:27:00 AM | 0 komentar

Awas, Banyak Ustadz 'Gadungan' di Televisi

Awas, Banyak Ustadz 'Gadungan' di Televisi   Majelis Ulama Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi tampil menjadi penceramah agama di televisi.
"Harunysa kualitas dan validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan," kata Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6 Agustus 2012.
Imam mengatakan, banyak tayangan komedi yang berujung pada makian atau melecehkan individu atau sekelompok orang. Ia prihatin, sebagian penceramah agama itu justru larut di skenario komedi.
Imam mencontohkan tayangan di Indosiar ketika Inul Daratista mengatakan "Pak saya nggak mandul lho, buktinya saya punya anak." Kemudian, ustadz menanggapi dengan perkataan "Lagian bukannya dibor malah ngebor."
Menurut Imam, pernyataan ini justru merendahkan seorang ustadz. Ia juga menyayangkan ustadz lain di Trans TV yang juga ikut ambil bagian waktu joget bersama secara berlebihan.
Imam mencermati, banyak dai yang menyampakan riwayat keagamaan dengan akurasi yang rendah. "Menggunakan hadis yang tidak sahih," kata Imam. Ia berharap para penceramah terus berusaha meningkatkan kompetensinya sebagai ustadz.
Menurut Imam, ustadz yang mempunyai kompetensi bisa dilihat dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif, artinya ustadz mempunyai pengetahuan agama yang mumpuni. Afektif, ustadz mempunyai kemampuan mengaitkankan ajaran-ajaran agama dengan permasalahan sehari-hari. Sedangkan psikomotorik, ustadz itu mempunyai kehidupan atau perbuatan yang terpuji.
"Kalau tidak ada ketiga itu, berarti tidak layak disebut ustadz," ujar Imam. Ia berharap stasiun televisi lebih berhati-hati memilih penceramah. Televisi dihimbau untuk lebih mengutamakan kompetensi diatas unsur selebritas.

Sumber:TEMPO.CO ,
12:20:00 AM | 0 komentar

Syekh Yusha Evans: Misionaris yang Memeluk Islam

Written By Juhernaidi on Sabtu, 04 Agustus 2012 | 5:35:00 PM

Syekh Yusha Evans: Misionaris yang Memeluk Islam (4-habis)Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.

Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.
“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.

Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’Apa sedang kau lakukan di sini?’’

‘’Aku sedang menunggu Musa.’’

‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’

Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.

Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.

Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’

‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’

Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’

Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.

Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”

‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’

Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam.

‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’

Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah.

Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam.  


Sumber: islamevents.com/yushaevans.com
5:35:00 PM | 0 komentar

Ramadhan Membawaku Memeluk Islam

Ramadhan 1433 Hijriyah adalah bulan puasa pertama bagi Mangat Ram. Enam bulan lalu, pria 34 tahun itu memutuskan berhijrah menjadi seorang muslim dan mengganti namanya menjadi Ali Abdullah.


Kini, mualaf yang berasal dari Thar, Selatan Provinsi Sind, Pakistan itu, tengah menjalani puasa Ramadhan pertama dalam hidupnya. "Saya sangat bersemangat untuk menjalani puasa. Ini pengalaman baru buat saya," kata Abdullah seperti dikutip onislam.net, Senin (23/7).

Ramadhan sebelumnya, ia menghabiskan waktunya di kamp penampungan setelah hujan lebat dan banjir bandang menghanyutkan rumah dan ternaknya tahun lalu. Namun, waktu itu ia masih beragama Hindu. "Ramadhan lalu, saya belum menemukan kebenaran Islam. Tapi saya tidak kehilangan semuanya, berkah Ramadhan membawaku pada Islam," sebutnya.
Sekarang, ia mantap menjalani puasa. Ia mengaku terinspirasi dengan saudara-saudaranya sesama muslim. "Di tengah bencana hebat, mereka tetap saja menjalankan ibadah puasa. Saya kagum dengan semangat saudara-saudaraku," puji dia.
Abdullah dan keluarganya, saat ini menetap di kamp penampungan yang didirikan Al-Khidmat Foundation di pinggiran Karachi. "Saya terinspirasi dengan bagaimana pengungsi diperlakukan. Ketika agama lama saya membagi masyarakat dalam sejumlah kasta, masyarakat seperti kami pasti diabaikan," kata Abdullah yang mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid lokal.
Selama setahun terakhir, ratusan umat Hindu telah memeluk Islam di berbagai belahan Sindh. Pun dengan sejumlah orang Kristen di Punjab, yang memutuskan kembali kepada Islam.
5:25:00 PM | 0 komentar

Keutamaan Membaca Al-Quran

Written By Juhernaidi on Rabu, 25 Juli 2012 | 11:23:00 PM

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS, yang dijadikan sumber aturan hidup bagi seorang muslim. Al-Quran diriwayatkan secara mutawatir, artinya diriwayatkan oleh beberapa orang yang tidak mungkin terjadi kebohongan bersama. Dengan demikian mustahil Quran dipalsukan. Al-Quran menjadi sumber pedoman hidup, dan menjadi sumber hukum yang utama bagi setiap orang yang mengaku muslim. Oleh karena itu, membaca Al-Quran menjadi pintu gerbang bagi seorang muslim untuk dapat mengetahui dan memahami kandungan Al-Quran tersebut.
Membaca Al-Quran merupakan kewajiban mendasar dan memiliki nilai ibadah. Allah memerintahkan setiap mukmin untuk senantiasa membacanya:
“ bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran)…..” (QS. Al-Ankabut (29): 45)
Karena membaca Al-Quran adalah ibadah, maka Allah SWT memberikan pahala bagi siapa saja yang mau membacanya. Pahala ini tidak hanya bagi yang membacanya secara fasih, tapi bagi yang terbata-bata pun, mendapatkan pahala yang besar. Rasulullah SAW pernah bersabda:

عن عائشة قالت: قال رسول الله صلم: المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ {رواه البخاري}
Dari Aisyah RA ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “orang yang membaca Quran dengan mahir, akan bersama-sama dengan malaikat yang mulias lagi taat, dan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan ia merasa berat, maka dia mendapatkan dua pahala (HR. Bukhari)
Allah memberikan keutamaan bagi para pembaca dan pentadabur Al-Quran, diantaranya:
1.     Menjadi manusia yang terbaik:
“Dari Utsman bin ‘Affan rad, dari Nabi saw, beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
        ‘Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan       mengajarkannya.” HR. Al-Bukhari.

2.     Kenikmatan yang tiada bandingnya:
Dari Abdullah bin Umar RA, dari Nabi, beliau bersabda:
لاَحَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآناء النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ
 ’Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal: (pertama) orang yang diberikan Allah SWT keahlian tentang al-Qur`an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan  seorang yang diberi oleh Allah SWT kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam.”Muttafaqun alaih.

3.     al-Qur`an memberi syafaat di hari kiamat:
Dari Abu Umamah al-Bahili RA, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ
“Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.

4.     Pahala berlipat ganda:
Dari Ibnu Mas’ud rad, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ  فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, لاَأَقُوْلُ “الـم” حَرْفٌ وَلكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan  dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.

5.     Dikumpulkan bersama para malaikat:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW bersabda:
المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.“ Muttafaqun ‘alaih.
Inilah sebagian dari anjuran dan keutamaan membaca al-Qur`an. Perlu perlu diingat bahwa, keutamaan-keutamaan di atas adalah keutamaan membaca al-Qur`an, bagi siapa saja, walau tidak memahami makna dan tafsirnya. Tentu kalau seseorang membaca Al-Quran dan ia memahami bahasanya, kemudian mengkaji tafsirnya juga, maka ia akan mendapatkan keutamaan yang lebih banyak lagi.
11:23:00 PM | 0 komentar

Simulasi Jangka Sorong

 

amung

Terkini

twitter