Pasukan Presiden Syiria Bashar Al-Assad dikatakan telah membunuh
lebih dari 80 orang pada hari Jum'at dan telah menembak mati para
pengiring jenazah pada hari Sabtu dalam sebuah upaya untuk menghancurkan
kerusuhan terbaru terhadap pemimpin otoriter di Timur Tengah tersebut.
Ebadi, seorang pakar hukum dan advokat hak asasi manusia yang pada
tahun 2003 menjadi wanita Muslim pertama yang memenangkan hadiah
Perdamaian Nobel, menyalahkan para pemimpin Iran karena fokus mereka
tentang mendukung Syiria dan kasus-kasus lainnya di luar negeri.
"Muslim seharusnya membantu satu sama lain tidak masalah di mana
mereka berada, namun mari kita tidak melupakan bahwa di Iran, sekitar 20
persen orang hidup di bawah garis kemiskinan," ia mengatakan. "Tidakkah
seharusnya orang-orang kelaparan Iran tersebut diberi makan terlebih
dahulu?"
"Walaupun Senegal adalah sebuah negara Islam, Iran mengirimkan
persenjatan ke Senegal dengan tujuan untuk membantu oposisi dan
menciptakan sebuah perang sipil, berarti bahwa Muslim membunuh Muslim,"
ia mengatakan. "Apa masalah Senegal kepada Iran?"
"Sebuah peralawanan yang sudah lama membara di bagian barat daya
Senegal provinsi Casamance telah berkobar tahun ini sehubungan dengan
apa yang pemerintah Dakar katakan adalah sebuah pengiriman persenjataan
Iran. Iran menyangkal tuduhan tersebut.
"Di samping itu, mengapa ketika China membunuh Muslim, pemerintah
Iran bungkam?" Ebadi mengatakan, merujuk pada kerusuhan di kawasan
Xinjiang. "Dan mengapa ketika Muslim Chechnya terbunuh, pemerintah Iran
diam saja?"
Ebadi belum kembali ke Iran sejak pemilihan kepresidenan Iran pada
tahun 2009, yang hasilnya diperselisihkan memulai penyebaran demonstrasi
terhadap rejim ulama dan perselihan hasilnya memulai demonstrasi
terhadap rejim ulama tersebut dan perselisihan yang membunuh lusinan
para pemrotes.
Ia menyuarakan kepercayaan diri bahwa ia pada akhirnya akan kembali
ke negara asalnya tersebut dan bahwa penduduk Iran akan bangit kembali
untuk perubahan, mengatakan: "Iran seperti api di bawah abu."
Ebadi mengharapkan adanya protes di masa mendatang harus dengan penuh
perdamaian, mengatakan bahw Iran sudah terlalu lelah akan kekerasan
setelah revolusi pada tahun 1979, perang mematikan delapan tahun dengan
Irak tersebut dan dan perselisihan politik yang masih ada.
"Hal ini teralu banyak untuk satu generasi. Oleh karenanya sikap
rakyat Iran sangat damai dan mereka tidak akan memulai kekerasan.
Sayangnya pemeirntah telah mengeksploitasi kedamaian ini," ia
mengatakan.
Ebadi menyelidiki Iran di dalam sebuah buku baru, "The Golden Cage,"
(Sangkar Emas), yang dipublikasikan oleh Kales Press, sebuah afiliasi
dari W. W. Norton.
Dikenal lebih baik untuk pekerjaan legal dan pernyataan politik,
Ebadi beralih pada sebuah gaya novelis di dalam buku tersebut ketika ia
menghubungkan sejarah modern Arab melalui tiga saudara yang ditarik ke
dalam jalur terpisah.
Satu saudara laki-laki menjadi seorang petugas militer yang
membalikkan shah pro-Barat, yang lainnya menunjukkan sebuah jalur
pemberontakan dan bergabung dengan komunis bawah tanah, sementara yang
ketiga adalah seorang Islami yang menumbuhkan jenggot.
Ebadi, yang mengatakan bahwa ia mengenal ketiga saudara tersebut
pertama kali dan mengubah nama-nama mereka, menggambarkan satu karakter
yang bijaksana – saudari ketiga pria yang sedang bertempur tersebut,
Pari.
"Pari adalah sebuah simbol karakter wanita Iran," ia mengatakan,
memprediksikan bahwa para wanita akan memainkan sebuah peranan yang di
luar ukurannya di dalam perkembangan politik negara tersebut.
Ebadi juga menceritakan di dalam bukunya, pengalamannya sendiri
setelah jatuh bertabrakan dnegan para otoritas, menggambarkan
"penyiksaan kulit putih" hukuman penjara di dalam sebuah sel yang
menjijikkan dan tersendiri dengan tidak ada pengetahuan tentang waktu
atau petunjuk kepribadian.
Terlebih lagi, para anggota rejim ulama telah menyerang Ebadi karena
pertahananya atas tujuh pemimpin agama Bahai yang setiap orang didakwa
20 tahun di penjara atas dugaan termasuk mematai-matai untuk pihak
asing.
Di dalam wawancara tersebut, Ebadi bersumpah bahwa ia tidak akan mundur.
"Saya telah membaca semua data dan tidak ada bukti tuduhan. Sehingga
mengapa saya tidak melanjutkan untuk membela mereka?" ia mengatakan.