Zhenzhen
Zhang, peneliti dari Michigan State University membuktikan hal itu
setelah menelusuri 3 penelitian ilmiah yang mengamati kebiasaan minum
kopi pada 172.567 partisipan. Ketiganya melibatkan pengamatan jangka
panjang yang dilakukan selama 33 tahun.
Dari sekian banyak
partisipan, hanya 37.35 orang atau sekitar 1 di antara 5 yang dilaporkan
menderita tekanan darah tinggi. Ketika membandingkan takanan minum kopi
setiap hari dengan faktor risiko lainnya, peneliti menyimpulkan kopi
bukan pemicu hipertensi.
Peningkatan tekanan darah tidak teramati
pada partisipan yang minum kopi dalam porsi paling rendah yakni 1
cangkir/hari (1 cangkir: 237 ml). Demikian juga pada partisipan yang
minum 1-3 cangkir/hari, perbedaan tekanan darah teramati tidak cukup
signifikan.
Meski demikian, peneliti memberi catatan bahwa respons tiap individu
terhadap kopi tidak selalu sama. Seseorang yang memiliki riwayat
hipertensi di keluarganya bisa jadi lebih berisiko dibandingkan
orang-orang sehat seperti dalam penelitian ini.
"Bagi sebagian
besar orang, minum kopi secara rutin sama sekali tidak berbahaya tetapi
bagi sebagian yang lain belum tentu demikian," ungkap Shang dalam
laporannya di American Journal of Clinical Nutrition seperti dikutip
dari Medicalnewstoday.
Kesimpulan Zhang dibenarkan oleh ahli
jantung dari Mount Sinai Medical Center di New York, Prof Lawrence
Krakoff. Menurutnya, berbagai penelitian selama ini gagal membuktikan
bahwa kopi merupakan pemicu utama peningkatan tekanan darah pada pasien
hipertensi.
"Jika seseorang minum 12 cangkir sehari dan tidak
tidur, baru bisa saya asumsikan bahwa hal itu memang berbahaya," ungkap
Prof Krakoff seperti diberitakan Dailymail, Minggu (23/4/2011).
Tak
hanya sampai disitu, Sebelumnya menurut sebuah penelitian, Peminum kopi
hanya memiliki risiko lebih rendah untukpenyakit ritme jantung
abnormal. Tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa minum secangkir kopi
sehari akan meningkatkan risiko aterosklerosis atau penebalan dinding
pembuluh darah yang dapat menyebabkan serangan jantung.
Selain itu, kandungan lain di dalam kopi selain kafein dapat mengurangi risiko diabetes bagi perempuan yang teratur minum.
Penemuan
yang dilakukan peneliti jantung ini bisa membuat peminum kopi jatuh
cinta. Hasil studi ini telah dipresentasikan di konferensi American
Heart Association (AHA) di San Fransisco beberapa pekan silam.
Namun
tidak semua laporan di konferensi tahunan AHA pada Cardiovascular
Disease Epidemiology and Prevention and Nutrition, Physical Activity and
Metabolism itu benar-benar mengembirakan bagi pecinta kopi.
Salah
satu laporan menemukan potensi hubungan antara minum kopi dan tekanan
darah tinggi. Tetapi jangan khawatir efeknya digambarkan sangat
sederhana alias minim.
Studi tentang ritme jantung itu dengan
meneliti 130.054 anggota dari Kaiser Permanente Medical Care Program
yang telah dirawat dirumah sakit karena gangguan ritme jantung. Sekitar 2
persen dari mereka yang dirawat di rumah sakit karena gangguan itu dan
yang paling umum adalah masalah atrial fibrillation.
Dr Arthur
Klatsky, konsultan jantung senior yang memimpin penelitian ini,
mengatakan mereka yang dilaporkan minum kopi 4 cangkir per hari lebih
rendah 18 persen risiko terkena jantung dibandingkan dengan mereka yang
tidak minum kopi.
"Ini mungkin sebuah kejutan, karena sebagian
orang takut untuk minum kopi. Dan saya tidak berpikir kita akan siap
untuk memberitahukan orang-orang bahwa mereka harus minum kopi untuk
mencegah masalah ritme jantung," kata Klatsky, seperti diberitakan
USNews.
Studi ini tidak memberikan alasan mengapa kopi dapat
mengurangi masalah ritme jantung. Menurut Klatsky, bisa jadi karena si
peminum kopi melakukan diet atau banyak berolahraga. Tapi juga tidak
bisa dikatakan dengan pasti bahwa kopi tidak berhubungan dengan masalah
ritme jantung minor (ringan) yang memang tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit.
Intinya, pencinta kopi tak perlu berhenti minum kopi hanya karena mereka memiliki masalah dengan ritme jantung.
Studi
lain yang diikuti lebih dari 3 000 pria dan wanita usia 20 tahun juga
tidak menemukan hubungan antara konsumsi kopi dan atherosclerosis untuk
laki-laki dan perempuan baik itu kulit hitam atau putih, perokok atau
bukan perokok. Partisipan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang
mengonsumsi kopi tidak lebih dari 4 cangkir sehari.
"Berdasarkan
data ini, tampaknya tidak ada hubungan substansial antara minum kopi
dengan peningkatan atau penurunan aterosklerosis," kata Jared Reis,
seorang ahli epidemiologi dari US National Heart, Lung and Blood
Institute.
Studi ketiga, berdasarkan laporan dari Women's Health
Study, menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 (diabetes karena gaya hidup)
lebih sedikit dialami peminum kopi.
Peneliti membandingkan 359
wanita postmenopause yang baru didiagnosa diabetes tipe 2 dan 359 wanita
tanpa penyakit. Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang minum 4 cangkir
kopi berkafein sehari, lebih rendah 56 persen risiko terkena diabetes
daripada mereka yang tidak minum kopi.
"Yang tampaknya mengurangi
risiko dari efek kafein karena pengikatan protein hormon," kata Dr.
Liwei Chen, asisten profesor University of California, Los Angeles. Tapi
menurut Chen temuan-temuan awal ini masih memerlukan studi yang lebih
lanjut.
Laporan lain yang memastikan konsumsi 1-3 cangkir kopi
sehari hanya berpengaruh sedikit peningkatan risiko tekanan darah tinggi
datang dari Dr Liwei Chen, asisten profesor epidemiologi di Louisiana
State University School of Public Health. Dia menggunakan data dari enam
penelitian yang mengikutsertakan lebih dari 172.000 partisipan.
"Berdasarkan
hasil kami, untuk jangka panjang minum kopi mungkin merupakan faktor
risiko hipertensi, tetapi efeknya tidak terlalu besar," kata Chen.
Namun Chen juga menyarankan, penting bagi orang-orang mengurangi konsumsi kopi jika khawatir tentang tekanan darah mereka