Pastor
Terry Jones berbicara dengan para reporter
pada bulan Spetmber 2010, di Gereja Dove World
Outreach Center di Gainesville, Florida. Dalam sebuah video pembakaran Al-Qur’an pada 20 Maret, yang diposkan di website Gereja tersebut, Jones mengadakan persidangan
di depan jamaah Gereja. (Foto: Getty Images)
pada bulan Spetmber 2010, di Gereja Dove World
Outreach Center di Gainesville, Florida. Dalam sebuah video pembakaran Al-Qur’an pada 20 Maret, yang diposkan di website Gereja tersebut, Jones mengadakan persidangan
di depan jamaah Gereja. (Foto: Getty Images)
GAINESVILLE, Florida – Sebelum sebuah Al-Qur'an
dibakar di gereja sederhananya pada 20 Maret, pastur Terry Jones
mengadakan sebuah persidangan pencemoohan kitab suci tersebut yang di
dalamnya ia memimpin dari mimbar layaknya seorang hakim. Penuntutnya
adalah seorang Kristen yang telah berpindah dari agama Islam, seorang
Imam dari Dallas membela Al-Qur'an.
Duduk untuk mempertimbangkan adalah sebuah kelompok juri dengan 12
anggota dari gereja Jones, Dove World Outreach Center. Setelah
mendengarkan argumen dari kedua pihak, juri tersebut mengumumkan
Al-Qur'an bersalah atas lima "kejahatan terhadap kemanusiaan," termasuk
promosi tindakan teroris dan "kematian, pemerkosaan dan penyiksaan
orang-orang di seluruh dunia yang satu-satunya kejahatannya bukanlah
termasuk dalam keyakinan Islami."
Hukumannya ditentukan oleh hasil dari sebuah poling online. Di
samping membakar, pilihan "eksekusi" lainnya termasuk mencabik-cabik,
menenggelamkan dan menghadapi pasukan penembakan. Jones, seorang pastur
Evangelis nondenominasional, mengatakan bahwa para pemilih telah memilih
untuk membakar kitab tersebut, menurut sebuah video proses persidangan
tersebut.
Jones mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Agence
France-Presse pada hari Jum'at bahwa ia merasa "hancur" dengan
pembunuhan 12 orang dalam sebuah protes di Afghanistan ketika sebuah
gerombolan, dibuat marah oleh pembakaran sebuah Al-Quran oleh gereja
Jones, menyerang kamp PBB di bagian utara kota Mazar-i-Sharif. "Kami
tidak merasa bertanggungjawab atas hal tersebut." Ia mengatakan kepada
kantor berita tersebut.
Tidak seperti kemarahan dunia yang menyambut rencana pastur untuk
membakar 200 salinan Al-Qur'an pada 11 September – yang pada akhirnya ia
tinggalkan – acara pekan lalu di gereja dengan 50 anggota tersebut
sebagain besar diabaikan oleh media berita. Sekitar pukul 2 siang pada
Jum'at, video pembakaran Al-Qur'an telah ada pada website gereja telah
disaksikan hanya 1.500 kali.
"Strategi lokal dari setiap orang adalah mengabaikan hal ini," kata
pendeta D. Reimer, pastur dari Gereja Gainesville. "Peristiwa ini
hanyalah sebuah tragedi yang mengerikan bahwa hal ini memicu lebih
banyak kematian orang yang tak berdosa."
Beberapa anggota gereja terkejut oleh reaksi di Afghanistan pada hari
Jum'at, Fran Ingram, seorang asisten di gereja, mengatakan. Ia
menjelaskan bahwa diputuskan di dalam minggu-minggu yang menuntun pada
pembakaran tersebut, seorang juri yang sering mendatangi gereja dan
relawan akan mendengar kedua pihak sebelum memutuskan apa yang harus
dilakukan.
Dalam sebuah pernyataan, Jones menuntut bahwa AS dan PBB mengambil
"tindakan segera" dalam membalas kematian tersebut. "Masanya telah tiba
untuk Islam bertanggung jawab," ia mengatakan.
Ia juga meminta PBB untuk bertindak terhadap "negara-negara yang
didominasi Muslim," yang ia katakan "harus mengubah undang-undang yang
memerintah negara mereka untuk memperbolehkan kebebasan individual dan
hak-hak seperti hak untuk beribadah, ruang bebas dan untuk pindah dengan
bebas tanpa rasa takut diserang atau terbunuh."
Beberapa anggota Dove World Outreach Center mengatakan bahwa mereka merasa takut akan diserang.
"Kami memiliki sejumlah besar ancaman kematian," Ingram mengatakan.
"Kami mengambil tindakan pencegahan. Kami memiliki sebuah pistol. Begitu
banyak dari kami telah merahasiakan ijin senjata, kami adalah sebuah
gereja kecil, dan kami tidak memiliki uang untuk membayar keamanan."
Sebelum ibadah 20 Maret, Jones menanyakan apakah website gereja
menayangkan acara tersebut, menurut video tersebut. Ia memastikan bahwa
memang ditayangkan. Jones kemudian memberi kesempatan "jaksa pembela"
untuk pergi.
"Ini bukanlah mengenai kami membakar A-Qur'an dengan beberapa tipe
motif pembalasan," Jones mengatakan. "Kami bahkan tidak membakar dengan
kesenangan yang besar atau dengan kesenangan apapun. Kami membakar
karena kami merasakan sebuah kewajiban mendalam untuk mempertahankan
sistem pengadilan Amerika. Sistem pengadilan Amerika tidak
memperbolehkan terdakwa kriminal untuk bebas. Dan itulah mengapa kami
merasa berkewajiban untuk melakukan hal ini."
Di video tersebut, seorang pastur bernama Wayne Sapp
terlihat menyulut sebuah Al-Qur'an yang disirami kerosin dengan sebuah
pematik plastik, para anggota gereja melihat kitab suci tersebut
terbakar beberapa menit sementara beberapa fotografer mengambil foto.
Pada akhirnya, Jones mengatakan, "Itu sebenarnya terbakar dengan cukup baik."