Warga
Palestina berbondong-bondong dalam upacara pemakaman salah satu pejuang
Palesina yang tewas oleh serangan militer Israel di Kota Gaza pada 24
Februari 2011. (Foto: Demotix)
GAZA – Pembunuhan tak berdasar yang oleh pasukan
pendudukan Israel terhadap tiga pejabat perlawanan Hamas di Jalur Gaza
pada tanggal 2 April adalah contoh klasik dari mentalitas pembunuh
Israel. Pembunuhan atas ketiganya itu dilakukan dari udara beberapa hari
setelah Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya menyuarakan
kesediaan mereka untuk memelihara ketenangan.
Namun, pertumpahan darah tampaknya adalah lingkungan yang tepat di mana Israel tumbuh subur dan makmur.
Israel mengklaim bahwa ketiga korban tengah berencana untuk melakukan
operasi perlawanan terhadap militernya. Namun, kemungkinan besar klaim
itu tidak mengandung kebenaran di dalamnya dan hanya dijadikan sebagai
dalih media untuk membenarkan pembunuhan tersebut.
Israel tahu betul bahwa Palestina secara umum tidak bisa tetap diam
dalam menghadapi agresi dan teror Zionis karena dengan begitu hanya akan
mendorong Zionis untuk membunuh dan melukai semakin banyak warga
Palestina.
Karena itu, logis untuk berargumen bahwa kekejaman terbaru di Gaza
hanya akan menghasilkan siklus lain kekerasan dan pertumpahan darah yang
akan mengakibatkan kematian lebih banyak warga sipil Palestina.
Rakyat Palestina memiliki setiap hak untuk menolak penjajah dan
penyiksa Zionis. Zionis terus menduduki secara ilegal tanah Palestina,
termasuk Yerusalem. Terlebih lagi, Israel telah memblokade Gaza selama
lebih dari tiga tahun, membuat wilayah pesisir dengan penduduk 1.7 juta
jiwa itu mengalami kelaparan dan krisis ekonomi.
Perjuangan Palestina melawan Israel membutuhkan legitimasi sempurna
karena semua orang memiliki hak melekat untuk kebebasan dari pendudukan
asing.
Pembunuhan tiga pejuang perlawanan di Gaza bukanlah yang pertama dan
tidak akan menjadi yang terakhir. Namun, pembunuhan tersebut
menggambarkan sebuah fakta bahwa beberapa warga Palestina, Arab, dan
Muslim cenderung untuk lupa, bahwa Israel dan perdamaian membentuk
pertentangan yang abadi dan bahwa mencapai modus vivendi damai dengan
entitas barbar, kejam, dan penuh kebencian ini adalah kemungkinan yang
terlalu jauh.
Israel dan pemimpinnya harus menyadari bahwa mereka lebih dibenci
daripada ditakuti, seperti penjahat pada umumnya tapi yang akan
tertangkap dan dihukum cepat atau lambat.
Dengan kesadaran itu, kesadaran bahwa Israel adalah negara penjahat,
di mana kegarangan dan agresi adalah karakter yang abadi dan intrinsik,
rakyat Palestina terutama otoritas Palestina harus mencapai kesimpulan
akhir bahwa perdamaian dengan Israel adalah kemustahilan yang nyata.
Palestina juga harus sadar bahwa untuk menciptakan pencegahan melawan
Israel, mereka harus mulai membangun koalisi dunia untuk menekan rezim
Zionis agar menghentikan agresi hariannya terhadap rakyat Palestina.
Yang lebih penting lagi, Palestina harus meninggalkan untuk selamanya
proses perdamaian ilusif yang di dalamnya Israel bisa mencuri lebih
banyak hak-hak warga Palestina dan membangun ekspansi Yahudi.