Sebuah
gedung pemerintahan di kota Derna terbakar pada 23 Februari. Kota
tersebut sekarang diduga menjadi kota perekrutan pemberontak di mana
sedikitnya seorang mantan anggota Al-Qaedah melatih para pemberontak.
(Foto: Getty Images)
TRIPOLI – Seorang mantan tahanan di penjara Teluk
Guantanamo telah mengambil sebuah peranan utama dalam gerakan oposisi
Kolonel Gaddafi, telah muncul, bersamaan dengan sedikitnya satu mantan
anggota pasukan Afghanistan yang lainnya.
Perekrutan pemberontak di kota pelabuhan bagian timur, Derna, dilatih
oleh Sufyan Bin Qumu, seorang warga Libya yang dulunya ditahan menyusul
invasi Afghanistan yang dipimpin AS pada tahun 2001, dan ditahan di
Guantanamo selama enam tahun.
Abdel Hakim Al-Hasidi, seorang senior komando pemberontak di Derna,
dulunya juga ditahan menyusul invasi Afghanistan dan diserahkan pada
penahanan Libya dua bulan kemudian.
Kedua pria tersebut dikatakan telah dibebaskan dari penjara di Libya
pada tahun 2008 sebagai bagian dari sebuah proses rekonsiliasi dengan
para Islamis di negara tersebut.
Qumu, 51 tahun, seorang veteran angkatan darat Libya, dituduh oleh
pemerintah AS bekerja sebagai seorang sopir truk untuk sebuah perusahaan
yang dimiliki oleh Osama bin Laden, dan sebagai seorang akuntan untuk
sebuah yayasan amal yang terhubung dengan perlawanan.
Kemunculan para pasukan prlawanan dalam revolusi negara tersebut, dan
pernyataan mendukung oleh kelompok perlawanan, telah menuntun pada rasa
takut bahwa tindakan militer Barat kemungkinan sedang bermain-main
dengan tangan-tangan musuh ideologinya.
Pekan lalu, Laksamana James Stavridis, Pimpinan Teratas Komando
Sekutu, Eropa mengatakan, bahwa, sementara kepemimpinan oposisi Libya
nampaknya "adalah para pria dan wanita yang bertanggung jawab,"
intelijen AS telah mendeteksi "kedipan" aktivitas teroris di antara kelompok para pemberotak.
Komentar-komentar tersebut digambarkan oleh sumber-sumber pemerintahan Inggris sebagai "sangat mengkhawatirkan."
Bagaimanapun juga, para anggota perlawanan dikatakan membentuk hanya
sebuah minoritas kecil di dalam pasukan pemberontak dan tidak dikatakan
telah ada beberapa ketidaksepakatan dengan kepemimpinan politik oposisi.
Hasidi, yang menghabiskan beberapa tahun dalam sebuah kamp pelatihan
di Afghanistan, mengatakan kepada sebuah kantor berita bahwa ia tidak
mendukung sebuah posisi yang mirip Taliban dan sedang mengejar sebuah
"ideologi inklusif".
Ia mengatakan: "Pandangan kami mulai berubah atas AS. Jika kami
membenci Amerika 100 persen, saat ini kebencian tersebut kurang dari 50
persen. Mereka telah mulai untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari
kesalahan mereka pada masa silam dengan membantu kami untuk melindungi
darah anak-anak kami."
Ia juga meminta pemerintahan asing untuk memberi pasokan para
pemberontak dengan misil Stinger yang ditembakkan dari permukaan ke
udara.
Qumu telah menggambarkan pengeboman yang dipimpin NATO di Libya sebagai sebuah "berkah".
Kawat-kawat diplomatik dari tahun 2008 yang didapatkan oleh
WikiLeaks, dan pada awalnya diungkap oleh kantor berita The Daily
telegraph, mengidentifikasikan Derna sebagai sebuah lahan
pengembangbiakan untuk para pejuang bagi sejumlah pergerakan, termasuk
Afghanistan dan Irak.
Kawat-kawat tersebut mengutip seorang pengusaha lokal yang
mengatakan: "Para pemuda yang tidak dipekerjakan, tidak diakui haknya di
bagian timur Libya tidak rugi apapun dan oleh karenanya berkeinginan
untuk mengorbankan dirinya sendiri untuk sesuatu yang lebih besar dari
pada diri mereka dengan terlibat di dalam ekstrimisme yang
mengatasnamakan agama."
Bagaimanapun juga, Hasidi telah membantah saran-saran ekstrimisme di
Derna. Ia mengatakan kepada kantor berita Al-Jazeera: "Gaddafi berusaha
untuk memecah belah rakyat negara tersebut. Ia mengklaim bahwa ada
sebuah Emirat di Derna dan bahwa saya adalah Emir-nya. Ia mengambil
keuntungan dari fakta bahwa saya adalah seorang mantan tahanan politik.