
Ahmadinejad menambahkan, ada banyak negara yang tidak punya pilihan
kecuali mengikuti Barat. "Negara-negara itu mengatakan bahwa mereka
tidak punya kemampuan untuk melawan Barat," katanya.
"Tapi, Iran tetap punya kemampuan membela diri," kata Ahmadinejad. Ia
menekankan bahwa Barat takut dengan sejarah, budaya, peradaban, dan
kekuatan manajemen Iran.
Presiden Ahmadinejad kemudian mengetengahkan bahwa Iran merupakan
pelopor dalam perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan arogan. "Perlawanan
Iran akan meretas jalan bagi negara-negara lain untuk melawan arogansi,"
katanya.
Ahmadinejad mengatakan, Amerika Serikat dan para sekutunya menyerang
dan menjajah Irak dan Afghanistan dengan dalih untuk mengendalikan
kekuatan Iran.
"Mereka ingin menularkan ketidakamanan di Afghanistan dan Pakistan ke
Iran, tapi mereka gagal mencapai tujuan mereka," kata Ahmadinejad.
Pada hari Rabu (13/4), Ahmadinejad mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan
arogan, merujuk pada Barat, tengah berusaha merancang konflik Arab -
Iran.
"(Negara-negara) arogan dunia berusaha merancang konflik Arab -
Iran," kata Ahmadinejad. Sang presiden Iran kemudian menyerukan kepada
negara-negara di kawasan setempat agar mewaspadai plot-plot Barat.
Berpidato di hadapan massa di Sistan-Baluchistan, Ahmadinejad
mengatakan bahwa semua pihak harus waspada agar tidak terjebak dalam
permainan AS. Ia menyiratkan bahwa AS berencana menjebak negara-negara
dalam plot yang dirancangnya.
Pernyataan Ahmadinejad disampaikan setelah konflik Iran-Arab Saudi
terkait unjuk rasa di Bahrain dan tuduhan spionase yang diarahkan kepada
Iran oleh Kuwait.
Maret lalu, Ahmadinejad mengatakan bahwa AS dan negara-negara Barat sekutunya mengulangi kesalahan dengan melakukan intervensi di Libya.
"Saat dirasa tepat, mereka (AS dan sekutu-sekutunya) berpihak kepada
para penguasa lalim, dan jika perlu, (AS dan Barat) mengorbankan mereka
demi kepentingan pribadi," kata Ahmadinejad, merujuk pada serangan yang
dilakukan terhadap Muammar Gaddafi.
"Meski sudah ada pelajaran yang jelas yang diberikan rakyat Irak dan
Afghanistan dan meski ada kebencian dari opini publik,
pemerintahan-pemerintahan penindas terus mengulangi kesalahan mereka,"
kata Ahmadinejad.
Serangan yang dipimpin Barat di Libya berawal pada 19 Maret lalu.
"Dengan menggunakan berbagai dalih, mereka mengebom rakyat sipil yang
tidak bersalah dan menghancurkan infrastruktur negara-negara lain untuk
mendominasinya," tambah Ahmadinejad.
"Pesawat, peluru kendali, dan bom adalah simbol dari Amerika Serikat dan para sekutunya," kata Ahmadinejad.