KAIRO – Para pengunjuk rasa Mesir, yang
menginginkan perubahan revolusioner di negara Afrika Utara itu,
melanjutkan aksi demonstrasi mereka saat dewan militer yang mengambil
alih kepemimpinan di Mesir gagal memenuhi tuntutan mereka yang
menginginkan reformasi.
Salah satu yang jadi tuntutan adalah pengunduran diri pemimpin dewan
militer, Jenderal Besar Mohamed Hussein Tantawi. Sementara tuntutan
lainnya adalah proses hukum terhadap mantan Presiden Hosni Mubarak dan
putra-putranya, Gamal dan Alaa.
Menurut Dr. Hesham Tillawi, pembawa acara Current Issues TV, Mubarak kemungkinan tetap tak tersentuh.
"Tentu saja hal itu (desakan agar Mubarak diadili) adalah kabar baik
bagi orang-orang di jalanan dan mungkin akan menenangkan banyak orang.
Tapi, apa itu akan mengubah keadaan di lapangan? Saya rasa tidak.
Mungkin mereka tidak akan berurusan dengan Mubarak. Lagipula, saya rasa
ini lebih merupakan bentuk publisitas untuk menenangkan orang di jalanan
agar mengira sudah ada perubahan sebenarnya di Mesir," kata Tillawi
dalam wawancara dengan Press TV.
Mengenai tidak transparannya dewan militer Mesir, Tillawi mengatakan,
"Menurut saya, seperti yang kita saksikan di Mesir, mereka (dewan
militer) berusaha mengatur jalanan saat ini dan saya jamin mereka akan
melakukan segala cara untuk memastikan tetap berkuasa, karena seperti
itulah kesepakatan mereka dengan Amerika Serikat sebelum Mubarak mundur.
Jadi, mereka kini tengah berada dalam mode manajemen krisis dan mereka
akan melakukan segalanya untuk menjaga rezim yang sama tetap berkuasa,
karena Amerika Serikat dan para sekutunya tidak menginginkan demokrasi
sesunguhnya di negara-negara di Timur Tengah, termasuk juga Libya,
Yaman, dan negara-negara lain. Mereka tahu bahwa Amerika Serikat dan
Barat tidak akan melepaskan genggaman. Yang mereka lakukan adalah
mengubah manajemen Timur Tengah. Itu yang mereka lakukan," kata Tillawi.
Saat ditanya mengenai bantuan yang dikucurkan AS kepada Mesir dan
kemungkinan bantuan itu menjadikan Mesir sebagai boneka, Tillawi
mengatakan, "Amerika Serikat telah menginvestasikan banyak uang di
Mesir, ditambah dengan militer dan miliaran dolar. Pada dasarnya,
tentara Mesir didanai oleh AS dan saya jamin bahwa – seperti yang kita
lihat di Mesir sekarang, dulu, dan di masa mendatang – investasi tidak
akan berkurang. Saya ambil contoh sebulan yang lalu.
Orang-orang yang pertama kali pergi ke ALun-alun Tahrir setelah
Mubarak digulingkan, atau dipaksa mundur, adalah John McCain dan Joe
Lieberman. Joe Lieberman, saya menyebut dia senator Israel di Amerika
Serikat. Mengenai John McCain, kita semua tahu bagaimana kecondongannya
terhadap Israel. Dua orang itu pergi ke sana pada dasarnya untuk
mengatakan kepada dunia bahwa mereka ada di sini, mereka berhasil, dan
mereka memegang kendali. Ada pesan politik untuk semua orang di dunia,
termasuk dunia Arab, bahwa mereka ada di sini. Dua orang itu mewakili
Zionisme, keduanya mewakili lobi AIPAC di AS, dan mereka adalah
pendukung Zionisme. Keberadaan dua orang itu di Tahrir Square
menyampaikan pesan mengenai apa yang terjadi di balik layar, bahwa
orang-orang itu yang memegang kendali. Saya tidak bisa lebih jelas lagi
mengatakannya karena memang itu yang terjadi."
Menurutnya, AS juga berperan dalam kerusuhan yang mengakibatkan
revolusi, termasuk pada saat rakyat Mesir membakar bendera Israel dan
AS.
"Jelas AS berperan di dalamnya. Saya setuju, dan memang itu adalah
salah satu hal yang selalu kita bicarakan. Israel justru senang melihat
Mesir yang lebih berbicara keras dan lebih militan, karena dengan itu
mereka (Israel) bisa mengatakan kepada dunia bahwa mereka dilingkari
kekerasan dan mungkin itu bisa mereka jadikan alasan untuk menghabisi
rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Seperti itulah kondisi ideal
yang diinginkan Israel. Pembakaran bendera Israel dan Amerika mungkin
didorong oleh sejumlah penghasut Zionis untuk kepentingan kamera," kata
Tillawi.
"Yang perlu kita pahami adalah, sebuah revolusi tidak begitu saja
muncul secara spontan. Sebuah revolusi butuh waktu setidaknya 20 hingga
25 tahun untuk mencapai tujuannya karena prosesnya terjadi di jalanan,
dan ketika dilakukan di jalanan, diperlukan tujuan. Orang-orang yang
turun ke jalanan harusnya tahu ke mana arah mereka, tapi sebelumnya
mereka juga harus punya kemampuan melakukan itu sebelum berunjuk rasa."
"Saya rasa bukan rakyat Mesir yang merencanakan revolusi ini. Di
zaman sekarang ini, dengan menjamurnya media sosial dan media-media yang
ada, siapa saja yang punya uang 10 juta dolar bisa membuat seluruh
negara turun ke jalan. Kita sudah melihat ini terjadi di Iran dan
Tunisia, kita sudah pernah menyaksikannya di seluruh dunia," tambah
Tillawi.