"AS Tetap Kendalikan Kekuasaan di Mesir"

Written By Juhernaidi on Jumat, 15 April 2011 | 8:57:00 AM

Menteri Pertahanan AS, Robert Gates dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Mesir, Essam Sharaf yang digelar di Kairo pada 23 Maret 2011, duas bulan setelah tumbangnya Hosni Mubarak. (Foto: Reuters) KAIRO – Para pengunjuk rasa Mesir, yang menginginkan perubahan revolusioner di negara Afrika Utara itu, melanjutkan aksi demonstrasi mereka saat dewan militer yang mengambil alih kepemimpinan di Mesir gagal memenuhi tuntutan mereka yang menginginkan reformasi. Salah satu yang jadi tuntutan adalah pengunduran diri pemimpin dewan militer, Jenderal Besar Mohamed Hussein Tantawi. Sementara tuntutan lainnya adalah proses hukum terhadap mantan Presiden Hosni Mubarak dan putra-putranya, Gamal dan Alaa.
Menurut Dr. Hesham Tillawi, pembawa acara Current Issues TV, Mubarak kemungkinan tetap tak tersentuh.
"Tentu saja hal itu (desakan agar Mubarak diadili) adalah kabar baik bagi orang-orang di jalanan dan mungkin akan menenangkan banyak orang. Tapi, apa itu akan mengubah keadaan di lapangan? Saya rasa tidak. Mungkin mereka tidak akan berurusan dengan Mubarak. Lagipula, saya rasa ini lebih merupakan bentuk publisitas untuk menenangkan orang di jalanan agar mengira sudah ada perubahan sebenarnya di Mesir," kata Tillawi dalam wawancara dengan Press TV.
Mengenai tidak transparannya dewan militer Mesir, Tillawi mengatakan, "Menurut saya, seperti yang kita saksikan di Mesir, mereka (dewan militer) berusaha mengatur jalanan saat ini dan saya jamin mereka akan melakukan segala cara untuk memastikan tetap berkuasa, karena seperti itulah kesepakatan mereka dengan Amerika Serikat sebelum Mubarak mundur. Jadi, mereka kini tengah berada dalam mode manajemen krisis dan mereka akan melakukan segalanya untuk menjaga rezim yang sama tetap berkuasa, karena Amerika Serikat dan para sekutunya tidak menginginkan demokrasi sesunguhnya di negara-negara di Timur Tengah, termasuk juga Libya, Yaman, dan negara-negara lain. Mereka tahu bahwa Amerika Serikat dan Barat tidak akan melepaskan genggaman. Yang mereka lakukan adalah mengubah manajemen Timur Tengah. Itu yang mereka lakukan," kata Tillawi.
Saat ditanya mengenai bantuan yang dikucurkan AS kepada Mesir dan kemungkinan bantuan itu menjadikan Mesir sebagai boneka, Tillawi mengatakan, "Amerika Serikat telah menginvestasikan banyak uang di Mesir, ditambah dengan militer dan miliaran dolar. Pada dasarnya, tentara Mesir didanai oleh AS dan saya jamin bahwa – seperti yang kita lihat di Mesir sekarang, dulu, dan di masa mendatang – investasi tidak akan berkurang. Saya ambil contoh sebulan yang lalu.
Orang-orang yang pertama kali pergi ke ALun-alun Tahrir setelah Mubarak digulingkan, atau dipaksa mundur, adalah John McCain dan Joe Lieberman. Joe Lieberman, saya menyebut dia senator Israel di Amerika Serikat. Mengenai John McCain, kita semua tahu bagaimana kecondongannya terhadap Israel. Dua orang itu pergi ke sana pada dasarnya untuk mengatakan kepada dunia bahwa mereka ada di sini, mereka berhasil, dan mereka memegang kendali. Ada pesan politik untuk semua orang di dunia, termasuk dunia Arab, bahwa mereka ada di sini. Dua orang itu mewakili Zionisme, keduanya mewakili lobi AIPAC di AS, dan mereka adalah pendukung Zionisme. Keberadaan dua orang itu di Tahrir Square menyampaikan pesan mengenai apa yang terjadi di balik layar, bahwa orang-orang itu yang memegang kendali. Saya tidak bisa lebih jelas lagi mengatakannya karena memang itu yang terjadi."
Menurutnya, AS juga berperan dalam kerusuhan yang mengakibatkan revolusi, termasuk pada saat rakyat Mesir membakar bendera Israel dan AS.
"Jelas AS berperan di dalamnya. Saya setuju, dan memang itu adalah salah satu hal yang selalu kita bicarakan. Israel justru senang melihat Mesir yang lebih berbicara keras dan lebih militan, karena dengan itu mereka (Israel) bisa mengatakan kepada dunia bahwa mereka dilingkari kekerasan dan mungkin itu bisa mereka jadikan alasan untuk menghabisi rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Seperti itulah kondisi ideal yang diinginkan Israel. Pembakaran bendera Israel dan Amerika mungkin didorong oleh sejumlah penghasut Zionis untuk kepentingan kamera," kata Tillawi.
"Yang perlu kita pahami adalah, sebuah revolusi tidak begitu saja muncul secara spontan. Sebuah revolusi butuh waktu setidaknya 20 hingga 25 tahun untuk mencapai tujuannya karena prosesnya terjadi di jalanan, dan ketika dilakukan di jalanan, diperlukan tujuan. Orang-orang yang turun ke jalanan harusnya tahu ke mana arah mereka, tapi sebelumnya mereka juga harus punya kemampuan melakukan itu sebelum berunjuk rasa."
"Saya rasa bukan rakyat Mesir yang merencanakan revolusi ini. Di zaman sekarang ini, dengan menjamurnya media sosial dan media-media yang ada, siapa saja yang punya uang 10 juta dolar bisa membuat seluruh negara turun ke jalan. Kita sudah melihat ini terjadi di Iran dan Tunisia, kita sudah pernah menyaksikannya di seluruh dunia," tambah Tillawi.

Simulasi Jangka Sorong