Militer AS Takkan Membantu Krisis Irak di Masa Depan

Written By Juhernaidi on Jumat, 15 April 2011 | 9:06:00 AM

Seorang polisi Irak berdiri berjaga-jaga selama sebuah serangan di sebuah daerah selatan Tikrit. Para pemimpin Irak diminta untuk tidak mengharapkan pasukan AS untuk kembali membantu di dalam sebuah krisis ketika pasukan AS pergi di akhir tahun. (Foto: Reuters) BAGHDAD  – Para pemimpin Irak tidak seharusnya mengharapkan pasukan AS untuk kembali membantu di dalam sebuah krisis ketika pasukan AS pergi di akhir tahun, seorang pejabat senior militer Amerika mengatakan pada Rabu (13/4) waktu setempat. Ucapan-ucapan tersebut datang hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengakhiri sebuah kunjungan dua hari ke Irak yang selama kunjungan tersebut ia mendesak para pemimpin negara tersebut untuk menilai apakah mereka masih menginginkan adanya pasukan AS melebihi tahun 2011.
Semua pasukan Amerika harus pergi meninggalkan Irak pada akhir tahun di bahwa sebuah pakta keamanan bilateral.
"Jika kita pergi – dan hal ini adalah peringatan kesehatan yang kami akan berikan kepada siapa saja – berhati-hati tentang mengasumsikan bahwa kami akan datang kembali untuk memadamkan gejolak jika kami tidak memiliki sebuah kesepakatan," pejabat tersebut mengatakan dengan syarat anonim.
"Sulit melakukan hal tersebut," ia mengatakan kepada para reporter di Istana Al-Faw di pangkalan Kamp Victory di pinggiran kota Baghdad.
Gates, dan para pejabat Pentagon yang adalah bagian dari delegasinya, bersikeras bahwa para pemimpin Irak seharusnya mempertimbangkan untuk meminta beberapa pasukan AS untuk tetap berjaga, terutama untuk melatih pasukan Irak tentang sistem persenjataan yang akan disampaikan segera pada tahun ini, dan untuk menyarankan senjata-senjata apa yang Baghdad harus beli untuk memenuhi ancaman eksternal.
Pejabat tersebut, berbicara pada hari Rabu, mengulang lagi pesan tersebut, mengatakan bahwa pasukan Irak membutuhkan pelatihan dan senjata-senjata untuk memerangi ancaman eksternal.
"Ketika kita benar-benar pergi, Irak kemungkinan akan memiliki kurangnya kemampuan dalam hal perangkat keras militer dari negara tetangga lainnya," pejabat tersebut mengatakan.
Ia mengatakan bahwa kemampuan tersebut "akan ada di sana di masa mendatang, ketika mereka memiliki kesempatan untuk membeli lebih banyak hal dan pelatihan pada hal tersebut. Namun mereka tidak akan menjadi sekuat yang beberapa orang pikirkan pada akhir tahun ini," ia menambahkan.
Pasukan militer Irak sebagian besar dihancurkan selama invasi yang dipimpin AS pada tahun 2003 dan dengan segera dibubarkan setelah diktator yang sekarang telah dieksekusi, Saddam Hussein digulingkan.
"Sementara tidak ada lagi ancaman yang nampak jelas akhir-akhir ini, tentunya Anda ingin menjaga keseimbangan sebanyak mungkin" dengan negara tetangga, ia mengatakan.
"Kapanpun Anda memiliki sebuah ketidakseimbangan di dalam kemampuan, kemungkinan bahwa sebuah ancaman akan muncul selalu ada." Ia mengatakan bahwa AS berkomitmen untuk sebuah hubungan jangka panjang dengan Irak.
"Masalahnya bukanlah hubungan kami. Masalahnya adalah kehadiran militer dan apakah ya atau tidak Irak berada di sebuah titik yang Irak dapat menghentikan hubungan tersebut dengan militer AS," pejabat tersebut mengatakan.
Kehadiran AS di Irak masih merupakan sebuah masalah emosional di sini, dan walaupun secara pribadi para pemimpin Irak ingin pasukan AS memperpanjang kehadiran mereka, tekanan politik domestik kemungkinan tidak mengijinkan pasukan AS untuk mengatakan demikian dengan tegas.
Juru bicara Gates, Geoff Morrell, mengatakan bahwa pesan Pimpinan Pentagon untuk para pemimpin Irak adalah : "Anda semua harus memperhitungkan apa yang Anda  butuhkan dari kami dan apa yang secara politik dapat dilaksanakan dan kami siap untuk bekerjasama dengan Anda tentang bagaimana mengacukan kebutuhan tersebut."
Jenderal Babaker Zebari, pimpinan staf pasukan bersenjata Irak, mengatakan musim panas lalu bahwa penarikan AS masih belum waktunya dan bahwa pasukannya tidak akan mampu memastikan keamanan sepenuhnya sebelum tahun 2020.
Jumlah pasukan AS di Irak mencapai lebih dari 170.000 pasukan mengikuti invasi tersebut, namun sebagian besar pasukan tersebut ditinggalkan setelah secara resmi mengakhiri operasi pertempuran Agustus lalu.
Hampir 50.000 pasukan masih ada di sana sehubungan dengan penarikan sepenuhnya pada akhir tahun ini.

Simulasi Jangka Sorong