BAGHDAD – Para pemimpin Irak tidak seharusnya
mengharapkan pasukan AS untuk kembali membantu di dalam sebuah krisis
ketika pasukan AS pergi di akhir tahun, seorang pejabat senior militer
Amerika mengatakan pada Rabu (13/4) waktu setempat.
Ucapan-ucapan tersebut datang hanya beberapa hari setelah Menteri
Pertahanan AS Robert Gates mengakhiri sebuah kunjungan dua hari ke Irak
yang selama kunjungan tersebut ia mendesak para pemimpin negara tersebut
untuk menilai apakah mereka masih menginginkan adanya pasukan AS
melebihi tahun 2011.
Semua pasukan Amerika harus pergi meninggalkan Irak pada akhir tahun di bahwa sebuah pakta keamanan bilateral.
"Jika kita pergi – dan hal ini adalah peringatan kesehatan yang kami
akan berikan kepada siapa saja – berhati-hati tentang mengasumsikan
bahwa kami akan datang kembali untuk memadamkan gejolak jika kami tidak
memiliki sebuah kesepakatan," pejabat tersebut mengatakan dengan syarat
anonim.
"Sulit melakukan hal tersebut," ia mengatakan kepada para reporter di
Istana Al-Faw di pangkalan Kamp Victory di pinggiran kota Baghdad.
Gates, dan para pejabat Pentagon yang adalah bagian dari delegasinya,
bersikeras bahwa para pemimpin Irak seharusnya mempertimbangkan untuk
meminta beberapa pasukan AS untuk tetap berjaga, terutama untuk melatih
pasukan Irak tentang sistem persenjataan yang akan disampaikan segera
pada tahun ini, dan untuk menyarankan senjata-senjata apa yang Baghdad
harus beli untuk memenuhi ancaman eksternal.
Pejabat tersebut, berbicara pada hari Rabu, mengulang lagi pesan
tersebut, mengatakan bahwa pasukan Irak membutuhkan pelatihan dan
senjata-senjata untuk memerangi ancaman eksternal.
"Ketika kita benar-benar pergi, Irak kemungkinan akan memiliki
kurangnya kemampuan dalam hal perangkat keras militer dari negara
tetangga lainnya," pejabat tersebut mengatakan.
Ia mengatakan bahwa kemampuan tersebut "akan ada di sana di masa
mendatang, ketika mereka memiliki kesempatan untuk membeli lebih banyak
hal dan pelatihan pada hal tersebut. Namun mereka tidak akan menjadi
sekuat yang beberapa orang pikirkan pada akhir tahun ini," ia
menambahkan.
Pasukan militer Irak sebagian besar dihancurkan selama invasi yang dipimpin AS pada tahun 2003 dan dengan segera dibubarkan setelah diktator yang sekarang telah dieksekusi, Saddam Hussein digulingkan.
"Sementara tidak ada lagi ancaman yang nampak jelas akhir-akhir ini,
tentunya Anda ingin menjaga keseimbangan sebanyak mungkin" dengan negara
tetangga, ia mengatakan.
"Kapanpun Anda memiliki sebuah ketidakseimbangan di dalam kemampuan,
kemungkinan bahwa sebuah ancaman akan muncul selalu ada." Ia mengatakan
bahwa AS berkomitmen untuk sebuah hubungan jangka panjang dengan Irak.
"Masalahnya bukanlah hubungan kami. Masalahnya adalah kehadiran
militer dan apakah ya atau tidak Irak berada di sebuah titik yang Irak
dapat menghentikan hubungan tersebut dengan militer AS," pejabat
tersebut mengatakan.
Kehadiran AS di Irak masih merupakan sebuah masalah emosional di
sini, dan walaupun secara pribadi para pemimpin Irak ingin pasukan AS
memperpanjang kehadiran mereka, tekanan politik domestik kemungkinan
tidak mengijinkan pasukan AS untuk mengatakan demikian dengan tegas.
Juru bicara Gates, Geoff Morrell, mengatakan bahwa pesan Pimpinan
Pentagon untuk para pemimpin Irak adalah : "Anda semua harus
memperhitungkan apa yang Anda butuhkan dari kami dan apa yang secara
politik dapat dilaksanakan dan kami siap untuk bekerjasama dengan Anda
tentang bagaimana mengacukan kebutuhan tersebut."
Jenderal Babaker Zebari, pimpinan staf pasukan bersenjata Irak,
mengatakan musim panas lalu bahwa penarikan AS masih belum waktunya dan
bahwa pasukannya tidak akan mampu memastikan keamanan sepenuhnya sebelum
tahun 2020.
Jumlah pasukan AS di Irak mencapai lebih dari 170.000 pasukan
mengikuti invasi tersebut, namun sebagian besar pasukan tersebut
ditinggalkan setelah secara resmi mengakhiri operasi pertempuran Agustus
lalu.
Hampir 50.000 pasukan masih ada di sana sehubungan dengan penarikan sepenuhnya pada akhir tahun ini.