Suku-suku
di Libya pada hari Rabu kemarin (27/4) mendesak Muammar Gaddafi untuk
menyerahkan kekuasaannya, pada saat pemberontak yang didukung oleh
serangan udara NATO mengatakan, mereka berhasil mengusir pasukan Gaddafi
dari pelabuhan di Misrata.
Kepala atau wakil dari 61 suku dari seluruh negara Afrika Utara itu
menyerukan diakhirinya pemerintahan empat dekade Gaddafi, dalam sebuah
pernyataan bersama yang dirilis oleh penulis Perancis, Bernard-Henri
Levy.
"Dihadapkan dengan ancaman berat terhadap kesatuan negara kita,
berhadapan dengan manuver dan propaganda diktator dan keluarganya, kami
sungguh-sungguh menyatakan: Tidak ada yang akan memisahkan kami," kata
pernyataan, yang dirilis pada hari Rabu kemarin di Benghazi.
"Kami berbagi cita-cita yang sama dengan rakyat Libya yang menginginkan kebebasan, demokratis dan bersatu.
"Libya di masa depan, setelah diktator Gaddafi pergi, akan menjadi
Libya bersatu, dengan Tripoli sebagai ibukota dan di mana kami pada
akhirnya bebas untuk membangun masyarakat sipil sesuai dengan keinginan
kami sendiri," kata pernyataan tersebut.
Levy sendiri telah menjadi juru bicara tidak resmi di Paris untuk
kelompok pemberontak dan menekan Presiden Nicolas Sarkozy untuk
memobilisasi dukungan politik dan militer internasional untuk hal itu.
"Setiap suku di Libya diwakili oleh setidaknya beberapa perwakilan.
Dalam daftar ada 61 tanda tangan, beberapa suku diwakili hingga 100
persen dukungan, yang lain masih terbagi," katanya.
Seruan mereka datang pada saat pemberontak mengatakan mereka telah
berhasil mendorong kembali pasukan Gaddafi dan mengamankan pelabuhan
Misrata yang dikepung, sehari setelah itu pelabuhan itu dihujani roket
pasukan Gaddafi secara berkelanjutan.