
Israel diperkirakan akan terpukul keras oleh langkah itu karena pasokan Mesir bertanggung jawab untuk 40% dari gasnya.
Kesepakatan dengan Tel Aviv adalah isu yang sangat kontroversial selama pemerintahan Presiden Hosni Mubarak.
Empat perusahaan Israel telah menandatangani kesepakatan untuk mengimpor gas di bawah kontrak selama 20 tahun.
Kesepakatan itu telah berulangkali ditantang di pengadilan Mesir karena dilakukan tanpa konsultasi ke parlemen.
Sharraf juga akan bertemu dengan menteri energi Yordania untuk membahas kesepakatan gas dengan negaranya.
Kelompok oposisi telah lama mengeluhkan bahwa Mubarak menjual gas alam ke Israel dengan harga khusus.
Perkembangan itu muncul ketika jaksa penuntut umum Mesir memanggil
mantan presiden dan putranya untuk ditanyai mengenai korupsi dan
penggunaan kekerasan terhadap pemrotes damai.
Laporan sebelumnya mengatakan bahwa Mubarak dan mantan menteri
perminyakannya juga diselidiki untuk penjualan gas murah palsu ke rezim
Israel.
Kepala penuntut telah menerima bukti bahwa Mubarak dan Sameh Fahmy menjual gas alam ke Israel dan beberapa negara Barat di bawah harga pasar.
Fahmy baru-baru ini mengatakan pada penyidik bahwa dia hanya
melaksanakan perintah dari Mubarak. Namun, Mubarak membantah tuduhan
korupsi itu.
Pemerintah bersikukuh bahwa kesepakatan dengan Israel dilakukan atas
dasar komersial tapi tinjauan itu mungkin sebuah pertanda bahwa mereka
menuruti permintaan publik untuk meneliti kembali kesepakatan tersebut.
Pemerintah sementara Mesir memotong prediksinya untuk pertumbuhan
ekonomi dan investasi setelah pemberontakan yang menggulingkan
presidennya, mengganggu industri, dan menakuti turis asing.
Devisa turun hingga hampir lima miliar dolar dalam dua bulan menjadi
30.1 miliar dolar di akhir bulan Maret dan pemerintah tengah mencari
cara untuk mendorong pendapatan mata uang asing.
Mesir telah meningkatkan produksi gas tapi sebagian besar peningkatan
itu untuk mencukup kenaikan permintaan domestik saat konsumsi listrik
melonjak di negara berpenduduk 80 juta jiwa tersebut.
Menteri perminyakan Abdullah Ghorab mengatakan bulan lalu bahwa Mesir
tengah berupaya untuk mengubah kesepakatan ekspor gas dengan sejumlah
negara, terutama Israel.