Konflik Libya Pecah NATO Menjadi "Elang dan Merpati"

Written By Juhernaidi on Kamis, 14 April 2011 | 10:58:00 PM

Sekjen PBB, Ban Ki-moon (ka) berbicara dengan Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague sebelum dimulainya pertemuan kelompok kontak internasional pertama tentang Libya di Doha (13/4). Dalam pertemuan tersebut nampak adanya pemisahan di antara NATO tentang bagaimana menyelesaikan konflik Libya. (Foto: Reuters)
DOHA – Pemisah-misahan nampak di antara para sekutu pada hari Rabu (13/4), tentang bagaimana menyelesaikan konflik Libya, di tengah-tengah seruan mengirimkan pasukan ke medan tempur di negara Arab kaya minyak tersebut untuk menggulingkan pemimpin Libya, Moammar Gaddafi. "Ada banyak negara lainnya di seluruh Eropa dan bahkan negara-negara Arab yang adalah bagian dari koalisi ini," Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague mengatakan kepada kantor berita Reuters.
"Ada jangkauan untuk beberapa dari mereka untuk mengubah posisi beberapa pesawat mereka dari pertahanan udara menjadi berkemampuan serangan medan tempur."
Para anggota "kelompok kontak" internasional di Libya bertemu di Doha pada Rabu untuk membahas bagaimana menyelesaikan konflik Libya.
Namun pembagi-bagian muncul di antara para sekutu selama pertemuan tersebut.
Pembagi-bagian tersebut berkisar seputar mempersenjatai oposisi anti-Gaddafi dan menciptakan sebuah pendanaan dari aset-aset Libya yang dibekukan untuk membantu pihak oposisi berusaha untuk menggulingkan pemimpin Libya tersebut.
Inggris dan Perancis semakin dibuat frustasi bahwa serangan-serangan udara tersebut baik itu telah membalikkan keseimbangan perang dalam mendukung oposisi atau bahkan mengakhiri pemboman yang menghancurkan  kota terkepung, Misrata.
"Konflik ini akan berakhir dengan kepergian Gaddafi, dengan sebuah proses politik di Libya yang merupakan sebuah proses yang lebih inklusif," Hague mengatakan.
Menteri Luar Negeri Perancis, Alain Juppe mengkritisi NATO pada hari Selasa karena tidak melakukan cukup banyak untuk menghentikan pengeboman dari kota pelabuhan yang ditawan oposisi, di mana ratusan penduduk sipil dikatakan telah meninggal lebih dari enam pekan serangan.
Inggris dan Perancis, dua kekuatan utama militer Eropa Barat, menyerahkan sebagian besar serangan udara pada persenjataan Gaddati sejak Presiden Obama memerintahkan pasukan AS utnuk mengambil sebuah kursi belakang.
Negara-negara NATO lainnya baik itu menjauhkan jarak mereka dari kampanye atau memberlakukan sebuah zona larangan terbang namun tidak mengebom.
Televisi pemerintah Libya mengatakan pada hari Rabu bahwa pesawat-pesawat NATO telah mengebom jalan utama Misrata, skena pertempuran yang berulang antara para pasukan pemberontak dan pemerintah.
Dikatakan bahwa orang-orang terbunuh, tanpa memberikan rinciannya.
Penyiaran Libya mengatakan bahwa pesawat aliansi menyerang tempat kelahiran Gaddafi, Sirte, timur Misrata, dan Aziziyah, selatan Tripoli.
Namun sebuah celah besar muncul sekaligus antara NATO kubu elang dan kubu merpati.
"Tidak masuk akal mempersenjatai penduduk sipil, menurut resolusi PBB tahun 1973," kata Menteri Luar Negeri Belgia Steven Vanackere mengatakan kepada para reporter.
Di dalam perselisihan pendapat yang lainnya, Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westernwelle menyuarakan persyaratan tentang sebuah seruan Italia untuk menciptakan pendanaan dari aset-aset yang dibekukan untuk membantu oposisi Libya.
"Pertanyaannya adalah, apakah hal tersebut legal? Jawabannya adalah kami tidak tahu," ia mengatakan.
Hague, menteri luar negeri Inggris menyerukan sebuah mekanisme keuangan sementara untuk mendanai pemerintahan pemberontak di kawasan bagian timur yang mereka kendalikan, menurut kantor berita Reuters.
Oposisi tersebut mengatakan bahwa mereka membutuhkan $1,5 milyar dalam bantuan untuk para penduduk sipil.
Seorang juru bicara untuk dewan oposisi nasional di dalam pembicaraan Doha tersebut mengatakan bahwa koalisi tersebut mempertimbangkan untuk memasok persenjataan yang seharusnya untuk para tentara yang telah membelot dari angkatan darat.
Oposisi hanya memiliki "senjata primitif" yang diambil dari pasukan Gaddafi, ia mengatakan.
Hague juga mengusahakan sebuah pernyataan jelas dari kelompok kementerian bahwa Gaddafi harus pergi, sebuah tuntutan yang diulang-ulang di Doha oleh oposisi Libya.
Kelompok kekuatan internasional telah berjuang untuk menjangkau sebuah konsensus untuk menyerukan perubahan rejim.
Juru bicara oposisi, Mahmud Awad Shammam mengatakan bahwa dewan nasional mengambil sebuah pandangan positif tentang sebuah inisiatif oleh anggota Muslim NATO, Turki untuk sebuah transisi damai di Libya.
Namun ia menambahkan: "Mereka harus mengatakan kata ajaibnya – bahwa Gaddafi harus pergi."

Simulasi Jangka Sorong