Demi Serangan Ulat Bulu, Kementan Kerahkan Tim Ahli

Written By Juhernaidi on Kamis, 14 April 2011 | 11:04:00 PM

ILUSTRASI: Peneliti di Balai Proteksi Tanaman, Dinas Kelautan dan Pertanian Jakarta, memperkirakan nama spesies ulat bulu yang berkembang biak secara cepat di Tanjung Duren, Jakarta Barat, baru dapat dipastikan paling lambat awal Mei 2011. (foto: infopublik.depkominfo.go.id)
YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian akan menerjunkan tim ahli ke berbagai lokasi untuk membasmi ulat bulu yang menyerang pepohonan di sejumlah wilayah, kata Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti.

"Kami juga menyediakan insektisida dan pestisida sebagai alternatif terakhir pembasmian ulat bulu, selain mengupayakan predator atau musuh alami ulat tersebut," katanya di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis. Menurut dia, wabah ulat bulu merupakan siklus yang biasa terjadi setiap tahun. Namun, populasi atau jumlah ulat bulu yang ada saat ini jauh lebih banyak dibandingkan biasanya karena adanya perubahan iklim.

Perubahan iklim menyebabkan makanan ulat tersedia cukup banyak, sedangkan populasi musuh alaminya menurun sehingga terjadi booming populasi ulat bulu. Namun demikian, pemerintah telah siap untuk melakukan pembasmian dan pengendalian dengan berbagai upaya.

Ia mengatakan, ulat bulu yang menyebar di beberapa daerah itu sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Namun, kekhawatiran itu muncul karena aspek psikologis masyarakat yang ketakutan dengan wabah tersebut.

"Ulat bulu yang menyerang pepohonan itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi nggilani (menjijikkan) dan membuat gatal di kulit sehingga masyarakat merasa khawatir dan takut," katanya.

Ia mengatakan, ulat bulu itu diperkirakan akan hilang dengan sendirinya sebagai bagian proses ekologis dalam beberapa pekan ke depan. Ulat tersebut akan menjadi ngengat.

Oleh karena itu, menurut dia, pendekatan hayati dengan mengelola parasit musuh alaminya merupakan langkah yang tepat.

"Dengan menggunakan parasit alami, siklus hidup ulat itu diperkirakan akan berakhir sekitar 3-4 pekan ke depan. Jika masyarakat menganggap kurun waktu tersebut terlalu lama, kami akan menggunakan alternatif terakhir dengan penyemprotan insektisida dan pestisida," katanya.

Selain itu, Kementerian Pertanian (Kementan) juga akan membagikan lampu ultraviolet untuk mengumpulkan ngengat.

Ia mengatakan, di Probolinggo, Jawa Timur, yang mengalami serangan terbesar ulat bulu, telah tumbuh parasit alami berupa jamur dan bakteri sampai 80 persen, sehingga dengan sendirinya ulat akan hilang.

Berdasarkan data terakhir, ulat bulu telah menyerang pepohonan di beberapa wilayah di antaranya Jawa Tengah meliputi Kendal sebanyak 40 pohon, Demak (11 pohon), dan Blora (10 pohon ).

Selain itu, juga menyerang pepohonan di Bali sebanyak dua pohon dan beberapa pohon di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Di Probolinggo telah menyerang 14.500 pohon mangga atau 1,5 persen dari 1,8 juta pohon mangga yang ada di wilayah tersebut," katanya.

Sementara itu, Peneliti di Balai Proteksi Tanaman, Dinas Kelautan dan Pertanian Jakarta, memperkirakan nama spesies ulat bulu yang berkembang biak secara cepat di Tanjung Duren, Jakarta Barat, baru dapat dipastikan paling lambat awal Mei 2011.

“Untuk mengetahui sampai ke tingkat spesiesnya kami butuh waktu. Saat ini masih pemeriksaan dulu. Karena kami mesti melihat detail-detail dari proses perkembangan ulat itu,” kata Muanis, salah satu peneliti di Laboratorium Hama Penyakit Balai Proteksi Tanaman, Jakarta, Kamis (14/4/2011).

Sejauh ini, Muanis menyatakan, peneliti baru berhasil mengidentifikasi golongan ulat bulu di Tanjung Duren itu. Yakni, golongan ulat bulu famili Lymantriidae.

Seperti diketahui, selama sepekan terakhir, ribuan ulat bulu memenuhi puluhan pohon cemara yang berdiri di sepanjang Kali Sekretaris, Tanjung Duren. Ulat-ulat itu memakan daun cemara dan bersembunyi di kulit batang pohon.

Kepala Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, Bambang Wisanggeni, menjelaskan fenomena ulat bulu yang terjadi di daerahnya beda dengan di Probolinggo, Jawa Timur. Kebiasaan ulat bulu Tanjung Duren hanya hinggap di pohon cemara, sementara di Probolinggo umumnya di pohon mangga.

“Dan ulat bulu di Tanjung Duren ini tidak sampai masuk rumah warga,” kata Bambang. “Dan ini tidak membahayakan.”

Alumni Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jurusan Agronomi tersebut menjelaskan bahwa fenomena ulat bulu Tanjung Duren bukan terjadi karena makin berkurangnya pepohonan yang menjadi sumber makanan utama bagi ulat.

Tetapi, kata Bambang, terjadi karena perubahan alam yang kemudian memicu penurunan populasi burung dan semut cangkrang yang selama ini menjadi pemakan ulat bulu. Karena jumlah predator berkurang, maka ulat bulu bebas dan cepat berkembang biak.

“Dengan kata lain, semakin kurangnya jumlah burung dan semut cangkrang membuat mata rantai makanan tidak berjalan dengan normal lagi,” kata dia.

Simulasi Jangka Sorong