SANA'A - Sekitar 10.000 perwira Yaman dan tentara
Garda Republik, Pusat Keamanan dan Angkatan Udara membelot dari
pemerintah pada hari Rabu untuk bergabung dengan pemberontak menuntut
dari Presiden Ali Abdullah Saleh untuk segera turun, seorang pejabat
militer mengatakan kepada Xinhua.
"Lebih dari 10.000 perwira dan prajurit dari Tentara Republik, Pusat
Keamanan dan Angkatan Udara tiba pada hari Rabu di markas besar tentara
Divisi I Lapis Baja di ibukota Sanaa dan bertemu dengan komandan divisi
Jenderal Ali Muhsin al-Ahmar," kata pejabat itu kepada Xinhua, yang
meminta agar identitasnya tetap anonim.
"Mereka menyatakan di depan komandan al-Ahmar mengenai pembelotan
mereka dari pemerintah Saleh dan bergabung dengan para pengunjuk rasa
yang dipimpin oleh para pemuda, bersumpah untuk mendukung dan melindungi
revolusi damai dari pemuda," kata pejabat itu.
Ratusan warga Yaman bersorak sorai menyambut para perwira yang
bergabung dengan kerumunan orang di pusat ibukota Sana'a, di mana
pemrotes menggelar demonstrasi.
Para perwira dan prajurit sebelumnya menyatakan keputusan mereka
kepada Komandan Jenderal Ali Muhsin al-Ahmar di markas tentara Divisi
Lapis Baja I di Sana'a.
Sebelum hari itu, seorang pejabat militer mengatakan kepada Xinhua
bahwa seorang prajurit dan seorang perwira dari divisi tentara al-Ahmar
tewas dalam serangan semalam oleh pasukan keamanan pro-Saleh di Sanaa.
Ia mengatakan pasukan militer juga menembak mati empat orang penyerang.
Kantor berita Negara Saba pada akhir Rabu mengutip seorang pejabat
Departemen Pertahanan yang mengatakan bahwa pasukan yang membelot dari
Divisi Lapis Baja I mulai menyerang pasukan keamanan pro-pemerintah,
menuduh unit tentara yang membelot itu berencana untuk mengobarkan
hasutan.
Al-Ahmar, kepala Divisi Lapis Baja I dan komandan Daerah Militer
Barat Laut, adalah saudara tiri dari Presiden Saleh. Dia membelot dari
pemerintah untuk bergabung dengan para demonstran setelah penembakan
terhadap pengunjuk rasa di Sana'a pada 18 Maret.
Pada hari Selasa, al-Ahmar menyuarakan dukungan untuk rencana oleh
Gulf Cooperation Council (GCC) yang meminta Saleh untuk menyerahkan
kekuasaan kepada wakilnya dan mendapatkan kekebalan dari tuntutan.
Yaman telah mengalami protes anti-pemerintah yang
menuntut untuk segera mengakhiri kekuasaan 33 tahun Saleh sejak
pertengahan Februari. Krisis politik mengakibatkan memburuknya keamanan
dan stabilitas negara setelah pemerintah menarik polisi dari beberapa
kota provinsi besar dengan dalih untuk menghindari gesekan dengan para
pengunjuk rasa.
Sementara itu Presiden pada 28 Maret mengakui bahwa ia telah
kehilangan kontrol atas lima provinsi, yang telah direbut baik oleh para
suku ataupun oleh al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).
Sementara itu, bentrokan antara pasukan pemerintah dan pasukan yang
memihak protes anti-pemerintah telah menyebabkan sedikitnya lima orang
tewas di ibukota Yaman.
Pembelotan tersebut terjadi sementara protes anti-rezim mendapatkan momentumnya di Yaman yang dilanda krisis.
Saleh telah menolak untuk menyerahkan kekuasaan walaupun ada protes
luas sejak pertengahan Februari terhadap 30 tahun pemerintahannya.