TRIPOLI – Setidaknya ada dua orang putra Kolonel
Muammar Gaddafi yang mengajukan penyelesaian konflik Libya, yang di
antaranya termasuk rencana menggulingkan ayah mereka untuk memberi jalan
bagi demokrasi konstitusional di bawah arahan putra Gaddafi, Saif
al-Islam Gaddafi. Hal itu diungkapkan seorang diplomat dan pejabat Libya
yang mengklaim mengetahui rencana tersebut pada hari Minggu (3/4).
Para pemberontak Libya, juga Amerika dan Eropa yang mendukung
pemberontak dengan serangan udara sejauh ini bersikeras melakukan
langkah lebih radikal untuk menghadapi rezim Gaddafi yang sudah berusia
40 tahun. Masih belum jelas apakah Kolonel Gaddafi, 68, telah
menandatangani proposal yang didukung dua putranya, Saif dan Saadi
al-Gaddafi, atau belum, meski salah satu orang dekat dari para putranya
mengatakan bahwa sang ayah agaknya bersedia mengikutinya.
Akan tetapi, proposal tersebut memperlihatkan sudut pandang baru
terhadap dinamika keluarga Gaddafi di saat sang kolonel yang punya tujuh
orang anak tersebut amat mengandalkan anak-anaknya.
Usai dikhianati salah satu orang kepercayaannya, Moussa Koussa, dan
diisolasi selama berpuluh-puluh tahun oleh upaya kudeta dan penyingkiran
internal, Gaddafi bergantung pada para putranya dan menjadikan mereka
ajudan dan komandan militer terpercaya.
Gagasan tersebut juga memperlihatkan perbedaan antara putra-putra
Gaddafi yang telah sejak lama terjadi. Saif dan Saadi dikenal condong
terhadap perekonomian dan perpolitikan bergaya Barat, sementara Khamis
dan Mutuassim dianggap lebih bergaris keras.
Khamis memimpin sebuah kelompok milisi yang ditakuti yang bertugas
menghalau kerusuhan di dalam negeri. Sementara Mutuassim adalah seorang
penasihat keamanan nasional yang juga mengomandoi milisinya sendiri.
Khamis dan Mutuassim dianggap sebagai pesaing Saif sebagai penerus
sang ayah. Tapi Saadi, seorang perwira militer dan pengusaha yang sempat
mencoba namun gagal mengembangkan karier sebagai pesepak bola
profesional, mendukung rencana tersebut.
Kedua putra Gaddafi tersebut "ingin membawa negara menuju perubahan"
tanpa sang ayah, kata seorang sumber yang tidak bersedia menyebutkan
namanya yang dekat dengan kemah Saif dan Saadi, Minggu.
"Mereka telah begitu sering menemui jalan buntu saat berhadapan
dengan para penjaga yang lama, dan jika mereka bisa melangkah maju, maka
mereka akan membawa negara ini naik dengan cepat." Seorang putra
Gaddafi, kata sumber itu, telah berulang kali mengatakan bahwa
"keinginan para pemberontak adalah keinginannya."
Proposal tersebut merupakan bagian terbaru dari drama yang melibatkan
Saif dan ayahnya selama bertahun-tahun saat sang putra mendorong seruan
menuju reformasi politik kemudian ia menariknya kembali. Dalam unjuk
rasa baru-baru ini, Saif agaknya mengikuti ayahnya yang bersumpah
mengatasi para pemberontak.
Proposal itu juga merupakan pertanda terbaru bahwa pemerintahan
Gaddafi mungkin merasakan tekanan dari serangan udara yang banyak
mengurangi keunggulan pasukan rezim tersebut. Seperti dilansir kantor
berita Reuters, seorang pejabat senior Libya tiba di Athens
untuk membicarakan mengenai kemungkinan penyelesaian konflik di Libya.
Orang kepercayaan Saif, Mohamed Ismail, juga baru kembali dari
perjalanan ke London. Seorang pejabat Libya mengatakan bahwa Ismail
menyerahkan proposal agar Saif mengambil alih kendali dari ayahnya.
Mutuassim mungkin khususnya menentang hal itu karena memang ia sejak lama dikenal sebagai rival Saif.
Setelah Saif berkunjung ke Washington pada 2008 untuk bertemu dengan Condoleeza Rice, menlu AS kala itu, sebuah kawat WikiLeaks menyebutkan mengenai ketegangan Saif dengan saudara-saudaranya.
Saat Mutuassim mengunjungi Washington setahun setelahnya, duta besar
AS untuk Libya menuliskan, "Keinginan Mutuassim mengunjungi Washington
musim panas ini dan fokusnya yang agaknya besar sekali untuk bertemu
dengan para pejabat pemerintahan AS dan menandatangani kesepakatan
agaknya sebagian disebabkan oleh persaingan dengan Saif al-Islam."
Akan tetapi, seorang diplomat yang mengetahui proposal itu mengatakan
bahwa pembicaraan yang dilakukan masih baru memasuki tahapan awal.
Proposal gencatan senjata antara pasukan Gaddafi dan pemberontak
agaknya juga menemui jalan buntu. "Bagi Gaddafi, gencatan senjata
artinya semua orang harus berhenti menembak, tapi pasukannya tetap pada
posisi mereka, namun bagi pemberontak, (gencatan senjata) artinya
pasukan Gaddafi harus mundur," kata diplomat itu