ABIDJAN – PBB telah meluncurkan serangan-serangan
udara terhadap Laurent Gbagbo, orang kuat Pantai Gading yang telah
menolak untuk melepaskan kekuasaan, dalam pembalasan dendam untuk
serangan "sembrono dan tak ada artinya" oleh personilnya dan para
penduduk sipil.
Menurut para saksi, sedikitnya empat misil ditembakkan dari helikopter PBB di Abidjan, ibukota ekonomi negara Afrika tersebut.
Hamadou Toure, juru bicara pimpinan PBB di Pantai Gading, mengatakan
kepada kantor berita harian Daily Telegraph bahwa PBB telah menyerang
dua kamp militer yang dikendalikan oleh Gbagbo bersamaan dengan istana
kepresidenan dan kediamannya.
Ia menolak untuk mengatakan senjata apa yang digunakan, namun
menekankan bahwa kewaspadaan sedang dilakukan untuk memastikan bahwa
para penduduk sipil tidak disakiti. "Kami terlibat dalam menetralkan
senjata berat yang pasukan khusus Gbagbo telah gunakan selama beberapa
bulan terhadap warga sipil dan pasukan kami," ia mengatakan.
"Di samping semua peringatan dan kewaspadaan, mereka tetap
menggunakan senjata-senjata berat tersebut terhadap kami. Apa yang kami
lakukan sejalan dengan mandat kami dan sejalan dengan resolusi tahun
1975 yang diadopsi pekan lalu. Mandat kami adalah melindungi
nyawa-nyawa tak berdosa dan itulah apa yang kami lakukan."
Serangan-serangan tersebut dilakukan oleh helikopter-helikopter dari pasukan Perancis Licorne.
Choi Young-jin, perwakilan khusus PBB di Pantai Gading, mengatakan
bahwa 11 dari penjaga perdamaiannya telah terluka oleh tembakan dan
pasukannya sekarang tinggal "di bawah kepungan, di sebuah bunker" karena
penargetan yang disengaja oleh para pendukung Gbagbo.
Alassane Ouattara, pemenang pemilihan pada bulan November yang diakui
secara internasional, pada hari Senin meluncurkan apa yang ia janjikan
akan menjadi sebuah "serangan cepat" pada posisi Gbagbo di Abidjan.
Guillaume Soro, Perdana Menteri Ouattara dan komando pasukan
nouvelles (baru), mengatakan bahwa orang-orang Gbagbo telah mulai
"panik" dan ia percaya diri bahwa pertempuran dapat dimenangkan dalam
beberapa hari.
Kelompok pasukan mulai bergerak menuju pemukiman Gbagbo dan istana kepresidenan.
Petugas komando pasukan baru, Issiaka "Wattao" Ouattara, mengatakan
bahwa ia memiliki 4.000 orang bersama dengannya ditambah 5.000 orang
lainnya yang telah ada di kota tersebut. Ditanya berapa lama yang ia
butuhkan untuk mengabil alih Abidjan, Wattao mengatakan: "Akan
membutuhkan 48 jam untuk membersihkan kota tersebut sebaik-baiknya."
Gbagbo telah mendukung 2.000 garda republikan yang dipersenjatai
dengan baik dan para pendukung yang telah membentuk sebuah perisai
manusia di sekeliling kediamannya. Jika pimpinan angkatan daratnya
jenderal Philippe Mangouand, dan mereka yang ia komandoi setuju untuk
mengangkat senjata lagi, pasukan Ouattara akan menghadapi sebuah tugas
yang sulit.
Jenderal Mangou kembali pada percekcokan tersebut pada Senin setelah
mencari perlindungan bersama keluarganya di rumah kedutaan besar Afrika
Selatan pada Jum'at.
Dalam antisipasi dari pertempuran yang menentukan yang telah
dijanjikan oleh pihak Ouattara selama berhari-hari, Perancis mendukung
pasukannya dengan 150 orang lagi setelah menambahkan 300 orang pada
penugasannya di akhir pekan.
1.650 pasukan, yang adalah bagian dari kontingen PBB, telah merancang
dua pangkalan lagi untuk menjaga keselamatan 1.650 penduduk sipil –
sebagian besar Perancis dan Libanon. Pada Senin pasukan tersebut mulai
mengevakuasi kelompok pertama dari bandara kota, yang sekarang sudah
dikendalikan.
Sementara itu, Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB memperingatkan bahwa
sebanyak seperempat juta pengungsi dapat melarikan diri menyeberang
perbatasan ke Liberia untuk melarikan diri dari kekerasan. Agen-agen
bantuan mengatakan bahwa 100.000 pengungsi telah berhasil menyeberang.