
Pagi itu, anak-anak ini berkumpul sebagai bagian dari inisiatif
perintis yang bertujuan menghubungkan sekolah-sekolah dengan komunitas
beragam. Anak-anak itu telah membangun hubungan sejak bulan September
lalu, saling mengirimkan surat dan foto tentang diri mereka sendiri dan
hobi mereka. Hari itu, mereka akan saling bertatap muka untuk pertama
kalinya.
Menurut Penny Lasham, seorang guru dari sekolah Hillborough, yang
merupakan manajer operasi dari proyek tersebut, sebuah tempat yang
netral adalah penting untuk menghindari isu teritorial.
Proyek yang didanai oleh Departemen Pendidikan itu pertama kali
dimulai di Bradford lima tahun lalu, tapi merupakan hal yang baru bagi
sekolah-sekolah Luton. Dan bukan kebetulan jika inisiatif berjuluk
"Jaringan Menghubungkan Sekolah" itu berlangsung di Luton.
Luton telah menjadi steno media untuk kegagalan multikulturalisme,
menjadi rumah bagi sekelompok orang yang mengejek tentara Inggris yang
pulang dari Irak dan tempat lahir partai ekstrim kanan English Defence
League. St Joseph, sebuah sekolah agama yang 49% muridnya adalah kaum
kulit putih Ingris, dan William Austin, yang hanya 2.4% saja dari
muridnya yang kulit putih, adalah satu dari 10 pasang sekolah bertolak
belakang yang telah dihubungkan.
Dengan diawasi para guru, murid-murid St Joseph berbaris masuk ke
aula utama dan mengambil tempat duduk di belakang anak-anak dari
William Austin. Lasham menyambut anak-anak itu sebelum meminta mereka
untuk membentuk lingkaran. Anak-anak secaa alami bergerombol dengan
teman-teman mereka, dua semi lingkaran besar yang bergabung bersama
dengan longgar. "Baiklah, sekarang kita akan menukar tempat kalian,"
ujarnya. Terdengar hembusan nafas terkejut yang keras.
Lasham kemudian meminta anak-anak itu untuk mengangkat tangan jika
mereka makan malam dengan pizza dan bergabung anak lainnya yang
memiliki menu makan malam yang sama. Pertanyaan selanjutnya, "Siapa
yang gugup untuk datang ke sini pagi ini?" "Siapa yang suka sepakbola?"
"Siapa yang lahir di luar Inggris, siapa yang lahir di Inggris?" Dengan
setiap pertanyaan, kelompok diatur ulang.
Tugas berikutnya anak-anak itu adalah untuk menemukan orang yang
tidak mereka kenal dan saling bertanya tentang kesamaan dan perbedaan
mereka. Yang mengejutkan adalah mereka memilih warna mata, warna
sepatu, dan tim sepakbola favorit alih-alih agama atau warna kulit.