Anak-anak Muslim dan Katolik Sejenak Lupakan Perbedaan

Written By Juhernaidi on Rabu, 13 April 2011 | 8:06:00 AM

Seorang murid Muslim dan Katolik Inggris nampak membaur tanpa memandang adanya perbedaan di antara mereka, di tengah ketegangan agama yang sering meledak di negara itu.  (Foto: Guardian)
LUTON  – Terdapat suasana kegembiraan gugup di dalam ruang utama Pusat Seni Carnival, Luton. Tiga puluh anak, semua murid kelas 5 di sekolah junior William Austin di Luton, duduk dalam barisan yang rapi, mengenakan seragam berdasi hitam dengan garis-garis putih, kuning, dan biru. Terlepas dari satu anak berkulit hitam, mereka semua adalah etnis Asia dan mayoritas Muslim. Di ruangan yang sama, terdapat 30 anak lainnya, semua memakai dasi merah bergaris perak. Anak-anak itu adalah murid St Joseph, sebuah sekolah junior Katolik yang berlokasi dekat dengan William Austin, tapi mayoritas dari murid-muridnya adalah ras kulit putih.
Pagi itu, anak-anak ini berkumpul sebagai bagian dari inisiatif perintis yang bertujuan menghubungkan sekolah-sekolah dengan komunitas beragam. Anak-anak itu telah membangun hubungan sejak bulan September lalu, saling mengirimkan surat dan foto tentang diri mereka sendiri dan hobi mereka. Hari itu, mereka akan saling bertatap muka untuk pertama kalinya.
Menurut Penny Lasham, seorang guru dari sekolah Hillborough, yang merupakan manajer operasi dari proyek tersebut, sebuah tempat yang netral adalah penting untuk menghindari isu teritorial.
Proyek yang didanai oleh Departemen Pendidikan itu pertama kali dimulai di Bradford lima tahun lalu, tapi merupakan hal yang baru bagi sekolah-sekolah Luton. Dan bukan kebetulan jika inisiatif berjuluk "Jaringan Menghubungkan Sekolah" itu berlangsung di Luton.
Luton telah menjadi steno media untuk kegagalan multikulturalisme, menjadi rumah bagi sekelompok orang yang mengejek tentara Inggris yang pulang dari Irak dan tempat lahir partai ekstrim kanan English Defence League. St Joseph, sebuah sekolah agama yang 49% muridnya adalah kaum kulit putih Ingris, dan William Austin, yang hanya 2.4% saja dari muridnya yang kulit putih, adalah satu dari 10 pasang sekolah bertolak belakang yang telah dihubungkan.
Dengan diawasi para guru, murid-murid St Joseph berbaris masuk ke aula utama dan mengambil tempat duduk di belakang anak-anak dari William Austin. Lasham menyambut anak-anak itu sebelum meminta mereka untuk membentuk lingkaran. Anak-anak secaa alami bergerombol dengan teman-teman mereka, dua semi lingkaran besar yang bergabung bersama dengan longgar. "Baiklah, sekarang kita akan menukar tempat kalian," ujarnya. Terdengar hembusan nafas terkejut yang keras.
Lasham kemudian meminta anak-anak itu untuk mengangkat tangan jika mereka makan malam dengan pizza dan bergabung anak lainnya yang memiliki menu makan malam yang sama. Pertanyaan selanjutnya, "Siapa yang gugup untuk datang ke sini pagi ini?" "Siapa yang suka sepakbola?" "Siapa yang lahir di luar Inggris, siapa yang lahir di Inggris?" Dengan setiap pertanyaan, kelompok diatur ulang.
Tugas berikutnya anak-anak itu adalah untuk menemukan orang yang tidak mereka kenal dan saling bertanya tentang kesamaan dan perbedaan mereka. Yang mengejutkan adalah mereka memilih warna mata, warna sepatu, dan tim sepakbola favorit alih-alih agama atau warna kulit.

Simulasi Jangka Sorong