PD ”Kambinghitamkan” Pihak Luar

Written By Juhernaidi on Rabu, 11 Mei 2011 | 7:37:00 AM

JAKARTA – Partai Demokrat mulai kerepotan menghadapi isu dugaan suap seskemenpora yang terus menyeret-nyeret nama sejumlah petinggi partainya. Isu perpecahan pun ditanggapi dengan tudingan adanya kekuatan besar pihak-pihak tertentu yang ikut bermain dalam kasus tersebut.

Ketua Departemen Penegakan Hukum DPP Partai Demokrat Benny K. Harman merasa, kekuatan itu terus berupaya memecah belah partainya. ”Ada yang coba mengadu domba, ada invisible hand yang ikut bermain, iya, mungkin iya,” ujar Benny, dalam keterangan pers di ruang fraksi, komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5).

Satu di antara indikasi yang paling terlihat, kata dia, adalah bisa beredarnya berita acara pemeriksaan (BAP) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di masyarakat. ”Kok bisa beredar itu juga kami tidak tahu bagaimana ceritanya, itu luar biasa anehnya, BAP kok bisa bocor,” imbuhnya.

Dalam BAP yang sempat beredar, diceritakan kalau salah satu tersangka yang ikut tertangkap tangan Mindo Rosalina Manulang sempat mengakui kepada penyidik kalau pernah melakukan pertemuan dengan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M. Nazaruddin. Dari pertemuan itulah, pihaknya diminta untuk memfasilitasi (broker) pelak proyek pembanguna Wisma Atlet terkait penyelenggaraan Sea Games di Palembang. Nilainya 200 miliar.

Meski menyatakan, kalau ada kekuatan besar yang ingin memecahbelah partainya dengan memunculkan kasus tersebut, Benny menegaskan kalau partainya tetap kompak hingga saat ini. ”Ibarat pohon, semakin tinggi pohon semakin kencang juga angin menerpa,” ujar ketua komisi hukum dan HAM DPR tersebut.

Saat itu, Benny bersama Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika Ruhut ‘Poltak’ Sitompul sebenarnya hanya mendampingi M. Nazaruddin. Namun, keduanya yang justru paling banyak mengambil porsi untuk memberikan keterangan.

Pernyataan adanya pihak-pihak yang secara sistematis berusaha ’mengganggu’ partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2009 lalu itu juga dinyatakan Wasekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustopa. ”Dalam politik itu semua kemungkinan memang akan selalu ada,” ujar Saan, di komplek parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

Terkait hal itu, dia lantas mengingatkan kalau hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan. Saan mengibaratkan, kasus travel check terkait pemilihan gubernur BI yang banyak menyeret kader partai lain beberapa waktu lalu. ”Banyak yang menganggap kalau saat itu kami (Demokrat, Red) bisa meraih keuntungan, tapi saya katakan, bahwa kita semua tidak boleh mengambil keuntungan sendiri di atas penderitaan orang lain,” sindirnya.

Akibat isu dugaan suap sesmenpora yang terus bergulir dan menyeret nama Nazaruddin, posisi politisi muda berlatarbelakang pengusaha itu sebagai bendahara umum juga sempat dikabarkan digusur. Bahkan, tidak hanya itu, isu liar terkait rencana mengadakan kongres luar biasa (KLB) juga sempat berhembus.

”Pergantian bendahara umum itu tidak ada. Apalagi KLB, tidak ada itu, tidak ada relevansinya,” bantah Saan. Dia menyatakan, sebagai partai yang sehat, Demokrat dalam memutuskan sesuatu selalu berdasar pada hal-hal yang telah pasti.  Dia lantas menghubungkannya dengan isu perpecahan yang muncul belakangan ini.

Menurut dia, partainya sesungguhnya telah berhasil menunjukkan kedewasaan berpolitik ketika ada kompetisi yang cukup ketat saat kongres 2010 lalu. ”Sampai sekarang, saya yakin itu tetap dipertahankan, tidak ada kubu-kubuan,” imbuh salah satu orang dekat Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum tersebut.

Simulasi Jangka Sorong