Kanker
tulang belakang juga dapat menyebabkan inkontinensia. Gejala ini sangat
mirip dengan kelemahan, karena tekanan pada saraf tertentu dalam tulang
belakang yang bertanggung jawab untuk mengontrol kinerja kandung kemih
dan usus.
Jika impuls terganggu, dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontrol kandung kemih mereka, usus, atau keduanya.
Perkembangan
sel kanker diawali dengan pertumbuhan sel plasma, yang merupakan salah
satu bagian dari sel darah putih dalam sumsum tulang yang tidak normal.
Sel plasma itu dalam kondisi normal diperlukan, karena menghasilkan
protein yang disebut antibodi, sebagai bagian dari sistem imunitas
tubuh.
Pada penderita myeloma, sel plasma melebihi kadar normal.
Dari lima persen sel plasma yang seharusnya ada di sumsum tulang, pada
penderita kanker ini kadarnya bisa dua kali lipat.
Sel plasma
yang abnormal ini tidak hanya berdiam di sumsum, tapi juga pada bagian
tubuh lain, dan kerap ditemukan di tulang panggul, tulang rusuk, serta
tulang tengkorak-karena itu disebut multiple myeloma. Antibodi yang
dihasilkan pun ikut meningkat.
Antibodi yang abnormal tadi
terkumpul di dalam darah atau air kemih, kadang ditemukan juga di daerah
selain tulang, misalnya di paru dan organ reproduksi. Pecahan dari
antibodi yang abnormal (protein Bence-Jones) kerap terkumpul di ginjal,
merusak dan memicu gagal ginjal.
Selain itu, penderita mengalami
anemia, karena sel normal penghasil sel darah merah di sumsum tulang
belakang tergeser oleh sel yang tidak normal. Darah yang
mengental (sindroma hiperviskositas) pun bisa mempengaruhi aliran darah
ke otak, kulit, jari tangan dan kaki, serta hidung.
Seiring
perkembangan kanker tulang belakang, seseorang mungkin menderita
kelumpuhan. Tergantung pada beratnya kanker, kelumpuhan dapat diisolasi
untuk satu anggota badan.
Ukuran dan lokasi pertumbuhan
menentukan jumlah kelumpuhan, karena kanker bisa sampai ke titik di mana
saraf tampaknya putus atau lesi telah terbentuk pada saraf itu sendiri.
Pengobatan
myeloma seperti kemoterapi yang dilakukan hari-hari ini sebatas
mencegah atau mengurangi gejala dan komplikasinya, memperlambat
perkembangan penyakit, dan menghancurkan sel plasma yang abnormal.
Selain
kemoterapi, terapi sel punca (stem cell) dikenal sebagai cara meredam
kanker sumsum tulang belakang. Kanker yang sudah hilang itu bakal muncul
lagi..