Dia juga menyayangkan beberapa pengamat eks Anggota Jamaah Islamiyah
yang mengatakan Pepi berasal dari jaringan NII. Menurut Manullang,
inilah yang meresahkan masyarakat.
"Itu kan menurut pengamat
bekas Jamaah Islamiyah Pepi ini NII, baru-baru ini, saya melihat suatu
tayangan TV swasta ini, dia minta komentar tentang NII sebenarnya TV
swasta yang mengedarkan itu sungguh meresahkan masyarakat," jelas
Manullang.
Jika benar Pepi adalaah anggota NII, tentunya
pemerintah harus membubarkan NII itu sendiri, pasalnya hal ini
bertentangan dengan UU Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
karena membuat negara di dalam negara dan harus ditolak atau
dibubarkan.
"Tapi jika memang seperti ini, pemerintah yang
sudah mendapatkan laporan ini, dalam hal ini Presiden, perlu bertindak
tegas dengan menolak atau membubarkan sekaligus. Karena NII ini sudah
melanggar UU NKRI dan mereka mengaku yang disana itu ada negara Islam
yang punya pemerintahan sendiri, ini kan berarti negara di dalam
negara. Maka ini bagi saya melanggar UU," lengkapnya.
Pepi
Fernando diduga adalah salah satu anggota NII. Pepi sendiri adalah
tersangka otak rencana aksi bom di Gereja Christ Cathedral, Serpong
sekaligus perakit bom buku yang beberapa waktu meledak di Kantor KBR
68H, Utan Kayu, Jakarta Timur.
Saat penggerebekan di kediaman
Pepi, Minggu 24 April siang, di Jalan Seruni II, Nomor 14, Blok CE, RT
08/19 Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Barat, Jawa
Barat, ditemukan barang bukti satu granat nanas dan sebuah campuran
adonan bahan peledak diameter tiga sentimeter.
Sebelumnya,
Gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang muncul saat ini dianggap
mempunyai pola dan sasaran baru, kata peneliti terorisme di Indonesia,
Noor Huda Ismail.
"Pola dan sasaran paham NII sekarang berbeda
dengan zaman Kartosuwiryo dulu," kata peneliti yang juga menjabat
Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, di Semarang, Minggu.
Ia mengatakan, gerakan NII yang muncul sekarang memiliki pandangan
imajiner bahwa mereka menginginkan suatu negara yang memiliki dasar
negara dan undang-undang Syariat Islam sehingga dari pemikiran tersebut
muncul sikap untuk menghalalkan segala cara.
Munculnya kembali
gerakan Negara Islam Indonesia (NNI) diduga sengaja dibuat oleh siluman
politik sebagai pengalihan isu dan merusak citra Islam. Hal ini
disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional
Amien Rais usai membuka musda III DPD PAN di Karanganyar, Jawa Tengah.
Menurut Amien, munculnya kembali NII hanya sekadar pengalihan yang
sengaja dihembuskan pihak-pihak tertentu seperti layaknya isu terorisme
untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap kasus-kasus besar yang
tengah terjadi. Untuk itu, Amien, menghimbau kepada seluruh penggerak
NII segera sadar diri.
Mantan Ketua MPR ini menambahkan,
gerakan NII hanya akan berakhir tragis seperti gerakan-gerakan serupa
di masa lalu semisal DI/ TII dan PRRI-Permesta. Karena secara umum,
umat Islam di Indonesia dengan tegas menyatakan sikapnya untuk tetap
mempertahankan dan mendukung ideologi Pancasila.
Lebih jauh
Amien mengatakan, kemunculan kembali gerakan NII harus disikapi secara
jelas. Kemunculan itu benar-benar kelompok ekstrim atau hanya sekadar
siluman politik yang sengaja dibuat kelompok tertentu merusak citra
Islam dan pengalihan isu. Amien meminta pemerintah bersikap tegas dan
tidak melakukan pembiaran.