Dibanding dengan teman-teman yang bersamaan denganku datang ke
Berlin, aku sendiri yang belum ikut kursus bahasa karena semua tempat
kursus yang ada, tidak memfasilitasi Kinderbetreuung untuk anak di bawah usia 2 tahun, sedangkan saat itu anakku masih berumur setahun.
Jadilah aku belajar otodidak, hingga suatu hari ketika sedang
berjalan-jalan bersama putraku tak jauh dari apartemen tempat kami
tinggal di Sparr Strasse, kubaca sebuah pamflet yang
memberitahukan ada kursus gratis khusus untuk perempuan asing, dan
tempat kursus tersebut memperbolehkan membawa anak di bawah umur 2
tahun. Alhamdulillah, aku merasa gembira saat itu, karena berat
rasanya hidup di negeri orang tanpa bisa berkomunikasi dengan bahasa
yang digunakan negeri tersebut. Sebenarnya saat membaca pamflet itu,
pendaftaran sudah ditutup.
Namun mendengar informasi dari seorang sahabatku tentang masih ada
peluang kursus di situ, akhirnya aku nekad mendatangi tempat itu. Dan,
itulah awal aku mengenal sosok guru kursus bahasa Jermanku yang
pertama.
Setelah Frau Larscheid menyudahi percakapan dengannya dan berlalu
diiringi ucapan selamat belajar padaku, wanita bermata hijau dan
berambut coklat terang itu menatapku dari ujung kepala hingga kaki.
Ia tertegun beberapa saat, sorot matanya seolah tak percaya melihat
sosok di hadapannya, wanita Asia dengan gamis dan jilbab lebar
menggendong anak kecil akan menjadi peserta kursusnya. Kubalas
tatapannya dengan senyum dan sorot mata berusaha meyakinkan bahwa aku
serius, ingin belajar. Tak lama kemudian ia mempersilakanku masuk.
Wanita itu sekilas mengenalkanku pada peserta kursus lainnya dan ia
pun mengenalkan dirinya. Kini kuketahui sedikit tentangnya, ia
bernama Svetleona, seorang profesor di bidang literatur berkebangsaan
Russia. Ia bergabung dalam sebuah komunitas peduli orang asing di
Berlin sebagai pengajar tata bahasa Jerman untuk pemula. Selain
dirinya, ada juga Aimee-berkebangsaan Perancis mengajar kelas
percakapan, Marco berdarah campuran Itali-Jerman mengajarkan kami
melukis dan Huebert memandu kelas komputer.
Kesan pertamaku pada sang profesor, ia begitu 'angker' saat
mengajar. Berkali-kali pandangannya tertuju padaku, memastikan bahwa
anakku tak kan membuat keonaran. Alhamdulillah, putraku diberi
ketenangan oleh-Nya. Ia duduk dalam pangkuanku sambil mencoret-coret
kertas yang kuberikan padanya, terkadang ia asyik dengan mainan yang
kubawa. Sesekali aku minta ijin pada Svetleona untuk menyusui putraku
di dalam kelas tersebut. Hal ini cukup menyedot perhatiannya juga
peserta kursus lainnya. Sementara itu, putraku nyaman di balik
jilbabku.
Dari hari ke hari, suasana kelas saat Svetleona mengajar semakin
terasa menegangkan. Terutama saat kemampuan kami diuji dengan cara
bergiliran mengisi setiap soal grammer yang sudah ia siapkan di papan
tulis. Suasana kelas terasa hening dan ketegangan semakin terasa saat
ia mendamprat atau bergumam dengan muka kesal. Berbeda saat kami
mengikuti sesi percakapan yang dipandu Aimee yang lembut dan humoris.
Semua peserta antusias dan tak takut bercakap-cakap menggunakan bahasa
Jerman. Aimee selalu memotivasi kami untuk berani berbicara dan ia
selalu berpesan pada kami, jangan takut salah!
Begitu pula saat mengikuti kelas melukis bersama Marco, rasanya
waktu cepat berlalu dan tiba-tiba saja di hadapan kami ada selembar
karya masing-masing. Serasa tak percaya kami bisa melakukan sesuatu
sesuai arahan Marco, dan tanpa disadari, kami telah bercakap
menggunakan bahasa Jerman dengan Marco. Hal ini dikarenakan Marco
pandai memanfaatkan suasana, selalu mengajak kami bicara tentang apa
yang sedang kami tuangkan dalam lukisan yang kami buat.
Komentar-komentarnya membuat para peserta kursus tersenyum senang,
terasa sekali aroma motivasi yang ditebarnya menyemangati kami.
Sungguh kontras sikap teman-temanku saat usai belajar bersama sang
profesor dibanding bersama guru-guru lainnya. Setiap jam istirahat tak
pernah absen telingaku dari keluhan teman-teman kursus akan sikapnya.
Dan berulangkali pula aku berusaha membesarkan hati mereka. Sambil
berbagi makanan bekal dari rumah bersama mereka, kuajak teman-temanku
berpikir positif tentang Svetleona. Memang tak kusangkal pendapat
mereka tentang Svetleona, tiga orang Afrika, empat orang Turki, satu
orang Malaysa ditambah seorang muslim Macedonia merasa tak nyaman
dengannya termasuk aku sendiri, begitu juga peserta kursus ruang
sebelah (satu level di atas kami) yang pernah menjadi muridnya.
Tapi aku selalu berusaha untuk menjalankan pesan suamiku agar
selalu mengingat-ingat kebaikan seseorang dan aku pun berusaha menepis
“keangkeran” Svetleona itu. Aku hanya ingin menempatkan ia di hatiku
sebagai guru yang harus kuhormati dan kucintai karena ia tanpa pamrih
mengajariku memahami bahasa Jerman. Ia telah meluangkan waktunya
untuk kami karena proyek sosial itu tak memberi imbalan apa pun
untuknya, sedangkan kami memperoleh banyak ilmu darinya. Rasanya tak
adil jika kami hanya menyoroti “keangkerannya” saja.
Setelah kupikir dengan segenap kejernihan hati, pemicu suasana
tegang di kelas tak lain adalah ulah kami sendiri. Svetleona geram
sekali bila kami datang terlambat, ia sangat disiplin dalam masalah
waktu. Tak ada alasan terlambat baginya, karena jarak rumah kami ke
tempat kursus tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan jarak
rumahnya yang sangat jauh, hampir di luar Berlin. Ia juga sering kesal
bila kami lupa dengan pelajaran yang pernah diberikan sebelumnya, ia
anggap kami tak serius belajar dan yang lebih membuat ia murka
manakala kami melanggar sopan-santun. Svetleona merasa tak nyaman bila
saat ia mengajar, tiba-tiba di antara kami ada yang (maaf) buang
ingus dengan suara nyaring.
Musim semi memang sering menyebabkan orang yang sensitif terhadap
polen bunga atau debu menjadi bersin, demikian juga saat musim gugur,
banyak orang terkena flu, dan bunyi-bunyian yang dikeluarkan dari
hidung itu seolah menjadi lazim di sini pada musim-musim tersebut.
Namun Svetleona tak ingin murid-muridnya melakukan hal yang kurang etis
itu di hadapannya.
Ternyata, ketika aku berusaha menghargai dan menghormati segala
kelebihannya serta menerima apa adanya Svetleona, berusaha memahami
apa keinginannya dan harapan-harapan terhadap murid-muridnya, hasilnya
sebanding dengan apa yang kulakukan terhadapnya. Svetleona sekalipun
tetap bermuka dingin namun kurasakan ada selarik hangat dari hatinya.
Entah sejak kapan, ia memiliki kebiasaan baru, selalu memelukku dan
berbicara atau menyapaku penuh keramahan. Hal ini membuat teman-teman
kursusku heran, tak terkecuali aku sendiri.
Bahkan ketika diadakan acara kelulusan naik level sekaligus
perpisahan dengannya, Svetleona membuatkan kue khas Moskow untuk kami
dan ia menyebutkan semua bahan untuk membuat kue itu aman untuk
dimakan muslim. Sementara itu ia tunjukkan sikap tertarik dengan
klepon dan nasi goreng yang kubawa demikian pula terhadap makanan ala
Turki, Afrika dan Macedonia. Di akhir acara ia berharap kami akan
tetap melanjutkan kursus di tempat tersebut.
Beberapa bulan berselang, aku kembali ke tempat di mana Svetleona
dan kawan-kawannya mengabdikan diri. Tak lain untuk sekedar memenuhi
undangannya melalui sepucuk surat yang dilayangkan ke rumahku seminggu
sebelumnya. Kupenuhi undangan tersebut, namun sebenarnya kedatanganku
saat itu hanya ingin menyampaikan bahwa aku tak bisa menyambut
ajakannya untuk melanjutkan belajar di tempat itu lagi.
Suasana lengang terasa sepanjang koridor, hanya sayup-sayup
terdengar suara dari beberapa kelas yang tertutup pintunya. Ketika
akhirnya wajah dingin itu ada beberapa meter di hadapanku, dengan
segera ia berlari begitu melihatku dan memelukku penuh suka cita. Ia
memintaku menunggu di sebuah ruang karena masih ada hal yang harus
dikerjakannya. Kumanfaatkan waktu menunggu itu untuk membuka mushaf
dan kubaca perlahan-lahan.
Ketika kuakhiri tilawahku dan berniat untuk berbalik arah, aku
terkejut karena Svetleona telah berdiri mematung di belakangku, entah
berapa lama, aku tak menyadari kehadirannya. Sesaat kemudian, ia
menarik sebuah kursi dan meminta aku duduk kembali. Mata hijaunya
menatapku lekat lalu ia bertanya, “Apa yang kamu baca itu? Kenapa
perasaanku menjadi tentram?”. Svetleona yang sudah lama tak
mempercayai adanya tuhan, memintaku memperlihatkan apa yang kubaca.
Aku pun menunjukkan mushaf biru yang selalu kubawa serta dalam tasku.
“Ini adalah panduan hidup kami agar hidup selamat”, jawabku.
"Bisakah kamu membacakannya lagi? Saya ingin mendengarkannya!" Aku
mengangguk setuju, lalu kupilihkan surat Al-Ikhlas dan kusampaikan
arti dari surat itu. Ia terbelalak, tersirat rasa penasaran di paras
mukanya dan terlihat ia hendak menanyakan sesuatu namun hal itu urung
karena telpon genggamnya berbunyi, karenanya ia segera bergegas pamit.
Sungguh tak kusangka, Svetleona yang di awal kami berjumpa begitu
sinis, menatapku dingin tanpa senyum, kini ia merasakan ketentraman
saat mendengar tilawah dan memintaku mengulanginya. “Hmmm...apa yang
tadi hendak ditanyakannya ya?” rasa penasaran menyergapku, namun sayang
setelah usai menjelaskan maksud kedatanganku, aku harus pamit karena
satu janji yang harus segera kupenuhi. Dan, lebih disayangkan lagi
ternyata aku tak pernah ke tempatnya lagi dikarenakan aku harus mulai
bersiap-siap dengan masa melahirkan bayiku yang sudah semakin dekat.
Dengan segala keterbatasanku saat itu, aku hanya mampu berharap dan
mendoakannya semoga rasa tentram yang menyelimuti hatinya saat
mendengar al-Qur'an dibacakan hingga minta diulangi, begitu pula
dengan pertanyaan yang tak sempat dilontarkannya itu, adalah awal
ketertarikan Svetleona pada Islam. Semoga akan ada seseorang yang
menjadi pemandu baginya untuk mendapatkan hidayah-Nya.
Sekalipun rasa penasaran masih menggelayuti hati tentangnya, tetapi
yang pasti kurasakan perubahan positif dari sikap Svetleona padaku
dari waktu ke waktu. Setelah kurenungkan tak lain semua itu merupakan
pertolongan Allah semata yang telah menuntunku membangun sikap dalam
diriku bagaimana sebaiknya berinteraksi dengannya, antara lain selalu
berusaha tepat waktu, bersungguh-sungguh saat belajar, bersikap sopan
dan bertutur santun.
Sikap-sikap tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam ajaran akhlak
mulia seorang muslim. Dan ternyata ketika kita terapkan dalam
keseharian, maka hal itu akan berbuah respek dari orang yang
sebelumnya terlihat antipati. Oleh karenanya, beberapa sikap yang
telah kusebutkan itu pun kujadikan sebagai bagian dari perisai hidupku
di negeri minoritas muslim.