Berjuang untuk menyelamatkan rezim 42 tahunnya, Gaddafi telah
meluncurkan sebuah tindakan keras mematikan pada para pemrotes yang
menuntut sebuah akhir atas kekuasaannya di negara Arab kaya minyak
tersebut.
Perkiraan mengatakan bahwa sedikitnya 10.000 orang telah terbunuh di
dalam tindakan keras berdarah, yang menyebabkan Dewan Keamanan PBB
mengeluarkan sebuah resolusi yang memperbolehkan sebuah tindakan militer
di Libya.
Mengikuti sebuah kampanye pengeboman sepanjang satu bulan yang
menargetkan pasukan pro-Gaddafi, drama tersebut diintensifkan ketika
Gaddafi mengumumkan bahwa ia tidak memiliki maksud untuk menyerah kepada
tuntutan oposisi dan meninggalkan negara tersebut.
Pencarian tersebut diluncurkan dengan diam-diam oleh AS dan
sekutu-sekutunya, mencarikan sebuah negara, kemungkinan besar di Afrika,
yang akan bersedia menyembunyikan Gaddafi.
Berita tersebut dikonfirmasi sebelumnya oleh menteri luar negeri
Italia, Franco Frattini, yang menyarankan bahwa beberapa negara Afrika
dapat menawarkan Gaddafi sebuah tempat berlindung, namun ia tidak
mengidentifikasikan negara tersebut.
Beberapa saran utama memasukkan negara Chad, Mali dan Zimbabwe yang
dengan negara tersebut Gaddafi memiliki kesepakatan bisnis yang dekat.
Namun, tidak ada dari negara tersebut yang dikonfrimasi karena Uni
Afrika masih tetap bungkam tentang menyuarakan tuan rumah potensial
untuk pemimpin Libya yang terkepung tersebut.
Pencarian tersebut lebih jauh dipersulit oleh berita bahwa Gaddafi
kemungkinan didakwa oleh Pengadilan Kriminal Internasional di The Hague
karena pengeboman Penerbangan 103 Pan Am di atas Skontlandia pada tahun
1988, dan kekejaman di dalam Libya.
Tiga pejabat pemerintahan AS mengatakan bahwa pencarian tersebut akan
dibatasi untuk negara-negara yang tidak menandatangani perjanjian yang
mewajibkan negara-negara tersebut untuk menyerahkan siapapun di bawah
dakwaan untuk persidangan oleh pengadilan, hampir setengah dari negara
Afrika.
Ketika tekanan untuk pergi pada Gaddafi dibangun, para pejabat
Amerika berjuang untuk menemukan sebuah penerus yang sesuai untuk
Gaddafi di antara para pemimpin pemberontak.
"Ada aspek-aspek dari perjalanan waktu yang bekerja menentang
Gaddafi, jika kami dapat memisahkannya dari senjata-senjata, bahan dan
uang ," Benjamin J. Rhodes, seorang deputi penasihat keamanan nasional
untuk Presiden AS Barack Obama, mengatakan kepada kantor berita New York
Times.
Pejabat AS mengulangi rasa takut akan sebuah kemungkinan peperangan
suku jika tidak ada kemunculan angka konsensus yang dapat mengikat
negara tersebut bersatu.
"Hal ini mempengaruhi kalkulasi dari orang-orang yang ada di
sekelilingnya. Namun akan membutuhkan waktu bagi kelompok oposisi untuk
bersatu," Rhodes menambahkan.
Awal bulan ini, AS mengirimkan dutanya, Chris Stevens, ke Benghazi
untuk mempelajari lebih banyak tentang angka kunci di dalam Dewan
Transisi Nasional.
Dewan interim telah menjanjikan sebelumnya untuk bekerja terhadap
pendirian sebuah kekuasaan demokrasi yang berdasarkan pada pemilihan
presiden dan parlementer setelah penggulingan Gaddafi.
Mereka juga menjanjikan untuk merancang sebuah kosntitusi baru yang akan memperbolehkan formasi partai politik.
Di antara tokoh kunci oposisi Libya beberapa nama mulai bermunculan
termasuk Mahmoud Jibril, seorang pakar perencanaan yang membelot dari
pemerintahan Gaddafi.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton telah bertemu dua kali dengan
Jibril, yang diplomat Amerika katakan adalah tokoh publik yang cerdas
dari kelompok tersebut.
Anggota dewan ternama lainnya adalah Ali Tarhouni, yang ditunjuk menteri keuangan pemerintah bayangan pemberontak.
Tarhouni, yang mengajar ekonomi di Universitas Washington, kembali ke
Libya pada bulan Februari setelah lebih dari 35 tahun di pengasingan
untuk menasihati oposisi tentang permasalahan ekonomi.
Namun demikian, beberapa masalah muncul di dalam operasi yang
dipimpin NATO, sebagian besar target-target serangan tersebut dapat
menyakiti para penduduk sipil atau merusak Masjid, sekolah atau rumah
sakit, mempersulit kampanye tersebut, seorang pejabat senior militer
Amerika mengatakan.
Bahkan terlebih lagi beberapa pilot NATO menolak untuk menjatuhkan
bom-bom mereka untuk alasan tersebut, pejabat tersebut mengatakan.
"Tanpa sebuah keraguan, merupakan hal yang membuat frustasi bekerja
melalui semua hal ini untuk mendapatkan efek maksimum untuk upaya kami
dan berhadapan dengan semua varsi," kata pejabat tersebut, yang
berbicara dengan syarat anonim.