Mereka terinspirasi gerakana rakyat yang berhasil menggulingkan
pemimpin di Tunisia dan Mesir. Pemerintah Maroko telah mengumumkan
langkah reformasi untuk menenangkan tuntutan rakyat yang bergelombang.
Raja Mohammed menyerahkan kekuasaan lebih banyak dan membatasi pengaruh
bisnis yang luas dari keluarga kerajaan.
Sekitar 10.000 rakyat yang bergabung dalam aksi protes di Casablanca,
kota terbesar di negeri itu. Maroko merupakan negara Arab yang menjadi
sekutu setia Barat. Di Maroko terdapat banyak komunitas Yahudi, dan
bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai posisi penting di bidang
bisnis, dan ikut dalam pemerintahan kerajaan.
Dalam aksi yang berlangsung itu, para pengunjuk di ibukota Maroko
Rabat mengecam korupsi dan penyiksaan serta pengangguran, yang sangat
tinggi di kalangan pemuda.
Perpolisian telah kunci rendah untuk protes oleh Gerakan 20 Februari,
yaitu setelah tanggal maret pertama, terutama dibandingkan dengan
gejolak di tempat lain di Afrika Utara.
"Ini lebih sebuah gerakan anak muda," kata Redouane Mellouk, yang
telah membawa anaknya 8 tahun Muhammad Amin, yang membawa poster yang
menuntut " Maroko Baru". "Orang tua kami tidak bisa berbicara dengan
kami tentang isu-isu politik Mereka terlalu takut. Ini semuanya harus
berubah.," Kata Mellouk.
"Lihatlah mereka. Mereka dididik dan seperti kebanyakan anak muda
Maroko yang berpendidikan, tetapi mereka menganggur," katanya. "Segala
sesuatu di negara ini harus diperjuangkan melalui anda, tanpa perjuangan
tidak akan menadapatkan apa yang menjadi hak anda", tambah Mellouk.
Maroko adalah sebuah monarki konstitusional dengan sebuah parlemen
terpilih, tetapi konstitusi memberikan kekuasaan dan hak veto raja untuk
membubarkan legislatif, memberlakukan keadaan darurat dan memiliki
suara dalam menentukan kebijakan pemerintah.
Raja Mohammed bulan lalu mengumumkan reformasi konstitusional untuk
memberikan sebagian dari kekuasaannya dan membuat peradilan yang
independen, tetapi demonstran menuntut perubhan lebih lagi.
Rakyat juga tidak dapat menerima dan muncul rasa kebencian akibat
kepentingan bisnis keluarga kerajaan melalui induk perusahaan SNI. Salah
satu spanduk yang terpampang di Casablanca menggugat kepemilikan Raja,
yang digambarkan sebagai gurita dengan membentuk kartel ke seluruh
jaringan perusahaan. "Telah bercampur antara uang atau kekuasaan,"
katanya.
Kekuatan Islamis juga bergabung dalam aksi protes, menuntut
pembebasan semua tahanan politik. Pihak berwenang membebaskan 92 tahanan
politik, yang sebagian besar adalah anggota kelompok Jihad Islam, awal
bulan ini.
Di Rabat, istri pemimpin Gerakan Islam Bouchta Charef, mengatakan
suaminya disiksa di penjara, dan dituduh terlibat dalam aksi
"terorisme". Para pemimpin Gerakan Islam di Maroko menyerukan semua
Islamis untuk dibebaskan.
"Mereka telah membuat anak-anak saya menjadi yatim dan kehilangan
orang tua," kata Zehour Dabdoubu Reuters. "Setiap bulan saya pindah dari
satu rumah ke rumah saya dianiaya, karena orang berpikir saya adalah
istri seorang teroris..", ujarnya.
Kelompok oposisi yang dilarang Islam Al Adl Wal Ihsane bersikap low
profil saat berlangsung aksi demonstrasi 20 Februari, namun mereka
mengatakan mendukung aksi itu..
"Sangat luar biasa apa yang terjadi di Maroko Ini. Sebuah revolusi
yang tenang," kata Nadia Yassine, putri dari pendiri Gerakan Islam di
negeri itu kepada Reuters melalui telepon. "Kami bergerak perlahan-lahan
tapi pasti", ujarnya.