Proposal, yang disajikan oleh Gulf Cooperation Council (
GCC), akan memberikan Presiden Ali Abdullah Saleh kekebalan dari
penuntutan sebagai ganti dirinya mau mengundurkan diri dan menyerahkan
kekuasaan ke wakilnya.
Pada hari Senin kemarin (25/4), juru bicara oposisi Muhammad Qahtan
mengatakan, "Pihak Gabungan Koalisi Oposisi (JMP) telah menyatakan
penerimaan penuh mereka untuk proposal dari Sekretaris Jenderal GCC
Abdullatif Rashid bin al-Zayani," lapor Xinhua.
Menurut rencana, pihak oposisi akan diizinkan untuk membentuk
pemerintah persatuan nasional sementara setelah presiden menerima
tanda-tanda kesepakatan.
Sejak akhir Januari lalu, ratusan ribu orang telah turun ke jalan
untuk melakukan aksi demonstrasi rutin di kota-kota besar Yaman,
menyerukan penghapusan korupsi dan pengangguran serta menuntut presiden
turun dari kekuasaannya setelah hampir 33 tahun berkuasa.
Menurut sumber-sumber setempat, setidaknya 300 demonstran tewas dan
banyak lainnya telah terluka dalam bentrokan dengan polisi anti
huru-hara dan pasukan yang setia kepada presiden Yaman.
Kelompok Pemuda Revolusi, sebuah kelompok yang telah membantu
mengatur aksi protes terhadap rezim, sebelumnya mengeluarkan pernyataan
menolak inisiatif Arab, mengatakan, "Proposal ini tidak termasuk
pengusiran segera Saleh dan justru memberikan perlindungan kepadanya,
keluarganya dan para pembantunya, yang seluruhnya adalah pembunuh.