Sumber-sumber mengatakan kepada website Quds Net bahwa Arabi meminta
para deputinya untuk merancang persiapan-persiapan untuk kunjungan ke
Gaza segera.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk menunjukkan solidaritas Mesir
dengan Gaza, yang telah berada di bawah sebuah kepungan Israel yang
melumpuhkan tersebut sejak tahun 2006.
"Kunjungan ini dianggap sebuah awal dari sebuah era baru bagi
Palestina dan rakyatnya dan sebuah langkah kuat menuju pengurangan
pemblokadean politik Gaza," kata Rizka.
Israel telah menjepit sebuah pemblokadean parah pada Gaza sejak Hamas
terpilih untuk kekuasaan di Gaza pada tahun 2006 dan penangkapan
seorang tentara Israel oleh Hamas di sebuah serangan perbatasan.
Pengepungan tersebut lebih jauh diperketat setelah Hamas memenangkan suara pada tahun 2007.
Pengepungan yang melumpuhkan tersebut telah sangat memperburuk mata
pencaharian di jalur tepi laut yang miskin tersebut, rumah bagi 1,6 juta
penduduk Palestina.
Situasi tersebut memburuk lebih jauh setelah Israel meluncurkan
sebuah serangan mematikan tiga pekan pada tahun 2009, membunuh lebih
dari 1.400 orang dan melukai ribuan dan menyisakan jalur tersebut
menjadi terkoyak.
Pengepungan tersebut membuat sebagian besar
penduduk Gaza terputus dari dunia luar dan berjuang dengan kemiskinan
yang sangat menyedihkan.
Kunjungan Arabi datang sehari setelah laporan-laporan yang mengatakan bahwa Mesir merencanakan untuk membuka perbatasan Gaza.
Ekmeleddin Ihasanoglu, sekretaris jenderal Organisasi Konferensi
Islam (OKI), mengatakan bahwa Arabi mengatakan kepadanya bahwa Mesir
akan membuka perbatasan Gaza untuk pertimbangan kemanusiaan.
"Kami biasanya bekerjasama dengan mantan pemerintah Mesir untuk
mengirimkan bantuan ke Gaza, namun ketika perbatasan dibuka, kemungkinan
akan ada lebih banyak kerjasama," Ihasanoglu mengatakan setelah sebuah
pertemuan dengan Arabi pada Sabtu.
Di bawah rejim Mubarak, Mesir terlibat di dalam memperketat
pengepungan di Gaza dengan menolak untuk membuka terminal Rafah, gerbang
Gaza satu-satunya ke dunia luar yang melewati Israel.
Mubarak adalah teman baik Israel di dunia Arab selama 30 tahun, jauh lebih ramah dari pada kebanyakan di negara tersebut.
Awal bulan ini, menteri luar negeri Mesir tersebut mengatakan bahwa Mubarak adalah sebuah harta karun bagi Israel untuk melakukan yang Israel inginkan namun sekarang tidaklah sama lagi.
Arabi juga mengulangi sebuah revisi yang mungkin atas kesepakatan perdamaian Kamp David antara Mesir dan Israel.
Pernyataannya tersebut telah mengajukan banyak kekhawatiran di dalam Israel.
"Saya sangat khawatir atas beberapa suara yang kami telah dengar dari
Mesir baru-baru ini," Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan
kepada duta besar Uni Eropa pekan lalu, kantor berita Haaretz
memberitakan.
"Saya pada khususnya khawatir atas pernyataan menteri luar negeri Mesir baru-baru ini."