
Jumlah insiden
antara pasukan keamanan Israel dan para pengunjuk rasa Palestina terus
meningkat di kota yang diklaim Israel sebagai lokasi kuil Yahudi
tersebu. Puluhan orang mengalami luka-luka dan ditangkap dalam beberapa
pekan terakhir.
Mengacu pada bentrokan antara petugas keamanan Israel dan para
pengunjuk rasa Arab di Yerusalem dalam beberapa minggu terakhir, duta
besar Yordania tersebut menjelaskan kekhawatiran kerajaan Hasyimi
tersebut mengenai peristiwa yang terus terjadi, karena akan mengarah
pada peristiwa tahun 1969, yakni upaya pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh Denis Michael Rohan asal Australia.
Rohan adalah seorang penganut Kristen, yang kemudian ditangkap dan dinyatakan mengalami gangguan pada mental.
Rohan menyebut dirinya sebagai "utusan Tuhan" dan mengatakan bahwa
dirinya melakukan pembakaran tersebut atas "bisikan suci". Dia
dimasukkan di rumah sakit jiwa dan kemudian dideportasi dari Israel.
"Kami khawatir bahwa dalam jangka pendek, ada kejadian semacam itu
yang mungkin terulang lagi," kata al-Hussein. "Hal itu akan membakar
emosi secara berlebihan, (dan) konsekuensinya akan menjadi amat parah."
Di memperingatkan bahwa AS tampaknya tidak menyadari konsekuensi
serius yang diakibatkan dari kejadian semacam itu terhadap proses
perdamaian, dan juga bagi seluruh kawasan Timur Tengah.
Ancaman serangan terhadap situs keagamaan seperti Masjid Al-Aqsa
adalah hal yang benar-benar akan merusak dan membalikkan kebijakan AS,"
kata Zeid. "Namun, tidak ada pembahasan mengenai hal ini di Washington.
Ada sesuatu yang tidak benar."
Diplomat Yordania tersebut mengatakan bahwa solusi dua negara akan
menjadi hal yang tidak berguna jika pemerintah Israel terus bersikeras
dan menolak untuk membahas status ibukota.
"Jika masalah Yerusalem terus dibiarkan berlarut-larut, jika masalah
Yerusalem tidak dapat diselesaikan, maka tidak ada kesepakatan yang akan
tercapai, bahkan jika mereka bernegosiasi mengenai tempat-tempat lain,"
katanya. "Mengapa (rakyat Palestina) harus melakukan negosiasi? Tidak
ada tujuan dibelakangnya. Apa keuntungan yang bisa diperoleh
negara-negara Arab?"
"Jika tidak ada solusi dua negara karena masalah Yerusalem, apakah ada jalan lain?" tanya al-Hussein.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hanya mengajukan penundaan
pembangunan pemukiman baru di Tepi Barat, dimana Israel akan
diperbolehkan untuk membangun atau menyelesaikan 3.000 unit rumah.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton tampaknya menyetujui hal
tersebut dalam kunjungan terakhirnya ke Timur Tengah. Hal tersebut
berlawanan dengan tuntutan awal pemerintah Obama agar Israel membekukan
pembangunan pemukiman.
Sesaat setelah bertemu dengan Clinton pada bulan lalu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan
pada bulan Januari tersebut. Para ajudannya mengatakan bahwa keputusan
tersebut ada kaitannya dengan sikap memihak Clinton terhadap Israel
dalam isu pemukiman Yahudi ilegal.