Inggris: Masa Depan Bersama Gaddafi Adalah Pengkhianatan

Written By Juhernaidi on Jumat, 15 April 2011 | 8:06:00 PM

Para pendukung pemimpin Libya Moammar Gaddafi, mengangkat tinggi poster sang pemimpin dalam pawai yang digelar di Tripoli pada 14 April 2011. (Foto: Reuters) LONDON – Sebuah masa depan Libya yang melibatkan Moammar Gaddafi adalah tidak terpikirkan dan akan menjadi pengkhianatan yang tak adil oleh dunia, ujar para pemimpin Inggris, Perancis, dan AS pada hari Kamis (14/4). Perdana menteri Inggris David Cameron, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, dan Presiden AS Barack Obama berjanji tidak akan berhenti sampai resolusi PBB diimplementasikan, dalam sebuah artikel gabungan yang diterbitkan di beberapa koran internasional.
"Tidak terpikirkan bahwa seseorang yang telah berusaha membantai rakyatnya sendiri bisa memainkan peran dalam pemerintahan masa depan mereka," ujar artikel tersebut, yang muncul di London Times, Washington Post, dan harian Perancis Le Figaro.
"Warga pemberani di kota-kota itu yang telah melawan pasukan yang tanpa belas kasihan menarget mereka akan mengalami pembalasan yang mengerikan jika dunia menerima pengaturan semacam itu. Itu akan menjadi pengkhianatan yang tidak adil," tuduh para pemimpin.
Penerbitan artikel itu menggarisbawahi komitmen AS terhadap operasi yang dimandatkan PBB melawan pasukan Gaddafi, meredakan ketegangan sebelumnya antara anggota sekutu Barat.
Ketika pemimpin berjanji bahwa NATO dan koalisinya akan melanjutkan operasi mereka agar warga sipil tetap terlindungi selama Gaddafi berkuasa.
"Inggris, Perancis, dan AS tidak akan berhenti sampai resolusi Dewan Keamanan PBB diimplementasikan dan rakyat Libya bisa memilih sendiri masa depannya," ujarnya berjanji.
Kegagalan menggulingkan Gaddafi akan mengutuk Libya tidak hanya menjadi negara pariah tapi juga negara gagal, ketiga pemimpin itu memperingatkan.
Surat itu awalnya disusun oleh Cameron dan Sarkozy menyusul pertemuan mereka di Paris pada hari Rabu (13/4), tapi Obama meminta agar namanya ditambahkan ke artikel itu setelah dia menerima salinannya.
Perancis mengungkapkan pada hari Kamis (14/4) bahwa menteri luar negeri AS Hillary Clinton telah menolak banding untuk tambahan bantuan dengan desakan dari resolusi PBB yang mengijinkan semua langkah yang dibutuhkan untuk melindungi warga sipil Libya.
Washington menarik sekitar 50 pesawat tempur dari operasi Libya minggu lalu setelah menyerahkan kendali misi kepada NATO, meskipun sejak saat itu mereka ambil bagian dalam beberapa misi untuk menyerang sistem pertahanan udara Gaddafi.
Clinton kemudian mengatakan pada sekutu NATO,"Bagi kami, AS berkomitmen pada misi bersama kita. Kami akan mendukung kuat koalisi sampai tugas kita selesai."
Mendukung janji Clinton, artikel bersama Obama menyatakan bahwa "tugas dan mandat koalisi adalah untuk melindungi warga sipil."

Simulasi Jangka Sorong