LONDON – Sebuah masa depan Libya yang melibatkan
Moammar Gaddafi adalah tidak terpikirkan dan akan menjadi pengkhianatan
yang tak adil oleh dunia, ujar para pemimpin Inggris, Perancis, dan AS
pada hari Kamis (14/4).
Perdana menteri Inggris David Cameron, Presiden Perancis Nicolas
Sarkozy, dan Presiden AS Barack Obama berjanji tidak akan berhenti
sampai resolusi PBB diimplementasikan, dalam sebuah artikel gabungan
yang diterbitkan di beberapa koran internasional.
"Tidak terpikirkan bahwa seseorang yang telah berusaha membantai
rakyatnya sendiri bisa memainkan peran dalam pemerintahan masa depan
mereka," ujar artikel tersebut, yang muncul di London Times, Washington
Post, dan harian Perancis Le Figaro.
"Warga pemberani di kota-kota itu yang telah melawan pasukan yang
tanpa belas kasihan menarget mereka akan mengalami pembalasan yang
mengerikan jika dunia menerima pengaturan semacam itu. Itu akan menjadi
pengkhianatan yang tidak adil," tuduh para pemimpin.
Penerbitan artikel itu menggarisbawahi komitmen AS terhadap operasi
yang dimandatkan PBB melawan pasukan Gaddafi, meredakan ketegangan
sebelumnya antara anggota sekutu Barat.
Ketika pemimpin berjanji bahwa NATO dan koalisinya akan melanjutkan operasi mereka agar warga sipil tetap terlindungi selama Gaddafi berkuasa.
"Inggris, Perancis, dan AS tidak akan berhenti sampai resolusi Dewan
Keamanan PBB diimplementasikan dan rakyat Libya bisa memilih sendiri
masa depannya," ujarnya berjanji.
Kegagalan menggulingkan Gaddafi akan mengutuk Libya tidak hanya
menjadi negara pariah tapi juga negara gagal, ketiga pemimpin itu
memperingatkan.
Surat itu awalnya disusun oleh Cameron dan Sarkozy menyusul pertemuan
mereka di Paris pada hari Rabu (13/4), tapi Obama meminta agar namanya
ditambahkan ke artikel itu setelah dia menerima salinannya.
Perancis mengungkapkan pada hari Kamis (14/4) bahwa menteri luar
negeri AS Hillary Clinton telah menolak banding untuk tambahan bantuan
dengan desakan dari resolusi PBB yang mengijinkan semua langkah yang
dibutuhkan untuk melindungi warga sipil Libya.
Washington menarik sekitar 50 pesawat tempur dari operasi Libya
minggu lalu setelah menyerahkan kendali misi kepada NATO, meskipun sejak
saat itu mereka ambil bagian dalam beberapa misi untuk menyerang sistem
pertahanan udara Gaddafi.
Clinton kemudian mengatakan pada sekutu NATO,"Bagi kami, AS
berkomitmen pada misi bersama kita. Kami akan mendukung kuat koalisi
sampai tugas kita selesai."
Mendukung janji Clinton, artikel bersama Obama menyatakan bahwa "tugas dan mandat koalisi adalah untuk melindungi warga sipil."