Mantan Ketua MPR-RI, Hidayat Nur Wahid menyatakan even Dzikir Nasional yang akan digelar Republika, Jumat (31/12), bertempat di Masjid At-Tiin sebagai langkah akternatif umat Islam memaknai kehadiran tahun baru. Terutama membuka kembali posisi, peran, dan fungsi serta paradigma umat tentang penciptaan manusia sebagai hamba Allah."Manusia diciptakan prinsipnya, diperintahkan menyembah dan mengabdi kepada Nya,"kata dia kepada Republika di Jakarta, Senin (27/12)
Oleh karena itu, Hidayat yang juga politisi PKS, berharap agenda dzikir nasional mampu memberikan arahan yang kuat dan jelas tidak hanya bagi individu tetapi juga nasional. Sehingga dzikir bisa memberikan dampak pada nasional bukan sebatas ritual pribadi. Di samping pula, dzikir diharapkan mampu mengingatkan kembali posisi manusia sebagai hamba Allah agar melaksanakan ketentuan Nya.
Sebab, dengan melaksanakan ketentuan itulah dapat menghadirkan manfaat dan menghindarkan malapetaka dari umat. Terlebih, saat ini cita-cita kemerdekaan semangat reformasi kian meredup oleh berbagai kejadian di Indonesia mulai dari bencana alam, korupsi yang merejala, dan penegakkan hukum yang tebang pilih."Jika betul betul laksanakan ketentuan hukum Allah, maka akan punyai etos kerja, semangat tidak korupsi, jaga lingkungan, dan beri manfaat lebih banyak lagi,"kata dia.
Untuk mewujudkanya, imbuh Hidayat, dzikir mesti memadukan dzikir lisan, kalbu, dan dzikir amali. Dzikir mestinya tidak hanya menekankan ungkapan di lisan dan ritual di kalbu tetapi juga harus berimplikasi pada amal dan perilaku sehari-hari baik secara individu, keluarga, sosial, ataupun institusi." Jika perilaku berseberangan bukan dzikir kepada Allah, tetapi justru ingkar terhadap apa yang dikehendaki Allah dan Rasulullah," pungkas dia.
Oleh karena itu, Hidayat yang juga politisi PKS, berharap agenda dzikir nasional mampu memberikan arahan yang kuat dan jelas tidak hanya bagi individu tetapi juga nasional. Sehingga dzikir bisa memberikan dampak pada nasional bukan sebatas ritual pribadi. Di samping pula, dzikir diharapkan mampu mengingatkan kembali posisi manusia sebagai hamba Allah agar melaksanakan ketentuan Nya.
Sebab, dengan melaksanakan ketentuan itulah dapat menghadirkan manfaat dan menghindarkan malapetaka dari umat. Terlebih, saat ini cita-cita kemerdekaan semangat reformasi kian meredup oleh berbagai kejadian di Indonesia mulai dari bencana alam, korupsi yang merejala, dan penegakkan hukum yang tebang pilih."Jika betul betul laksanakan ketentuan hukum Allah, maka akan punyai etos kerja, semangat tidak korupsi, jaga lingkungan, dan beri manfaat lebih banyak lagi,"kata dia.
Untuk mewujudkanya, imbuh Hidayat, dzikir mesti memadukan dzikir lisan, kalbu, dan dzikir amali. Dzikir mestinya tidak hanya menekankan ungkapan di lisan dan ritual di kalbu tetapi juga harus berimplikasi pada amal dan perilaku sehari-hari baik secara individu, keluarga, sosial, ataupun institusi." Jika perilaku berseberangan bukan dzikir kepada Allah, tetapi justru ingkar terhadap apa yang dikehendaki Allah dan Rasulullah," pungkas dia.