Bermula di Irak beberapa tahun lalu, ketika para gerilyawan pertama
kali mempergunakan bom pinggir jalan terhadap High-Mobility Multipurpose
Wheeled Vehicle, atau disingkat HUMVEE, kendaraan utama yang
dipergunakan militer AS.
Para prajurit dan marinir AS kemudian dengan cepat menyadari bahwa
HUMVEE yang berbobot ringan tidak memiliki pelindungan yang cukup untuk
menangkal ledakan bom, militer AS kemudian menambahkan sejumlah
pelindung. Pelindung tersebut cukup membantu, namun dianggap masih
kurang, dan pada saat yang sama, ukuran bom yang ditanam bertambah
besar. Pihak militer kemudian menciptakan kendaraan lapis baja yang
baru, semacam pesilangan antara HUMVEE dan tank, yang disebut MRAP (Mine
Resistant Ambush Projet Vehicle). Militer AS mengklaim bahwa kendaraan
tersebut telah menyelamatkan ratusan, mungkin ribuan nyawa prajurit AS
di jalanan Irak.
"MRAP adalah penyelamat jiwa," kata Asisten Menteri Pertahanan,
Ashton Carter. Namun, dia menambahkan bahwa MRAP tidak berfungsi dengan
begitu baik di Afghanistan.
"Medan Afghanistan berbeda dengan Irak, (Afghanistan) lebih tidak
rata, jalanannya tidak mudah untuk dijelajahi. Oleh karena itu, kami
harus menciptakan sebuah versi segala medan untuk MRAP," katanya.
Bagi para perancang, yang menjadi tantangan adalah menciptakan sebuah
kendaraan dengan perlindungan sekokoh MRAP, namun denga bobot 25 persen
lebih ringan. Dan setelah itu, akronim demi akronim militer terus
dilahirkan, misalnya M-ATV, atau MRAP All Terrain Vehicle.
"Kendaraan ini akan menjadi pelindung nyawa di Afghanistan," tambahnya.
Dan AS memang memerlukan kehadiran "penyelamat" di Afghanistan.
Korban jatuh dari kubu AS terus melonjak naik, mulai dari 40 orang per
bulan hingga bulan Juni silam, menjadi 70 orang atau lebih perbulannya.
Para pejabat mengatakan bahwa yang menjadi "algojo" utama adalah bom
pinggir jalan.
Berdiri di luar gedung Pentagon pada hari Senin waktu setempat, di
hadapan salah satu kendaraan berwarna kuning pasir yang dirancang untuk
melindungi pasukan AS dari ledakan pinggir jalan, Asisten Menteri Carter
memuji-muji M-ATV.
"Tingkat keselamatannya lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan
lain yang ada di Afghanistan saat ini, jauh lebih tinggi. Dan percaya
atau tidak, kendaraan ini amat mudah dikemudikan. Kesimpulannya,
kendaraan ini adalah kendaraan yang hebat dan akan menjadi penyelamat
jiwa," katanya.
Meski berukuran lebih kecil dari MRAP, M-ATV masih tetap terhitung
berat, dengan tinggi hanya seukuran rata-rata tinggi orang, beratnya
mencapai 18 metrik ton.
Tampak luarnya seperti jip Perang Dunia II yang berukuran ekstra
besar, namun terlindungi, dengan jendela anti ledakan berukuran kecil,
sebuah posisi penembak senjata mesin di atas dan bermacam perlengkapan
berteknologi tinggi di dalam dan di luar.
Militer AS membeli lebih dari 6.000 unit M-ATV, dengan harga nyaris
mencapai 1 juta dollar per unitnya, termasuk seluruh perlengkapannya,
suku cadang dan biaya angkut ke Afghanistan. AS mengatakan bahwa
negara-negara lain yang menempatkan pasukan di Afghanistan juga ingin
membeli kendaraan tersebut.
Direktur proyek MRAP dan M-ATV, Brigadir Jenderal Korps Marinir,
Michael Brogan, mengatakan bahwa kendaraan baru tersebut akan melindungi
pasukan di jalanan Afghanistan, tanpa harus menghancurkan jalanan atau
"tersangkut" di jalanan.
Dia mengatakan bahwa kendaraan tersebut akan memungkinkan pergerakan
pasukan menjadi lebih sulit dibaca, dan menghindar dari area-area dimana
bom ditanam.
"Kendaraan ini benar-benar dirancang untuk melintasi jaringan jalan
raya, untuk menaklukkan segala medan, pergi ke tempat-tempat yang tidak
mampu dijangkau oleh HUMVEE berpelindung, bahkan di gurun pasir
Afghanistan."
"Rodanya lebih besar dibandingkan HUMVEE, jadi tekanan ke tanah tidak
terlalu berbeda dibandingkan HUMVEE berpelindung," kata Brogan. "Dengan
jumlah tenaga kuda yang dihasilkan mesin dan karakteristik yang mirip
HUMVEE, kendaraan ini menjadi sebuah kendaraan yang baik," tambahnya.
Demi alasan keamanan, para pejabat tidak menyebutkan seberapa besar
ukuran bom yang mampu ditahan oleh M-ATV. Namun dengan pengiriman
ratusan – dan nantinya ribuan – unit kendaraan tersebut, AS berharap
untuk dapat menekan angka kematian pasukan.