Dalam pesan tahunan menandai ulang tahun ke 96 dari "pembantaian
orang Armenia" yang di duga terjadi selama Perang Dunia I, Obama
menggunakan istilah "Meds Yeghern" atau "Bencana Besar" untuk
menggambarkan insiden tahun 1915 di Kekhalifahan Utsmani, dan mendesak
secara penuh adanya pengakuan dari "peristiwa" mengerikan tersebut.
"Kami berharap presiden Amerika Serikat, teman dan sekutu kami, yang
telah berbagi rasa sakit dengan Turki juga dan mengeluarkan pesan
dengan perspektif yang positif," dikutip AFP atas pernyataan menlu Turki
Ahmet Davutoglu pada hari Minggu kemarin (24/4).
Kementerian Luar Negeri Turki juga mengatakan dalam sebuah pernyataan
bahwa pesan Obama telah "mendistorsi fakta-fakta sejarah. "Oleh karena
itu, kami merasa hal itu sangat bermasalah dan sangat menyesalkan
laporan sepihak yang menafsirkan peristiwa sejarah kontroversial
tersebut demi terwujudbta keadilan dan mencegah terjadinya kesalahan
pemahaman terkait tentang kebenaran akan peristiwa itu. "
Sementara itu, Duta Besar Turki untuk AS Namik Tan juga mengkritik
Obama, mengatakan pernyataan Presiden AS "mencerminkan, ketidak akuratan
pemahaman terhadap sisi karakterisasi politik dalam sejarah."
Armenia mengklaim bahwa mencapai 1,5 juta orang Armenia kehilangan
nyawa mereka selama dan setelah Perang Dunia I, ketika mereka
dideportasi secara massal dari Anatolia timur oleh Kekhalifahan Utsmani.
Mereka dilaporkan dibunuh oleh tentara atau meninggal karena
kelaparan dan penyakit, sehingga mendorong bangsa Armenia untuk
meluncurkan kampanye untuk mengakui internasional bahwa peristiwa itu
adalah sebuag genosida.
Turki, bagaimanapun, mempermasalahkan jumlah warga Armenia yang
tewas, menempatkan jumlah korban Armenia berkisar 300.000 sampai 500.000
dan bersikeras bahwa banyak warga Utsmani Turki juga tewas dalam
kerusuhan selama runtuhnya Kekhalifahn Utsmani.
Pada tahun 2009, Turki dan Armenia menandatangani dua protokol dalam
upaya untuk menormalkan hubungan dan mengakhiri dekade permusuhan.