Tiada Titik Temu, Pakistan - AS Makin Tak Akur

Written By Juhernaidi on Minggu, 24 April 2011 | 9:35:00 PM

Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Parvez Kayani dalam sebuah kesempatn bertatap muka. (Foto: Google)
ISLAMABAD – Hubungan Amerika Serikat dan Pakistan tampaknya tercerai-berai. Hal itu terlihat kala Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Parvez Kayani tidak mau difoto berdampingan setelah bertatap muka. Nada bicara dari pernyataan yang mereka sampaikan secara terpisah juga jauh dari kata ramah. Dalam kunjungan terakhirnya ke Pakistan, Mullen mengatakan kepada sebuah surat kabar Pakistan bahwa hubungan yang dijalin dinas intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), dengan jaringan Haqqani menjadi inti permasalahan hubungan antara Pakistan dengan Amerika Serikat.
"Yang saya coba fokuskan di sini adalah kehadiran al-Qaeda dan para pemimpinnya, yang merupakan ancaman besar bagi AS. Jaringan Haqqanilah yang telah membunuh para prajurit Amerika di seberang perbatasan. Kami harus bekerja bersama-sama untuk menyingkirkan ancaman ini dengan berbagi data intelijen yang dimiliki kedua belah pihak dan juga mengalahkan kelompok-kelompok seperti Lashkar-e-Taiba dan Tehrik-e-Taliban Pakistan yang kini ingin mendapat pengakuan internasional," kata Mullen kepada sebuah surat kabar lain.
Mullen juga mengindikasikan bahwa kemungkinan tidak akan ada pengurangan kehadiran CIA di Pakistan, demikian juga dengan serangan drone, yang sebagian besarnya diarahkan ke Waziristan Utara, yang menjadi markas jaringan Haqqani, hingga ISI memutuskan hubungan dengan gerakan tersebut.
Beberapa jam setelah pertemuan antara Mullen dan Kayani, yang disebut tegang dan tidak nyaman oleh seorang sumber yang dekat dengan militer Pakistan, juru bicara militer mengeluarkan pernyataan dan menyebut kedua tokoh itu sepakat "membahas kurangnya rasa saling percaya antara berbagai institusi dan rakyat dari kedua belah pihak."
Dalam pernyataan itu, ditambahkan bahwa Kayani menolak keras propaganda negatif yang menyebut Pakistan kurang banyak berbuat untuk memerangi terorisme dan Kayani telah "memperkuat" tentangan pemerintahnya terhadap kampanye serangan drone AS, yang menurutnya, "Tidak hanya merusak upaya pemerintah kami dalam melawan terorisme, namun juga membuat masyarakat berpaling dan menentang upaya kami."
"Ada perbedaan yang nyata saat ini, jalan buntu. Mullen sudah berbicara kepada umum dan Kayani menanggapi dengan serupa," kata Imtaz Gul, seorang analis keamanan Pakistan seperti dikutip Washington Post.
Gul mengatakan, saat Washington disibukkan dengan upaya menghadapi Taliban sebelum tiba tenggat waktu penarikan pasukan dari Afghanistan pada musim panas mendatang, Pakistan jauh lebih mengkhawatirkan upaya India memanfaatkan pengaruhnya di Afghanistan untuk "mengepung" Pakistan.
Seorang personel keamanan Pakistan yang tidak bersedia menyebutkan namanya mengatakan bahwa para personel militer dan intelijen Pakistan merasa "amat tidak senang" dengan tudingan yang dilontarkan Mullen dan penolakan Mullen terhadap tuntutan Pakistan yang menginginkan AS mengurangi serangan pesawat tanpa awak di Pakistan.
"Cara Laksamana Mullen berbicara di sini, posisi kerasnya, tidak membantu sama sekali. Menurut saya, tindakannya justru semakin memperuncing ketegangan," kata pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa pasukan Pakistan menganggap jaringan Haqqani sebagai musuh, sama seperti faksi Taliban lainnya, dan semestinya hal itu tidak diragukan lagi. Menurutnya, peluncuran serangan terhadap jaringan Haqqani di Waziristan Utara hanya "masalah waktu dan sumber daya saja."

Simulasi Jangka Sorong