"Yang saya coba fokuskan di sini adalah kehadiran al-Qaeda dan para
pemimpinnya, yang merupakan ancaman besar bagi AS. Jaringan Haqqanilah
yang telah membunuh para prajurit Amerika di seberang perbatasan. Kami
harus bekerja bersama-sama untuk menyingkirkan ancaman ini dengan
berbagi data intelijen yang dimiliki kedua belah pihak dan juga
mengalahkan kelompok-kelompok seperti Lashkar-e-Taiba dan
Tehrik-e-Taliban Pakistan yang kini ingin mendapat pengakuan
internasional," kata Mullen kepada sebuah surat kabar lain.
Mullen juga mengindikasikan bahwa kemungkinan tidak akan ada
pengurangan kehadiran CIA di Pakistan, demikian juga dengan serangan drone,
yang sebagian besarnya diarahkan ke Waziristan Utara, yang menjadi
markas jaringan Haqqani, hingga ISI memutuskan hubungan dengan gerakan
tersebut.
Beberapa jam setelah pertemuan antara Mullen dan Kayani, yang disebut
tegang dan tidak nyaman oleh seorang sumber yang dekat dengan militer
Pakistan, juru bicara militer mengeluarkan pernyataan dan menyebut kedua
tokoh itu sepakat "membahas kurangnya rasa saling percaya antara
berbagai institusi dan rakyat dari kedua belah pihak."
Dalam pernyataan itu, ditambahkan bahwa Kayani menolak keras propaganda negatif yang
menyebut Pakistan kurang banyak berbuat untuk memerangi terorisme dan
Kayani telah "memperkuat" tentangan pemerintahnya terhadap kampanye
serangan drone AS, yang menurutnya, "Tidak hanya merusak upaya
pemerintah kami dalam melawan terorisme, namun juga membuat masyarakat
berpaling dan menentang upaya kami."
"Ada perbedaan yang nyata saat ini, jalan buntu. Mullen sudah
berbicara kepada umum dan Kayani menanggapi dengan serupa," kata Imtaz
Gul, seorang analis keamanan Pakistan seperti dikutip Washington Post.
Gul mengatakan, saat Washington disibukkan dengan upaya menghadapi
Taliban sebelum tiba tenggat waktu penarikan pasukan dari Afghanistan
pada musim panas mendatang, Pakistan jauh lebih mengkhawatirkan upaya
India memanfaatkan pengaruhnya di Afghanistan untuk "mengepung"
Pakistan.
Seorang personel keamanan Pakistan yang tidak bersedia menyebutkan
namanya mengatakan bahwa para personel militer dan intelijen Pakistan
merasa "amat tidak senang" dengan tudingan yang dilontarkan Mullen dan
penolakan Mullen terhadap tuntutan Pakistan yang menginginkan AS
mengurangi serangan pesawat tanpa awak di Pakistan.
"Cara Laksamana Mullen berbicara di sini, posisi kerasnya, tidak
membantu sama sekali. Menurut saya, tindakannya justru semakin
memperuncing ketegangan," kata pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa pasukan Pakistan menganggap jaringan Haqqani
sebagai musuh, sama seperti faksi Taliban lainnya, dan semestinya hal
itu tidak diragukan lagi. Menurutnya, peluncuran serangan terhadap
jaringan Haqqani di Waziristan Utara hanya "masalah waktu dan sumber
daya saja."