Oleh: Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma'il, MSc. (Walikota Depok)
Rasanya mengherankan memang, jika kita membicarakan doa dan korupsi.
Mungkin akan timbul di benak kita masing-masing pertanyaan besar (big question)
apa hubungan antara doa dan korupsi?, apakah orang yang melakukan
korupsi itu tidak pernah berdoa? Jawabannya yang jelas, pasti mereka pun
berdoa, tapi apakah doa itu dapat menghujam ke lubuk hati yang paling
dalam hingga memberikan implikasi positif dalam prilakunya sehari-hari
atau tidak? Demikian pertanyaan besar selanjutnya yang patut menjadi
renungan kita semua.
Saya ingin memulai tulisan ini dengan memaparkan sebuah kisah, dalam
sebuah riwayat diceritakan ketika salah seorang sahabat datang menemui
Rasulullah dan berkata, ''Ya Rasulallah, saya terbelit utang,
tolonglah saya.'' Tak berselang lama, sahabat lain juga datang dan
mengadukan hal yang sama, ''Ya Nabiyallah, saya tidak punya uang.''
Selanjutnya, kepada yang kedua, Rasulullah memberikan sebuah kapak
dan memerintahkan sahabat tersebut pergi mencari kayu bakar untuk
dijual di pasar, sedangkan kepada sahabat yang pertama Rasulullah tidak
memberikan apa-apa kecuali hanya mengajarkan sebuah doa untuk
diamalkan, ''Ya, Allah aku berlindung dari perasaan gundah-gulana,
lilitan utang, dan intimidasi orang-orang kuat.''
Penggalan kisah di atas mengandung suatu pelajaran yang sangat
filosofis bahwa ketika sahabat mengadukan kondisinya yang pailit dan
dililit utang serta kesulitan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,
secara gamblang bisa kita pahami pada intinya mereka berharap Rasululah
memberikan uang sesuai dengan kemampuan beliau.
Tapi, di luar dugaan mereka, Rasulullah tidak memberikan uang, tapi
hanya memberikan sebuah kapak dan sebuah doa. Pemberian kapak disini
dimaknai sebagai pemberian peluang usaha yang halal. Namun dalam
tulisan ini kami tidak membahasnya secara rinci. Dalam tulisan ini kami
mencoba dengan keterbatasan mengulas secuil pengetahuan yang kami
miliki tentang kekuatan doa. Namun yang jelas kita sepakat bahwa usaha
dan doa merupakan satu kesatuan yang juga diperintahkan oleh Yang Maha
Kuasa.
Tentu saja dalam kisah di atas bukan berarti Rasululah tidak punya
uang, tapi Nabi ingin mendidik sahabat beliau dengan memberikan
pelajaran.
Pertama, perilaku meminta-minta adalah sifat yang
dibenci Allah, karena merupakan perendahan harga diri di depan manusia,
menghilangkan rasa malu, dan yang terpenting pasti akan membelenggu
diri untuk kebiasaan buruk, akan menjadi orang tidak mau berusaha.
Seandainya Rasulullah memberikan uang, pasti sahabat tersebut akan
datang lagi ketika kembali kehabisan uang.
Kedua, Rasulullah ingin mendidik mental para
sahabat beliau, dan kita umatnya, agar jangan bermental rendah diri dan
selalu bergantung kepada orang lain, walaupun itu saudara sendiri.
Bahkan kita diajarkan dalam kondisi sesulit apa pun kita tetap harus
berdialog dalam bentuk doa dan mengembalikan masalah tersebut kepada
Sang Pemilik Masalah yaitu Allah.
Ketika mental sudah terdidik selalu mengandalkan utang atau kebaikan
orang lain, berarti kita sudah membelenggu otak dan pikiran untuk
tidak mau berusaha mendapatkan uang dengan cara halal lainnya bahkan
yang terjadi sebaliknya dan inilah awal mula menjadi virus yang sangat
mematikan kreativitas manusia.
Sikap mental manusia harus mulai dibangun dari sini karena menjadi
unsur penting dalam meraih keberhasilan. Seseorang yang bermental
pantang menyerah tentulah dalam setiap usaha akan selalu berusaha keras
menempuh jalan yang halal dan setiap rintangan hanya dianggap cobaan
kecil dan anak tangga untuk meraih keberhasilan.
Sebaliknya, seseorang yang bermental korup sudah tentu di setiap
detik yang terlintas dalam pikirannya bagaimana hari ini mendapatkan
uang banyak dan metode apalagi yang harus diterapkan tanpa
mempertimbangkan halal haramnya. Ini menunjukkan sikap sangat pengecut
karena takut miskin dan sekaligus musyrik karena tidak percaya rezeki
dari sang pencipta.
Di akhir riwayat, kedua sahabat tersebut mendatangi Rasulullah
kembali dan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya utang lagi dan
sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Subhanallah,
percayalah bahwa Terbukti doa jika dipanjatkan dengan sungguh-sungguh
akan memberikan motivasi diri untuk melepaskan diri dari belenggu utang
yang merupakan sumber gundah gulana.
Doa itu senjata orang beriman, yang berarti merupakan bekal dan
sekaligus tameng untuk menghadapi kesulitan hidup yang ditemui. Doa itu
percakapan antara seorang hamba kepada Tuhannya. Para ahli pun
mengatakan bahwa rintihan, percakapan dan bentuk-bentuk kalimat bebas
lainnya yang berisikan dialog dengan Tuhan tidak lain merupakan doa.
Bahkan shalat pun sesungguhnya adalah doa. Sebab hampir seluruh bacaan
di dalamnya merupakan permintaan kepada Allah.
“Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat” (QS:2:45)
Allah berjanji mengabulkan setiap doa hambanya di dunia atau akan
menjadi simpanan di akhirat kelak. Nah kalau begitu, tidaklah
berlebihan jikalau salah seorang guru agama pernah berkata maraknya
korupsi disebabkan karena orang yang korupsi tidak pernah berdoa secara
serius. Baik serius membaca doanya maupun memahami apa arti doa yang
diucapkan terlebih lagi memancarkan akhlak baik sebagai akibat dari doa
yang dipanjatkan.
Untuk menghindari diri kita dari perbuatan korupsi dalam berbagai
macam bentuk, sang guru pun mengajarkan untuk mengamalkan secara benar 8
doa kunci aktivitas harian. Masih menurut sang guru, sesungguhnya
seluruh kalimat doa yang ada dapat menghindarkan manusia dari semua
perbuatan yang negatif asalkan kita melakukannya secara benar. Tanpa
itu, mustahil doa akan memberikan kekuatan yang luar biasa dalam diri
manusia. Namun dalam aktivitas keseharian, sang guru mencatat ada 8
doa kunci yang memiliki makna luar biasa secara simultan dapat
menghantarkan kita menjadi manusia yang akan selalu tunduk dan patuh
kepada sang Khalik jika kita dapat amalkan secara kontinyu dan benar.
Kekuatan 8 doa kunci tersebut insya Allah akan mengurungkan niat
manusia untuk berbuat negatif termasuk korupsi.
Jurus Delapan Doa Pencegah Korupsi
Delapan doa tersebut adalah; doa sebelum dan bangun
tidur, doa sesudah wudhu, doa sebelum dan sesudah makan/minum, doa
sebelum mengenakan pakaian, doa saat keluar rumah serta doa pada saat
berkendaraan/dalam perjalanan. Menurut sang guru ke delapan doa kunci
tersebut merupakan aktivitas harian yang tidak mungkin tidak kita
lakukan sebagai ummat manusia. 8 doa tersebut memiliki makna yang
sangat mendalam.
Doa sebelum tidur dan doa bangun tidur, mengingatkan
kepada kita untuk selalu ingat kematian. Mestinya jika doa ini kita
pahami betul semua sifat-sifat negatif (sombong, iri, dengki, takabbur
dsb) yang ada pada diri manusia akan sirna dengan sendirinya. Karena
semuanya bermuara pada kesadaran hakiki bahwa kita hanya hamba lemah
yang sewaktu-waktu dapat dihidupkan dan dimatikan kapan pun Allah mau.
Doa ini menyadarkan kita bahwa kematian adalah kado terindah yang pasti
ada dalam episode hidup ini. Kematian adalah kepastian yang akan
diterima oleh setiap manusia, cepat atau lambat dan tidak satu pun jiwa
makhluk yang dapat menolaknya. Konsekuensinya, dalam memulai aktivitas
hidupnya selalu ingin atas nama Allah dan saat meninggal pun rela dan
ikhlas atas nama Allah sehingga khusnul khatimah.
Doa sesudah wudhu, memberikan makna keinginan
menjadi hamba yang bertaubat, bersih fisik rohani serta shaleh.
Aktivitas harian yang satu ini sangat dapat menjaga kesucian diri
manusia lahir bathin. Orang yang selalu menjaga wudhunya dengan
menyempurnakan pemahaman terhadap doa yang dipanjatkan pastinya dapat
dijamin akan malu jika berbuat maksiat. Justru dengan wudhu yang terjaga
akan membentengi manusia dari segala macam dosa dan termotivasi untuk
produktif dan rajin bekerja sehingga layak menjadi orang shaleh. Allah
memberikan jaminan surga dari pintu mana saja bagi siapa pun yang dapat
menjaga wudhunya setiap hari. Wudhu disini tentunya dalam makna yang
hakiki yaitu wudhu secara fisik dengan air wudhu dan terjaganya perilaku
manusia sehari-hari.
Doa sebelum dan sesudah makan, merupakan permohonan
menjadi hamba yang pandai bersyukur atas berkah rezki yang kita
dapatkan dan dijauhkan siksa api neraka. Sungguh sangat tidak mungkin
jika orang yang mengamalkan aktivitas doa harian ini lalu tergoda untuk
melakukan hal-hal yang dibenci olehNya. Jadi, jika ada orang sehabis
makan lalu nyolong/mencuri itu berarti doa yang dipanjatkan tidak
sungguh-sungguh diucapkan. Makanan/minuman yang telah masuk ke dalam
tubuh kita semestinya memompa kita untuk bergerak dan beraktivitas di
jalan yang telah diperintahkan oleh Yang Maha Pencipta yang dapat
menjauhkan kita dari siksaan api neraka.
Doa mengenakan pakaian, mengarahkan kita berprilaku
baik dan terhindar dari perbuatan jahat. Dengan memahami doa ini akan
semakin mengokohkan diri kita untuk memancarkan cahaya kebaikan dengan
pakaian yang melekat di tubuh kita. Bahkan dengan memaknai doa tersebut
manusia dapat meningkatkan peran dakwahnya apapun profesi yang kita
geluti dan memlihara komitmen kita untuk menghindari perbuatan jahat.
Jadi, sangatlah tidak mungkin orang yang telah berdoa secara khusyu
pada saat akan mengenakan pakaian setelah itu akan bertidak amoral
termasuk korupsi dalam segala bentuk. Bahkan sebaliknya, sebelum
melepas pakaian kita akan bertanya dulu kepada sang pakaian, “ apa
amal shaleh yang telah diantarkan dari pakaian tersebut?”.
Doa Keluar Rumah, doa ini mengantarkan manusia
hidup secara koheren bersama Allah. Kita berharap peranan Allah
senangtiasa menyertai berbagai aktivitasnya dan meyakini bahwa kekuatan
Allah selalu mendampinginya. Doa ini juga memberikan kekuatan
keyakinan pada diri kita bahwa tidak ada satu pun yang dapat
mengalahkan kekuasaan sang khalik. Karena seluruh isi bumi beserta
isinya hanya milik Allah. Tentu doa ini melahirkan manusia pemberani
sekaligus optimis dalam menghadapi rintangan negatif di luar rumah.
Doa berkendaraan, mengingatkan kita pada kebajikan
dan ketaqwaan, perlindungan keluarga, dijauhkan dari bencana harta dan
keluarga. Jika doa ini kita pahami betul maknanya tentu kita akan
selalu melindungi diri dari segala macam tujuan perjalanan yang
menyesatkan. Bahkan dengan doa ini kita akan selalu terlindungi dari
segala macam kemungkaran yang dapat merusak prinsip tauhid kita kepada
yang Maha Kuasa. Kalau kita sudah mengerti benar tentang doa ini, tidak
mungkin manusia akan terjerumus dalam sebuah perjalanan sia-sia yang
akan menghancurkan moralitas kepribadian kita sebagai hamba yang
beriman.
Ilmu pengetahuan mungkin tak akan pernah menunjukkan secara pasti
dahsyatnya kekuatan doa dalam mengatasi penyakit kronis bangsa yang
menghancurkan tatanan moral bangsa ini yaitu korupsi. Kini, siapa pun
kita (pejabat, pengusaha, rakyat biasa kaya dan miskin, tua ataupun
muda) yang mungkin berada di sekitar lingkaran yang dapat memancing
terjadinya korupsi dalam segala bentuk, sekecil apapun itu lawanlah
dengan benteng 8 doa kunci aktivitas harian yang khusyu' dan
sungguh-sungguh.
Jika sesungguhnya ke delapan doa kunci aktivitas harian tersebut
kita amalkan secara baik dan benar, masihkah kita berani melakukan
Korupsi? Ingatlah tidak ada jaminan yang pasti menurut standar manusia
bahwa seseorang dapat menjalani fase kehidupan ini sedetik, semenit,
sejam atau beberapa hari mendatang. Yang jelas pintu kematian segera
menghampiri kita. Kata orang bijak “ usia itu tidak berbau” apa pun, di
mana pun, kapan pun, siapa pun dan dalam kondisi bagaimana pun kado
kematian siap menjemput kita, meskipun berada dalam sebuah benteng yang
tinggi lagi kokoh. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah:
“Dimana saja kamu berada, kematian pasti mendatangimu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..” (Qs.4:An-Nisa 78).
Di akhir tulisan ini saya ingin meyakinkan bahwa kebesaran dan kesucian Allah tidak perlu diragukan lagi.
“Dan apa saja musibah yang menimpamu, itu disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah tetap akan memaafkan sebagian
besar kesalahan-kesalahanmu”. (Qs Asy-Syura 30).