Tembak "Pencuri", Kolonel Inggris Malah Dihukum

Written By Juhernaidi on Rabu, 20 April 2011 | 12:45:00 PM

Kolonel Neil Hutton, veteran konflik Irak dan Afghanistan, menyalami beberapa anggota militer. Hutton sedang diselidiki setelah seorang warga sipil tertembak dalam pelatihan di Kenya. (Foto: MoD)
LONDON  – Seorang perwira senior militer sedang diselidiki setelah seorang warga sipil tertembak dalam pelatihan di Kenya. Kolonel Neil Hutton, veteran konflik Irak dan Afghanistan, diskors dari tugasnya menyusul insiden tersebut.
Sang komandan, yang bertanggung jawab atas Unit Pelatihan Militer Inggris di Kenya, melepaskan setidaknya satu tembakan peringatan untuk menakut-nakuti warga setempat setelah serentetan pencurian yang dialami pasukan Inggris.
Polisi Militer Kerajaan tengah menyelidiki penembakan itu, yang terjadi pada tanggal 17 Maret.
Kementerian Pertahanan mengatakan, "Kami bisa mengonfirmasi bahwa seorang perwira aktif tengah diselidiki menyusul insiden penembakan di Kenya yang telah melukai seorang warga sipil. Tidak pantas untuk berkomentar lebih jauh sementara penyidikan masih berlangsung."
Sumber-sumber militer mengatakan bahwa perwira yang diskors adalah Kolonel Hutton, yang bertanggung jawab memasukkan 3,500 tentara Inggris ke dalam program pelatihan selama satu tahun di dataran Kenya.
Red Cap tengah menyelidiki apakah "tersangka pencuri" itu tertembak peluru dari Kolonel Hutton, yang melepaskan tembakan untuk menakut-nakuti pencuri di pangkalan militer, atau dari orang lain.
Peran unit pelatihan itu adalah untuk mempersiapkan personil aktif dalam sebuah lingkungan yang serupa dengan daratan Afghanistan. Tiga batalion infanteri setiap tahun menghabiskan tiga minggu dalam Exercise Grand Prix untuk mengasah keahlian mereka sebelum pengiriman mereka untuk memerangi Taliban.
Itu memungkinkan pasukan untuk menembakkan peluru hidup serta mengalami berbagai iklim, mulai dari dataran berdebu dan panas hingga hutan hujan.
Dalam wawancara tahun lalu, Kolonel Hutton menggambarkan pentingnya pelatihan bagi prajurit-prajurit muda yang bersiap untuk terjun ke medan tempur.
Dia mengatakan, "Pelatihan di sini dilakukan dalam iklim yang menantang, sangat sulit. Para prajurit berkembang secara fisik dan mental dalam kondisi panas, kering, berdebu seperti yang ada di Afghanistan."
"Jika kau adalah prajurit muda yang datang dari London, Glasgow, atau mana pun ini adalah pengalaman yang fantastis, dan ini benar-benar membangun kepercayaan diri mereka."
Kolonel Hutton juga mengatakan penting bagi para tentara untuk belajar bertempur di area padat penduduk.
Dia mengatakan, "Kami minta penduduk setempat menjadi diri mereka sendiri. Kami mendatangkan kepala desa untuk menjadi kepala desa."
"Di mana pun kami pergi akan ada warga setempat yang harus berinteraksi dengan kami. Di sini ada penduduk desa Kenya yang menciptakan medan tempur yang sangat realistis. Itu menambah rasa yang benar-benar otentik."

Simulasi Jangka Sorong