Sang komandan, yang bertanggung jawab atas Unit Pelatihan Militer
Inggris di Kenya, melepaskan setidaknya satu tembakan peringatan untuk
menakut-nakuti warga setempat setelah serentetan pencurian yang dialami
pasukan Inggris.
Polisi Militer Kerajaan tengah menyelidiki penembakan itu, yang terjadi pada tanggal 17 Maret.
Kementerian Pertahanan mengatakan, "Kami bisa mengonfirmasi bahwa
seorang perwira aktif tengah diselidiki menyusul insiden penembakan di
Kenya yang telah melukai seorang warga sipil. Tidak pantas untuk
berkomentar lebih jauh sementara penyidikan masih berlangsung."
Sumber-sumber militer mengatakan bahwa perwira yang diskors adalah
Kolonel Hutton, yang bertanggung jawab memasukkan 3,500 tentara Inggris
ke dalam program pelatihan selama satu tahun di dataran Kenya.
Red Cap tengah menyelidiki apakah "tersangka pencuri" itu tertembak
peluru dari Kolonel Hutton, yang melepaskan tembakan untuk
menakut-nakuti pencuri di pangkalan militer, atau dari orang lain.
Peran unit pelatihan itu adalah untuk mempersiapkan personil aktif
dalam sebuah lingkungan yang serupa dengan daratan Afghanistan. Tiga
batalion infanteri setiap tahun menghabiskan tiga minggu dalam Exercise
Grand Prix untuk mengasah keahlian mereka sebelum pengiriman mereka
untuk memerangi Taliban.
Itu memungkinkan pasukan untuk menembakkan peluru hidup serta
mengalami berbagai iklim, mulai dari dataran berdebu dan panas hingga
hutan hujan.
Dalam wawancara tahun lalu, Kolonel Hutton menggambarkan pentingnya
pelatihan bagi prajurit-prajurit muda yang bersiap untuk terjun ke medan
tempur.
Dia mengatakan, "Pelatihan di sini dilakukan dalam iklim yang
menantang, sangat sulit. Para prajurit berkembang secara fisik dan
mental dalam kondisi panas, kering, berdebu seperti yang ada di
Afghanistan."
"Jika kau adalah prajurit muda yang datang dari London, Glasgow, atau
mana pun ini adalah pengalaman yang fantastis, dan ini benar-benar
membangun kepercayaan diri mereka."
Kolonel Hutton juga mengatakan penting bagi para tentara untuk belajar bertempur di area padat penduduk.
Dia mengatakan, "Kami minta penduduk setempat menjadi diri mereka
sendiri. Kami mendatangkan kepala desa untuk menjadi kepala desa."
"Di mana pun kami pergi akan ada warga setempat yang harus
berinteraksi dengan kami. Di sini ada penduduk desa Kenya yang
menciptakan medan tempur yang sangat realistis. Itu menambah rasa yang
benar-benar otentik."