Para diplomat AS, baik yang di Islamabad maupun yang di Kabul,
sama-sama menolak mengomentari kunjungan delegasi Pakistan ke
Afghanistan. Mereka juga tampaknya tidak banyak mengetahui perihal
Komisi Gabungan Afghanistan-Pakistan yang digembar-gemborkan kedua belah
pihak di Kabul untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk mengakhiri perang,
demikian dilansir New York Times.
"Ada sesuatu yang khusus dengan hubungan yang hanya akan makin
memburuk, tapi tidak pernah benar-benar rusak," demikian dinyatakan
majalah Foreign Policy, Senin (18/4). "Pakistan sudah menjual dirinya
kepada Amerika Serikat sejak masa-masa awal Perang Dingin, dan
Washington membeli tanpa banyak tanya, menyerahkan pelatihan dan
pemberian senjata kepada mujahidin yang memerangi Soviet di Afghanistan
pada 1980-an. Baru pada 1990-an, seiring kepergian Soviet, Washington
membiarkan hubungan itu mengalami keretakan terkait program nuklir
Pakistan."
Sejumlah pejabat AS mengatakan, dalam tingkat tertentu, Amerika
membujuk para pemimpin Afghanistan dan Pakistan untuk saling berdialog,
tapi tidak sampai menyingkirkan AS atau mencuptakan solusi yang
bertentangan dengan kepentingan AS.
Upaya Pakistan untuk memperbaiki hubungan dengan Karzai, yang tak
diacuhkan AS hingga baru-baru ini, hanyalah contoh terbaru upaya
melewati AS demi mengamankan kepentingan Pakistan di Afghanistan.
Pakistan mungkin mendapatkan keuntungan awal dengan Karzai. Kabarnya,
Pakistan membujuk Karzai dan mengatakan bahwa jumlah anggota Angkatan
Darat sebanyak 400.000 yang diinginkan AS tidaklah perlu dan semestinya
hanya berjumlah 100.000. Hal itu diungkapkan oleh seorang sumber
Pakistan yang familier dengan pola pemikiran Jenderal Kayani.
Para pejabat Amerika mengatakan, mereka enggan mengikutsertakan
Pakistan dalam langkah-langkah awal menuju perdamaian di Afghanistan
karena mereka khawatir Islamabad akan memblokir kelonggaran yang
diinginkan AS dari Taliban.
Secara khusus, AS ingin terus menekan kelompok yang dipimpin
Sirajuddin Haqqani, tokoh yang disebut-sebut telah lama menjadi aset
Pakistan, yang menyeberang dari Waziristan Utara menuju Afghanistan
untuk menyerang para prajurit AS dan NATO.
Seorang pejabat senior Amerika di Washington mengakui bahwa Pakistan
tidak diikutsertakan dalam banyak hal karena tidak dipercayai.
Kesan bahwa AS mengabaikan Pakistan khususnya membuat bingung
Jenderal Kayani, saat ia mendapatkan perpanjangan jabatan selama tiga
tahun bulan Juli lalu, sebagian karena kemungkinan dirinya mendapatkan
kursi untuk Pakistan di meja perundingan Afghanistan.
"Tidak pernah ada perasaan sebagai sekutu (AS)," kata seorang pejabat
tinggi militer yang sudah menjalin hubungan dekat dengan Washington
sejak 2001.
"Saya sudah bilang kepada Amerika: ‘Kalian akan gagal di Afghanistan,
dan kalian akan menimpakan kesalahan kepada kami.’ Saya masih merasa
hal ini akan terjadi," tambahnya.