Hindari AS, Pakistan Ingin Tancapkan Pengaruh di Afghan

Written By Juhernaidi on Rabu, 20 April 2011 | 12:47:00 PM

Perdana Menteri Pakistan, Raza Gilani (ki) bersama dengan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai dalam konferensi pers gabungan yang dighelar di Kabul pada 16 April 2011. (Foto: AP)
ISLAMABAD  – Pakistan tengah berusaha menjalin persahabatan dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Hal itu dilakukan agar Pakistan bisa melewati Amerika Serikat dan menancapkan pengaruhnya sendiri di Afghanistan, demikian dituliskan sebuah surat kabar AS. Dalam perkembangan terakhir hubungan Af-Pak (Afghanistan-Pakistan), Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Parvez Kayani dan pemimpin Inter-Services Intelligence (ISI), Jenderal Ahmed Shuja Pasha, turut menemani Perdana Menteri Yousaf Raza Gilani yang berkunjung ke Kabul, Sabtu (16/4) pekan lalu.
Para diplomat AS, baik yang di Islamabad maupun yang di Kabul, sama-sama menolak mengomentari kunjungan delegasi Pakistan ke Afghanistan. Mereka juga tampaknya tidak banyak mengetahui perihal Komisi Gabungan Afghanistan-Pakistan yang digembar-gemborkan kedua belah pihak di Kabul untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk mengakhiri perang, demikian dilansir New York Times.
"Ada sesuatu yang khusus dengan hubungan yang hanya akan makin memburuk, tapi tidak pernah benar-benar rusak," demikian dinyatakan majalah Foreign Policy, Senin (18/4). "Pakistan sudah menjual dirinya kepada Amerika Serikat sejak masa-masa awal Perang Dingin, dan Washington membeli tanpa banyak tanya, menyerahkan pelatihan dan pemberian senjata kepada mujahidin yang memerangi Soviet di Afghanistan pada 1980-an. Baru pada 1990-an, seiring kepergian Soviet, Washington membiarkan hubungan itu mengalami keretakan terkait program nuklir Pakistan."
Sejumlah pejabat AS mengatakan, dalam tingkat tertentu, Amerika membujuk para pemimpin Afghanistan dan Pakistan untuk saling berdialog, tapi tidak sampai menyingkirkan AS atau mencuptakan solusi yang bertentangan dengan kepentingan AS.
Upaya Pakistan untuk memperbaiki hubungan dengan Karzai, yang tak diacuhkan AS hingga baru-baru ini, hanyalah contoh terbaru upaya melewati AS demi mengamankan kepentingan Pakistan di Afghanistan.
Pakistan mungkin mendapatkan keuntungan awal dengan Karzai. Kabarnya, Pakistan membujuk Karzai dan mengatakan bahwa jumlah anggota Angkatan Darat sebanyak 400.000 yang diinginkan AS tidaklah perlu dan semestinya hanya berjumlah 100.000. Hal itu diungkapkan oleh seorang sumber Pakistan yang familier dengan pola pemikiran Jenderal Kayani.
Para pejabat Amerika mengatakan, mereka enggan mengikutsertakan Pakistan dalam langkah-langkah awal menuju perdamaian di Afghanistan karena mereka khawatir Islamabad akan memblokir kelonggaran yang diinginkan AS dari Taliban.
Secara khusus, AS ingin terus menekan kelompok yang dipimpin Sirajuddin Haqqani, tokoh yang disebut-sebut telah lama menjadi aset Pakistan, yang menyeberang dari Waziristan Utara menuju Afghanistan untuk menyerang para prajurit AS dan NATO.
Seorang pejabat senior Amerika di Washington mengakui bahwa Pakistan tidak diikutsertakan dalam banyak hal karena tidak dipercayai.
Kesan bahwa AS mengabaikan Pakistan khususnya membuat bingung Jenderal Kayani, saat ia mendapatkan perpanjangan jabatan selama tiga tahun bulan Juli lalu, sebagian karena kemungkinan dirinya mendapatkan kursi untuk Pakistan di meja perundingan Afghanistan.
"Tidak pernah ada perasaan sebagai sekutu (AS)," kata seorang pejabat tinggi militer yang sudah menjalin hubungan dekat dengan Washington sejak 2001.
"Saya sudah bilang kepada Amerika: ‘Kalian akan gagal di Afghanistan, dan kalian akan menimpakan kesalahan kepada kami.’ Saya masih merasa hal ini akan terjadi," tambahnya.

Simulasi Jangka Sorong