Pete Schultz, antariksawan dari Brown University yang tak terlibat
proyek ini, mengungkapkan, "Penemuan spektakuler yang kini bisa diakses
ini membuktikan bahwa kita memiliki banyak tetangga baru."
"Katalog terbaru dari batuan angkasa tersebut membantu menambah pengetahuan kita mengenai isi dari tata surya,"
Edward Wright dari UCLA yang memimpin investigasi mengatakan, "Mulai
saat ini, ribuan mata akan melihat data WISE dan saya mengharapkan
kejutan."
Sedangkan William Keel, astronom University of Alabama, telah menggunakan data tersebut untuk deteksi kuasar.
Teleskop angkasa WISE senilai USD320 juta tersebut diluncurkan pada bulan Desember 2009.
Pada Oktober 2010, pendingin hidrogen di wahana antariksa itu habis
dan hanya bisa memperpanjang misi selama empat bulan. Mulai Februari
2011, WISE memasuki masa hibernasi.
Selama 14 bulan misi sejak peluncuran, WISE berhasil menangkap 2,5
juta gambar dari orbit polarnya. Data yang dirilis online saat ini hanya
57 persen dari yang telah diobservasi, sedangkan data lainnya akan
dirilis pada 2012.
WISE juga dapat membantu para ilmuwan untuk menjelaskan ukuran serta
komposisi dari batuan-batuan angkasa yang baru ditemukan tersebut.
Misi WISE dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory NASA. Misi tersebut
adalah kelanjutan dari misi pemetaan langit menggunakan gelombang
inframerah, Infrared Astronomical Satellite, yang diluncurkan pada tahun
1983.