Menurut dia, standar calcio di "Negeri Pizza" sudah tertinggal dari rival-rivalnya dalam dekade terakhir.
"Terlalu
banyak ketegangan, kurang berani melibatkan pemain-pemain muda, dan
hilangnya satu generasi," tutur mantan legenda Udinese yang pernah
memenangi titel Scudetto bersama AC Milan itu, seperti diberitakan
Football Italia.
"Tim yang dominan itu-itu saja"
"Pemain-pemain
yang menarik perhatian 'terlalu muda'. Tidak ada yang di
tengah-tengah," sambung pria 42 tahun yang kini menjabar direktur
sepakbola di Federasi Sepakbola Jerman itu.
Bierhoff lalu membandingkannya dengan Liga Jerman.
Menurutnya, banyak tim di Bundesliga dihuni pemain-pemain lokal yang
memunculkan antusiasme dan ambisi. Dan itu membantu perkembangan
sepakbola setempat.
"Waktu aku datang ke Italia, meskipun itu
hari libur, aku merasakan banyak keletihan pada sepakbola mereka, nyaris
pasrah," sambungnya.
Apa yang dianalisis Bierhoff boleh jadi ada benarnya.
Buktinya,
nilai Seri A dianggap turun oleh UEFA sehingga musim depan mereka
dikurangi jatah kuota di Liga Champions menjadi tiga tim. Sebaliknya,
Liga Jerman mendapatkan tambahan satu tempat menjadi empat.