Saif al-Islam Yakin Gaddafi Akan Menangkan Pertempuran

Written By Juhernaidi on Kamis, 21 April 2011 | 10:22:00 AM

Salah satu putra Moammar Gaddafi, Saif al-Islam, mengatakan bahwa dia sangat optimis rezim ayahnya akan menang saat negara tersebut dalam cengkeraman pemberontakan selama dua bulan. (Foto: Anorak) TRIPOLI – Saif al Islam, putra penguasa Libya Moammar Gaddafi, mengatakan pada hari Selasa (19/4) bahwa dia sangat optimis rezim ayahnya akan menang saat negara tersebut dalam cengkeraman pemberontakan selama dua bulan. "Aku sangat optimis dan kami akan menang," ujar Saif lewat televisi Allibya.
"Situasinya berubah setiap hari yang menguntungkan kami," ujarnya di hadapan sekitar 50 orang yang hadir dalam siaran televisi itu. Dia tidak memberikan detail lebih lanjut.
Saif bersumpah bahwa rezim ayahnya tidak akan membalas dendam terhadap  pemberontak yang berusaha untuk menggulingkannya.
Tapi dia memperingatkan bahwa penggunaan senjata dan kekuatan hanya akan dihadapi oleh kekuatan, "Dan mereka yang melewati empat garis merah, yang ditetapkan tahun 2007 (Gaddafi, Islam, keamanan negara, dan kesatuan nasional) akan harus menerima konsekuensinya."
"Tujuannya bukan balas dendam. Kami tidak akan membalas dendam pada siapapun dan kami tidak akan membunuh siapapun," ujarnya.
Saif menuduh pemimpin pemberontak di kota Misrata dan Zenten menjadi bandar narkoba atau pengusaha yang berupaya menghindar dari mengembalikan pinjaman sebesar puluhan juta dolar.
Putra Gaddafi itu juga mengatakan bahwa sejumlah proyek senilai miliaran dolar saat ini mangkrak karena ketidakamanan yang berlangsung dan kepergian puluhan ribu pekerja asing.
"Semua akan kembali normal pada akhirnya," ujar Saif. "Proyek dan layanan akan dilanjutkan dan pekerja asing akan kembali."
Dia menambahkan bahwa Libya tidak akan sama lagi setelah pemberontakan melawan Gaddafi yang telah berkuasa di negara Afrika itu selama empat dekade lebih, mensinyalir pada sebuah konstitusi yang versi drafnya baru-baru ini dipresentasikan ke pers di Tripoli.
Sebelumnya, Saif mengklaim dalam wawancara dengan The Washington Post bahwa mereka tidak melakukan kejahatan apapun terhadap rakyat Libya.
Dia mengatakan bahwa bukti-bukti pasukan Libya menembaki demonstran anti-pemerintah adalah bohong, menyamakannya dengan laporan pra-perang Irak bahwa negara itu menyembunyikan senjata pemusnah massal (WMD).
"Ini persis seperti WMD," ujarnya. "WMD, WMD, WMD, pergi dan serang Irak. Warga sipil, warga sipil, warga sipil, pergi dan serang Libya. Itu hal yang sama."
Saif mengatakan dirinya telah mendatangkan banyak pembaharu ke dalam pemerintahan Libya. Tapi beberapa dari mereka membelot ke pemberontak dan memiliki peran memimpin dalam Dewan Nasional Transisional.
Dia mengatakan bahwa pemberontakan itu dikepung oleh Al Qaeda, dan menepis klaim oleh PBB, dokter, jurnalis asing dan yang lainnya bahwa warga sipil menjadi target dan terbunuh di Misrata.
"Aku tidak akan terima, bahwa pasukan Libya membunuh warga sipil. Itu tidak terjadi. Itu tidak akan pernah terjadi."

Simulasi Jangka Sorong