Komandan
AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus menyampaikan pidato di Royal
United Services Institute (RUSI) di London pada 23 Maret 2011. (Foto:
Reuters)
KABUL – Penistaan agama dalam peristiwa pembakaran
Al Qur’an di sebuah gereja di Florida, yang mengakibatkan timbulnya
kerusuhan mematikan selama tiga hari di Afghanistan, menimbulkan bahaya
baru dalam upaya perang Amerika Serikat menghadapi Taliban. Hal itu
diungkapkan oleh komandan AS, Jenderal David Petraeus, dalam sebuah
wawancara.
Jenderal Petraeus, yang memimpin sekitar 150.000 prajurit AS dan
sekutu di Afghanistan, menyampaikan hal tersebut setelah massa terbakar
amarahnya menggelar unjuk rasa di Kota Mazar-e-Sharif, Afghanistan, di
sebuah bangunan PBB dan menewaskan tujuh warga asing. Massa kemudian
mengamuk di Kandahar sambil mengibarkan bendera Taliban.
Kerusuhan berdarah yang muncul secara spontan tersebut mengejutkan
masyarakat internasional dan semakin menyoroti keadaan rentan yang
dihadapi pemerintah Afghanistan. Kekerasan terhadap target Barat di
daerah perkotaan menjadi ancaman baru di sebuah negara yang umumnya
perang berlangsung di pedesaan, ditambah dengan ketidaksiapan aparat
keamanan asing dan lokal untuk menghadapinya.
"Menghadapi massa adalah mimpi buruk, bahkan bagi pemimpin aparat
keamanan. Khususnya kerusuhan yang bisa dipengaruhi pihak-pihak yang
ingin menghasut agar terjadi kekerasan, yang ingin membajak keinginan,
dalam kasus ini mungkin adalah keinginan yang dapat dipahami," kata
Jenderal Petraeus dalam wawancara hari Minggu (3/4).
"Jelas hal ini merupakan tantangan keamanan tambahan yang serius di sebuah negara yang sudah tidak aman," tambahnya.
September tahun lalu, saat Pendeta Terry Jones dari World Dove
Outreach Center di Gainesville, Florida, pertama mengumumkan niatannya
untuk membakar kitab suci umat Islam,
Jenderal Petraeus mendesak sang pendeta agar membatalkannya. Petraeus
mengklaim bahwa hal itu bisa "dimanfaatkan" Taliban dan membahayakan
nyawa para prajurit Amerika.
Jones membatalkan gagasan itu tahun lalu, namun kemudian ia dan
gerejanya melakukan "persidangan" dan membakar Al-Qur’an dalam sebuah
upacara yang direkam video pada 20 Maret.
"Ini mengejutkan," kata Jenderal Petraeus. Ia menambahkan,
"Pembakaran Al-Qur’an di Florida membakar amarah, amat kurang ajar, dan
sangat tidak toleran."
Jenderal Petraeus, Duta Besar AS Karl Eikenberry, dan sejumlah utusan
Barat lainnya bertemu dengan Presiden Hamid Karzai pada hari Minggu
untuk membahas krisis keamanan yang muncul gara-gara kejadian di Florida
tersebut.
Meski Petraeus mengaku tidak ragu bahwa Karzai menganggap serius
keadaan tersebut, sejumlah pejabat Barat mengeluh karena Karzai sendiri
semakin memperburuk ketegangan dengan pernyataannya terkait peristiwa
tersebut.
Sebagian besar warga Afghanistan baru mengetahui peristiwa pembakaran
di Florida saat Karzai pada 24 Maret mengecam tindakan itu dan mendesak
AS dan PBB mengadili pelakunya dan meminta tanggapan yang memuaskan 1,5
juta umat Islam yang marah di seluruh dunia.
Usai berjumpa dengan Petraeus dan para utusan, Karzai menyampaikan
pernyataan baru dan meminta "pemerintah, Senat, dan Kongres AS dengan
jelas mengecam tindakan mengerikan (Pendeta Jones) dan mencegah
terulangnya kejadian serupa di masa mendatang."
Unjuk rasa di Mazar-e-Sharif Jumat lalu dilakukan setelah khotbah
berapi-api dari para ulama pemerintah di masjid utama kota itu.
Akan tetapi, pada hari Sabtu pada pengunjuk rasa di Kandahar juga meneriakkan "Binasalah Karzai" selain "Binasalah Amerika."
Sembilan orang warga Afghanistan tewas dan lebih dari 80 orang
lainnya terluka di Kandahar pada hari Sabtu saat para pengunjuk rasa
berusaha mengusir para perwakilan PBB di sana. Penembakan terjadi saat
para pengunjuk rasa dihentikan pasukan keamanan Afghanistan.
"Menurut kami, tidak ada bedanya antara pria di Florida itu dengan
para prajurit Amerika di sini," kata Karimullah, mahasiswa berusia 25
tahun yang tidak memberikan nama lengkap dan turut ambil bagian dalam
unjuk rasa Kandahar, sama seperti sebagian besar warga Afghanistan.
"Mereka menghabisi rakyat di sini, semenetara di AS mereka membakar
kitab suci Al-Qur’an. Amerika hanya ingin mempermalukan dunia Islam."