Artikel itu menyebutkan bahwa militer Pakistan juga senang bekerja sama dengan AS saat yang jadi target serangan drone
adalah para anggota Taliban Pakistan yang mengincar Islamabad, tapi
Pakistan kurang kooperatif jika yang jadi target adalah Taliban
Afghanistan yang bermarkas di Pakistan, yang selama ini banyak dikaitkan
dengan dinas intelijen negara tersebut, Inter-Services Intelligence
(ISI).
Mengenai penahanan kontraktor CIA Raymond Davis
selama satu bulan setengah ditambah dengan keluhan Pakistan terkait
serangan drone 17 Maret lalu di Waziristan Utara yang diduga menewaskan
para pemimpin suku yang mengadakan pertemuan dengan Taliban. Artikel itu
mengatakan, penjelasan yang lebih bisa diterima adalah, militer
Pakistan marah karena CIA tidak banyak membagi data intelijen dengan
ISI.
"Dalam hal ini, pengusiran massal terhadap para personel keamanan AS
betul-betul merupakan tuntutan untuk kerja sama lebih dekat. Bahkan jika
cara memerolehnya ganjil. Mungkin juga pemimpin Angkatan Darat Pakistan
Jenderal Ashfaq Pervez Kayani mencoba memoles citra dirinya di hadapan
umum dengan melontarkan kemarahan anti-Amerika yang akan berlalu seiring
berjalannya waktu," tambah media tersebut.
Namun, Wall Street Journal menambahkan, tetap saja, jika CIA
tidak memercayai ISI, itu karena ISI sudah berulang kali memperlihatkan
bahwa mereka tidak layak dipercaya.
"Angkatan Darat Pakistan masih belum menyetujui gagasan bahwa
Afghanistan tidak hanya halaman belakang yang strategis, khususnya di
bawah kendali kelompok seperti Taliban, dan mereka juga paranoid dan
berhalusinasi bahwa India akan memasuki batas-batas Afghanistan untuk
mengepung musuh lamanya," tambah media tersebut.
Artikel tersebut mengetengahkan bahwa pemerintah sipil Pakistan juga
tidak membantu dirinya sendiri karena tidak mengatakan yang sesungguhnya
kepada masyarakat perihal serangan drone, yang disebut Wall Street Journal, menyerang dengan "akurasi tinggi".
"Klaim korban sipil yang jatuh amat dibesar-besarkan demi keuntungan Taliban," tambah Journal.
Dalam opini itu, juga disebutkan bahwa Islamabad harus memilih berpihak pada siapa.
Pakistan bisa memilih bekerja sama dalam perang melawan teror dan
mendapat keuntungan dari aliansi dengan Amerika, atau menentang AS dan
menanggung konsekuensinya, termasuk hilangnya bantuan militer, operasi
khusus, dan serangan drone di kawasan perbatasan mereka. Satu lagi,
aliansi militer yang semakin kuat antara AS dengan India.