Media AS: Bermuka Dua, Pakistan Mainkan "Politik Murahan"

Written By Juhernaidi on Minggu, 17 April 2011 | 11:02:00 PM

Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari berpose di kantornya di Islamabad, Pakistan. Oleh AS, Zardari disebut memainkan politik murahan karena wajah gandanya dalam isu serangan drone. (Foto: New York Times)
WASHINGTON – Menurut sebuah surat kabar Amerika Serikat, pemerintah Pakistan yang dipimpin Presiden Asif Ali Zardari memainkan "politik murahan" karena di satu sisi diam-diam memperbolehkan Amerika Serikat meningkatkan serangan pesawat tanpa awak di kawasan suku, sementara di sisi lain mengeluhkan serangan tersebut di hadapan umum untuk meningkatkan popularitasnya yang mengalami penurunan. "Kerja sama yang dilakukan Pakistan dengan AS juga bermuka dua. Pemerintahan Presiden Asif Ali Zardari memperbolehkan AS meningkatkan jumlah serangan drone, sementara mereka mengeluhkannya di hadapan publik. Mereka memainkan bentuk politik murahan demi mendongkrak popularitasnya karena para pemilih dalam negeri sudah cukup pintar melihat kemunafikan mereka," demikian dinyatakan dalam kolom opini Wall Street Journal.
Artikel itu menyebutkan bahwa militer Pakistan juga senang bekerja sama dengan AS saat yang jadi target serangan drone adalah para anggota Taliban Pakistan yang mengincar Islamabad, tapi Pakistan kurang kooperatif jika yang jadi target adalah Taliban Afghanistan yang bermarkas di Pakistan, yang selama ini banyak dikaitkan dengan dinas intelijen negara tersebut, Inter-Services Intelligence (ISI).
Mengenai penahanan kontraktor CIA Raymond Davis selama satu bulan setengah ditambah dengan keluhan Pakistan terkait serangan drone 17 Maret lalu di Waziristan Utara yang diduga menewaskan para pemimpin suku yang mengadakan pertemuan dengan Taliban. Artikel itu mengatakan, penjelasan yang lebih bisa diterima adalah, militer Pakistan marah karena CIA tidak banyak membagi data intelijen dengan ISI.
"Dalam hal ini, pengusiran massal terhadap para personel keamanan AS betul-betul merupakan tuntutan untuk kerja sama lebih dekat. Bahkan jika cara memerolehnya ganjil. Mungkin juga pemimpin Angkatan Darat Pakistan Jenderal Ashfaq Pervez Kayani mencoba memoles citra dirinya di hadapan umum dengan melontarkan kemarahan anti-Amerika yang akan berlalu seiring berjalannya waktu," tambah media tersebut.
Namun, Wall Street Journal menambahkan, tetap saja, jika CIA tidak memercayai ISI, itu karena ISI sudah berulang kali memperlihatkan bahwa mereka tidak layak dipercaya.
"Angkatan Darat Pakistan masih belum menyetujui gagasan bahwa Afghanistan tidak hanya halaman belakang yang strategis, khususnya di bawah kendali kelompok seperti Taliban, dan mereka juga paranoid dan berhalusinasi bahwa India akan memasuki batas-batas Afghanistan untuk mengepung musuh lamanya," tambah media tersebut.
Artikel tersebut mengetengahkan bahwa pemerintah sipil Pakistan juga tidak membantu dirinya sendiri karena tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada masyarakat perihal serangan drone, yang disebut Wall Street Journal, menyerang dengan "akurasi tinggi".
"Klaim korban sipil yang jatuh amat dibesar-besarkan demi keuntungan Taliban," tambah Journal.
Dalam opini itu, juga disebutkan bahwa Islamabad harus memilih berpihak pada siapa.
Pakistan bisa memilih bekerja sama dalam perang melawan teror dan mendapat keuntungan dari aliansi dengan Amerika, atau menentang AS dan menanggung konsekuensinya, termasuk hilangnya bantuan militer, operasi khusus, dan serangan drone di kawasan perbatasan mereka. Satu lagi, aliansi militer yang semakin kuat antara AS dengan India.

Simulasi Jangka Sorong