Menteri
Luar Negeri Libya, Moussa Koussa berbicara dalam konferensi pers yang
digelar di Tripoli pada 18 Maret 2011. Koussa merupakan pejabat Libya
yang akhirnya membelot dari pemerintahan Moammar Gaddafi. (Foto:
Reuters)
WASHINGTON – Moussa Koussa, menteri luar negeri
Libya yang membelot, kabarnya telah menjalin kontak dengan otoritas
Amerika terkait berbagai isu kontraterorisme.
Mantan pejabat senior Libya tersebut menjalin kerja sama dekat dengan
Washington saat ia memimpin dinas intelijen Libya beberapa tahun yang
lalu, kata mantan agen CIA Vince Cannistraro kepada stasiun radio
terkemuka AS, NPR.
Pada hari Rabu (30/3), Koussa mengundurkan diri dari jabatan menteri
luar negeri dan membelot ke Inggris di saat pasukan pendukung Muammar
Gaddafi dan pasukan oposisi terlibat bentrok di Libya.
"Pria itu (Koussa) telah terlibat dalam banyak aktivitas buruk," kata Cannistraro.
Cannistraro ditugaskan di Italia pada akhir 1980-an saat Koussa mengepalai dinas intelijen Libya.
"Salah satunya adalah pembunuhan orang-orang buangan Libya yang
benar-benar menyingkirkan diri mereka ke Italia," kata Cannistraro.
"Saya ingat pernah diperintahkan oleh Washington untuk pergi dan
memperingatkan sebanyak mungkin orang-orang terasing yang bisa saya
temukan karena mereka menjadi target pembunuhan, dan mereka harus
meninggalkan Roma dan Milan kemudian pergi ke tempat lain, setidaknya
untuk sementara waktu."
Menurut Cannistraro, beberapa tahun kemudian dirinya juga menjadi
sasaran upaya pembunuhan. Setelah pensiun, ia menyampaikan pendapat dan
mengemukakan mengenai keterlibatan pemerintah Libya dalam pengeboman
pesawat Pan Am penerbangan 103 di atas kota Lockerbie, Skotlandia, di
tahun 1988.
"Hal itu menjadikan saya ditarget Gaddafi, dan Moussa Koussa diberi
wewenang untuk merancang upaya pembunuhan terhadap diri saya," kata
Cannistraro.
Sang mantan agen mengatakan, dirinya dipancing ke Kairo yang disebut
untuk bertemu dengan saudara ipar Gaddafi. "Tapi, saya mendapat
pemberitahuan dari dinas intelijen Mesir dan AS bahwa itu hanya jebakan
dan sebaiknya saya tidak pergi."
Akhirnya, Cannistraro tidak berangkat ke Mesir.
Cannistraro kemudian melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir
terjadi transformasi dalam hubungan antara Amerika dengan Libya. Pria
yang disebut berusaha membunuh dirinya menjadi mitra penting AS.
AS menganggap Libya sebagai ancaman teror serius pada 1980-an dan
1990-an, saat Washington mengebom Tripoli dan komunitas internasional
menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara yang terletak di bagian utara
benua Afrika itu.
Libya kembali dianggap berguna bagi Amerika setelah peristiwa 11 September 2001 di AS.
"Moussa Koussa
adalah orang yang amat cerdas, dan dia memandu kebijakan luar negeri
Libya agar selaras dengan Amerika dan Inggris, sebuah cara agar bisa
meloloskan diri dari sanksi," kata Cannistraro.
Koussa membantu meyakinkan Gaddafi agar menghentikan programnya dan
menjadikan Libya sebagai sekutu kunci AS dalam menghadapi terorisme,
menyerahkan para anggota al-Qaeda di negara itu kepada AS.
"Apa pun sejarah pribadi Moussa, baik kami (AS) dan pemerintah
Inggris mampu mengatasinya demi kepentingan nasional yang lebih luas
mengenai (senjata pemusnah massal) dan kepentingan bersama dalam upaya
memerangi al-Qaeda," tambah Cannistraro.
Koussa adalah alumnus Michigan State University pada akhir 1970-an
dan menyandang gelar di bidang sosiologi. Ia dianggap sebagai tokoh yang
bisa diajak bekerja sama oleh badan intelijen AS, CIA.