Invasi AS ke Libya Kemungkinan Besar Terwujud

Written By Juhernaidi on Sabtu, 23 April 2011 | 9:04:00 AM

Beberapa kru AU Perancis memberikan tanda kepada sebuah pesawat tempur jenis Mirage 2000 sebelum lepas landas dan menuju Libya guna melakukan serangan. (Foto: Getty Images)
TRIPOLI  – AS tengah bersiap untuk invasi darat ke Libya, yang mungkin akan memerlukan pembunuhan massal terhadap warga sipil dan sebuah perang gerilya ala Somalia, ujar seorang penulis AS. "Aku rasa kita sangat dekat dengan invasi darat yang sesungguhnya meskipun berbagai kekuatan yang terlibat membantahnya," ujar Webster Griffin Tarpley, seorang penulis dan sejarawan di Maryland pada hari Rabu (20/4).
"Kemungkinan besar, akan terjadi pembantaian terhadap warga Libya. Kemungkinan akan timbul situasi seperti Somalia dengan perang gerilya yang berlangsung," tambah Tarpley.
Dia menambahkan bahwa kehadiran marinir AS di lepas pantai Libya yang bersenjata berat dan siap beraksi adalah sebuah indikasi dari persiapan untuk invasi ke negara tersebut.
Tarpley berpendapat bahwa pemerintah Inggris dan Perancis juga membantu AS dan membuka jalan untuk invasi ke negara Afrika Utara itu.
"Inggris dan Perancis melakukannya sejak musim gugur tahun lalu," ujar Tarpley, menambahkan bahwa "Ada bukti yang sangat bagus bahwa sejumlah penasihat tempur Inggris, AS, dan Perancis tiba di Libya sekitar tanggal 23-24 Februari."
Sang penulis juga menunjukkan bahwa AS tidak memimpin perang di Libya karena rakyat Amerika muak dan lelah dengan petualangan imperialis AS.
Dia mencatat bahwa Presiden AS Barack Obama, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, dan Perdana Menteri Inggris David Cameron berusaha keras untuk menyingkirkan penguasa Libya Moammar Gaddafi untuk meningkatkan karir politik mereka.
"Seluruh logika perang ini berasal dari fakta bahwa Sarkozy, Obama, dan Cameron sekarang mempertaruhkan sikap politik mereka untuk menyingkirkan Gaddafi. Mereka membencinya seperti mantan perdana menteri Inggris Anthony Eden membenci mantan perdana menteri Mesir Jamal Abdel Nasser di tahun 1956," ujar Tarpley.
Perancis dan Inggris telah mengirimkan beberapa penasihat militer ke kota Benghazi di timur Libya dalam sebuah langkah yang diklaim bertujuan untuk membantu organisasi militer, komunikasi, dan logistik pemberontak tapi menepis kemungkinan menerjunkan pasukan darat ke negara itu.
"Perancis telah menempatkan beberapa pejabat penghubung bersama dengan utusan khusus kami ke Benghazi yang tengah melakukan misi penghubung dengan Dewan Nasional Transisional," ujar juru bicara kementerian luar negeri, Christine Fage.
Perang di Libya sejauh ini telah menewaskan sekitar 10,000 orang dan melukai 50,000 lainnya.
Angka kematian baru itu diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini pada hari Selasa (19/4) setelah mengadakan pembicaraan di Roma dengan pemimpin revolusi Libya, Mustafa Abdel Jalil.

Simulasi Jangka Sorong