Agar tidak
merugi, perlu difasilitasi. Saat ini banyak orang yang merugi karena
fasilitas hidup yang serba terbatas. Buruknya infrastruktur jalan yang
menghambat proses transportasi, merupakan salah satu faktor yang
dapat membuat pengguna jalan mengalami kerugian. Rendahnya mutu sarana
belajar siswa, dapat membuang waktu pembelajaran. Dan, banyak lagi
kerugian yang diderita masyarakat dan bangsa ini, bila tidak
memperhatikan dimensi waktu.
Mari kita menghitung kerugian yang
kita lalui setiap hari. Contoh sederhana, berapa ribu jam negeri ini
dibuat rugi setiap hari. Misalnya, di satu permukiman terdapat 2.000
rumah dengan penghuni produktif rata-rata satu orang setiap rumah.
Masing-masing setiap hari menempuh perjalanan 10 menit lebih lama
karena jalan yang dilaluinya rusak berat. Kita harus menerima kerugian
waktu sebesar 20 ribu menit pada saat berangkat, ditambah 20 ribu
menit pada saat kembali, sehingga sekitar 40 ribu menit hilang setiap
hari atau sekitar sejuta menit selama 25 hari kerja dalam sebulan.
Kita
akan rugi sekitar 17 ribu jam produktif setiap bulan, atau sekitar
204 ribu jam setiap tahun. Ini baru dari satu permukiman dengan
penduduk sekitar 2000 KK. Bayangkan di dua, tiga, empat, atau sepuluh
permukiman di suatu kota. Kita akan mengalami kerugian yang berlipat
ganda hanya karena infrastruktur jalan rusak berat. Jadi, jika
jalan-jalan di kota tidak diperbaiki, kita akan terus-menerus menuai
kerugian yang besar setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, dalam konteks
seperti ini, siapa sesungguhnya yang menjadi sumber penyebab kerugian
bangsa dan negara ini?
Untuk menghindari kerugian yang
berlipat setiap hari, perbaikan berbagai sarana dan prasarana kerja
seharusnya menjadi prioritas. Jika seorang pemimpin amanah, prioritas
program untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat akan
menjadi misi penting yang diembannya. Dengan demikian, kerugian akan
bisa dihindari.
"Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang
senantiasa saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran."