Cabut Pemerintahan Darurat, Situasi Syiria Malah Memburuk

Written By Juhernaidi on Sabtu, 23 April 2011 | 8:59:00 AM

Para pengunjuk rasa menginjak-injak poster raksasa Presiden Bashar al-Assad selama aksi unjuk rasa yang digelar di depan kedutaan Syiria di Siprus pada 22 April 2011. (Foto: AP)
DAMASKUS  – Syiria bersiap untuk lebih banyak protes di hari Jumat (22/4), satu hari setelah Presiden Bashar al Assad membuat langkah damai dengan menandatangani sebuah dekrit untuk mencabut pemerintahan darurat kejam selama lima dekade. Kelompok hak asasi manusia mengatakan demonstrasi pada hari Jumat akan menjadi ajang pembuktian bagi Assad dan reformasinya.
Bashar, yang berkuasa sejak menggantikan ayahnya Hafez sebagai presiden di tahun 2000, mengeluarkan perintah untuk mencabut keadaan darurat dan menghapus pengadilan keamanan negara dan mengijinkan warga negara untuk mengadakan demonstrasi damai.
Pengumuman itu disampaikan melalui televisi pemerintah.
Langkah tersebut bertujuan untuk menenangkan protes yang telah berlangsung selama satu bulan lebih di seluruh penjuru negeri.
Dua aktivis hak asasi terkemuka menyambut langkah Assad tapi menyerukan untuk lebih banyak perubahan sementara seorang aktivis dunia maya bersikukuh bahwa rakyat sekarang menginginkan perubahan rezim.
"Mencabut pemerintahan darurat dan menghapus pengadilan keamanan negara adalah langkah positif tapi dalam beberapa hari ke depan kami akan mengawasi ketat pasukan keamanan untuk melihat apakah mereka melanggar hukum," ujar Rami Abdul Rahman dari Pengawas HAM Syiria yang berbasis di London.
"Sekarang kami mengharapkan dibebaskannya ribuan orang yang telah ditahan oleh pengadilan keamanan negara," ujarnya.
Pengacara HAM Haitham Maleh memperbarui seruan untuk mencabut sebuah pasal dalam konstitusi yang merujuk pada Baath sebagai pemimpin tunggal negara dan masyarakat Syiria, dan mengatakan bahwa Hukum 49, di mana anggota Ikhwanul Muslimin bisa dihukum mati, juga harus dihapus.
Sementara itu, aktivis dunia maya Syiria yang berada di Beirut, Malath Omran, pemain kunci di balik aksi protes, mengatakan bahwa mengakhiri pemerintahan darurat tidak akan mengubah apa-apa di Syiria, di mana rakyat sekarang menginginkan perubahan rezim.
"Sejak hari pertama orang-orang turun ke jalan dengan satu tujuan, kejatuhan rezim," ujar Omran.
Menteri luar negeri Jerman Guido Westerwelle menyambut pencabutan keadaan darurat oleh Assad sebagai langkah pertama dalam arah yang benar tapi memperingatkan bahwa itu harus disertai dengan reformasi politik yang cepat dan diakhirinya kekerasan.
Juru bicara departemen luar negeri AS Mark Toner sependapat, menyatakan bahwa Assad harus berbuat lebih jauh, atau membiarkan lainnya untuk berbuat lebih jauh jika dia ingin memenuhi tuntutan reformasi dari rakyat Syiria.
Rezim Assad telah menawarkan serangkaian konsesi pada gerakan pro-demokrasi sejak protes pertama di Damaskus tanggal 15 Maret, tapi para demonstran tidak gentar, menekan untuk kebebasan yang lebih besar.

Simulasi Jangka Sorong