Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan pesawat drone Amerika
telah melakukan misi pertama mereka di Libya pada Kamis kemarin (21/4),
Associated Press melaporkan.
Gates mengatakan pesawat tak berawak predator adalah contoh dari
kemampuan militer yang AS bisa berkontribusi untuk kampanye militer yang
dipimpin NATO di Libya.
Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Marinir James Cartwright
mengatakan bahwa pesawat predator akan memungkinkan NATO menyerang
target yang sudah mulai meningkatkan kemampun diri menjadi posisi
defensif.
Ia juga menambahkan bahwa pesawat drone sangat cocok untuk daerah
perkotaan karena kemampuan mereka untuk meminimalkan "kerusakan" dan
mampu terbang sepanjang hari, sehingga memberi pesawat itu kemampuan
menyerang target.
AS berencana untuk mempertahankan setidaknya dua pesawat drone
predator secara terus menerus di wilayah udara Libya, di mana pesawat
itu membawa rudal Hellfire dan dapat mengudara selama 24 jam.
"Kami berusaha untuk menyediakan ruang yang cukup, dan melindungi
oposisi dari serangan militer Gaddafi sejauh yang kami bisa, tanpa
mengurangi kemampuan militer," tambah Gates.
AS telah menggunakan pesawat tak berawak untuk melakukan serangan di
wilayah kesukuan Pakistan, di dekat perbatasan dengan Afghanistan.
Washington mengklaim serangan menargetkan pejuang Taliban, namun
sebagian besar korban adalah warga sipil.